<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925</id><updated>2011-10-04T11:33:06.859-07:00</updated><category term='Keislaman'/><category term='Otobiografi'/><category term='Realitas'/><category term='Humor'/><category term='Peduli Keseharian'/><category term='Kenegaraan'/><category term='Refleksi'/><category term='Peduli Lingkungan'/><title type='text'>Achmad Marzoeki</title><subtitle type='html'>Lahir di Kebumen, 25 April 1968. Bungsu dari 7 bersaudara keluarga Achmad Moetawalli (alm). 
Mantan aktifis PII (Pelajar Islam Indonesia) 1985 s.d. 2000, sekarang masih aktif di GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia).</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-8840620775670054537</id><published>2011-06-15T21:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-15T21:39:11.487-07:00</updated><title type='text'>Pemberdayaan Masyarakat Pasca Bencana Berbasis Masjid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-04JT5-WtI3k/TfmIsj7Gh_I/AAAAAAAAAJg/NVVpA--ihaw/s1600/Pemberdayaan%2BPasca%2BBencana.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-04JT5-WtI3k/TfmIsj7Gh_I/AAAAAAAAAJg/NVVpA--ihaw/s320/Pemberdayaan%2BPasca%2BBencana.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5618672309260158962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap kali bencana menimpa suatu daerah, ada saja keajaiban terjadi. Baik pada peristiwa bencana banjir maupun gempa, sering dijumpai bangunan masjid tetap utuh di tengah-tengah bangunan lain yang sudah runtuh. Ketika musibah gempa dan tsunami melanda sebagian wilayah Aceh, 24 Desember 2004, Masjid Baiturrahman Banda Aceh dengan kokohnya tetap berdiri di tengah reruntuhan bangunan di sekelilingnya. Demikian juga di kota Meulaboh, salah satu kota yang mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami tersebut. Di tengah beragam bangunan yang runtuh, beberapa masjid di berbagai sudut kota Meulaboh tetap berdiri kukuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak jauh dari Jakarta, bencana tsunami kecil pernah terjadi. Tanggul Situ Gintung yang terletak di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan jebol pada Jumat, 27 Maret 2009. Masjid Jabalur Rahman yang berada sekitar 50 meter dari tanggul Situ Gintung tetap berdiri utuh, padahal sebagian besar bangunan di sekitarnya lenyap atau rusak berat diterjang air bah dari danau itu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keajaiban serupa juga terjadi di Haiti saat diguncang gempa pada 12 Januari 2010. Gempa dengan kekuatan 7 Skala Richter yang berpusat 16 km dari ibukota Haiti, Port-au-Prince, seperti tak mampu menyentuh Masjid Al-Tawhid. Akhirnya masjid tersebut kemudian menjadi tempat penampungan sementara bagi para pengungsi korban gempa, baik muslim maupun non muslim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fenomena keajaiban di setiap bencana, bisa menjadi inspirasi bagi kita, bagaimana seharusnya mengantisipasi bencana alam, baik sebelum maupun sesudah terjadi. Setiap kali membangun permukiman, terlebih di daerah yang rawan bencana, tidak boleh tidak harus ada masjid di dalamnya. Ketika daerah kita mengalami bencana, masjid merupakan tempat pertama yang harus kita cari. Demikian juga ketika kita hendak membantu masyarakat yang terkena bencana, masjid pula yang harus didatangi. Prinsip ini mungkin sulit untuk dijelaskan dengan logika, sama seperti fenomena keajaiban di setiap bencana, meski tidak logis tapi realistis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemberdayaan pasca bencana&lt;br /&gt;Walau harus diakui tingginya solidaritas masyarakat Indonesia setiap kali bencana menimpa suatu daerah, sehingga spontan banyak pihak segera mengulurkan bantuan, baik tenaga, dana maupun bahan-bahan kebutuhan pokok. Namun kalau tidak diimbangi konsep penanganan pasca bencana yang jelas, solidaritas ini bisa menjelma menjadi sekadar wisata sosial atau unjuk kepedulian kelompok-kelompok politik. Beberapa permasalahan jangka pendek yang dialami para korban bencana memang teratasi dengan aliran bantuan dana dan bahan-bahan kebutuhan pokok, akan tetapi masih belum mampu memulihkan kehidupan masyarakat agar kembali seperti semula.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itu penanganan korban bencana harus dilakukan dengan spirit pemberdayaan. Bukan sekadar membantu pemenuhan kebutuhan primer, tapi sekaligus juga memulihkan semangat dan kemampuan beraktivitas, baik dalam bidang pendidikan, sosial maupun eknonomi. Paling tidak menghindarkan mereka memiliki mentalitas abadi sebagai korban yang layak dimaklumi, dikasihani, dibantu, enggan bekerja keras, apalagi berkompetisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak hanya infrastruktur daerah yang perlu dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, dalam konteks pemberdayaan, korban bencana juga memerlukan langkah serupa. Akibat langsung dari bencana, korban pasti akan mengalami luka secara fisik maupun psikis. Keduanya sama-sama memerlukan penyembuhan agar fisik dan psikisnya bisa pulih kembali. Penyembuhan secara fisik relatif lebih mudah, karena luka fisik juga lebih mudah dilihat dan dideteksi. Berbeda dengan luka psikis, baik mendeteksi maupun menanganinya memerlukan langkah yang tidak sederhana. Korban bencana banjir, mungkin saja akan lari ketakutan setiap kali mendengar dan melihat derasnya air mengalir. Perlu waktu dan penanganan khusus untuk membuatnya kembali terbiasa dengan aktivitas alam seperti itu. Demikian juga korban gempa, melihat benda yang bergoyang bisa langsung lari ketakutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang, tidak semua korban bencana mengalami gejala demikian. Tapi tidak berarti yang tidak menunjukkan gejala demikian lantas terbebas dari luka psikis. Karena dampak psikis akibat bencana tidak selalu muncul seketika, bisa saja gejalanya muncul dalam jangka waktu lama. Tingkat kesulitan penyembuhan luka psikis di Indonesia bisa jadi lebih tinggi, karena masyarakatnya masih jarang yang mengikuti pelatihan siaga bencana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah selanjutnya yang juga perlu dilakukan adalah membangkitkan kembali semangat dan kemampuan beraktivitas. Bencana yang terjadi menjelang panen bisa menghancurkan semangat petani untuk kembali mengarap lahannya. Demikian juga dengan kerusakan fasilitas usaha yang lain, bisa meruntuhkan motivasi berusaha para korban bencana. Bagi pelajar, bencana yang terjadi dapat mengganggu motivasi belajarnya. Hanya saja, sampai saat ini belum ada yang mencoba melakukan penelitian tentang pengaruh bencana misalnya terhadap tingkat motivasi berusaha korban, keinginan untuk alih profesi atau motivasi dan prestasi pelajar dalam menempuh pendidikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masjid sebagai basis&lt;br /&gt;Berdasarkan fenomena selamatnya bangunan masjid dalam berbagai bencana yang terjadi, sudah selayaknya menjadikan masjid sebagai basis dalam penanganan korban bencana. Selain ketersediaan bangunan yang masih memungkinkan didesain untuk beragam keperluan, aktivitas keagamaan di masjid juga bisa disinergikan dengan upaya pemulihan mental korban bencana. Dengan menjadikan masjid sebagai basis, setidaknya dalam jangka waktu seminggu, sudah bisa terbentuk komunitas baru pasca bencana. Sebab bisa dipastikan, korban bencana yang mengungsi ke mana pun, pada akhirnya di hari Jum’at akan mencari tempat yang bisa digunakan untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at.&lt;br /&gt;Dalam perspektif ajaran Islam, bencana alam memiliki 2 dimensi, sebagai musibah untuk menguji kesabaran atau azab karena sebagian masyarakat dari daerah yang ditimpa bencana banyak mengabaikan perintah dan melanggar larangan Allah SWT. Muara dari kedua dimensi tersebut sama, menyadari besarnya kekuasaan Allah SWT, introspeksi terhadap semua perbuatan di masa lalu diiringi permohonan ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan, meningkatkan pelaksanaan ibadah mahdhoh, memperbanyak dzikir dan do’a. Semua aktivitas ini akan lebih khusuk apabila dilaksanakan di masjid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masjid juga mendorong tumbuhnya suasana egaliter, lazimnya prinsip yang diterapkan dalam shalat berjama’ah. Relawan bisa menyatu dalam kehidupan sehari-hari bersama korban dari manapun asalnya. Hal ini memudahkan semua korban terlayani dengan baik tanpa membedakan status sebelumnya. Keluhan yang hampir selalu terjadi di setiap bencana, adalah distribusi bantuan yang tidak merata sehingga menimbulkan kecemburuan sosial di antara para korban.&lt;br /&gt;Menjadikan masjid sebagai basis pemberdayaan masyarakat pasca gempa sekaligus merupakan upaya reaktualisasi fungsi masjid dalam konteks sejarah. Ketika dulu kota Mekkah tidak lagi kondusif bagi kehidupan umat Islam, hijrah dilakukan Rasulullah SAW bersama para sahabat ke Madinah. Masjid menjadi bangunan yang mula-mula didirikan, tak hanya untuk tempat shalat tapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat Islam. Interaksi yang intensif dan saling berbagi terjadi antara kaum Muhajirn (pengikut hijrah dari Mekkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah). Hasilnya umat Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti kaum kafir Quraisy di Mekkah. Harapan seperti itu layak ditumpukan pada pemberdayaan masyarakat pasca bencana yang berbasis masjid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Majalah Motivasi &amp; Inspirasi KHAlifah, Edisi 35, Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-8840620775670054537?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/8840620775670054537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=8840620775670054537&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8840620775670054537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8840620775670054537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2011/06/pemberdayaan-masyarakat-pasca-bencana.html' title='Pemberdayaan Masyarakat Pasca Bencana Berbasis Masjid'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-04JT5-WtI3k/TfmIsj7Gh_I/AAAAAAAAAJg/NVVpA--ihaw/s72-c/Pemberdayaan%2BPasca%2BBencana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1187742213521829398</id><published>2011-03-17T07:18:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T07:22:07.926-07:00</updated><title type='text'>Satukan Kembali Gerakan Memberdayakan Ekonomi Rakyat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Qq0kM-WJVdI/TYIY7WfjmVI/AAAAAAAAAJU/bIp-Rh7sJ4c/s1600/190464_1606003671273_1271604463_31323488_5245783_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Qq0kM-WJVdI/TYIY7WfjmVI/AAAAAAAAAJU/bIp-Rh7sJ4c/s320/190464_1606003671273_1271604463_31323488_5245783_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585053895822121298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu Fisika, daya diartikan sebagai energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha per satuan waktu. Mengacu pada konsep tersebut, substansi pemberdayaan ekonomi rakyat semestinya adalah membangkitkan energi rakyat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Karena melakukan aktivitas ekonomi pada dasarnya merupakan naluri setiap orang dan energi untuk itu juga sebenarnya dimiliki. Hanya karena masih bersifat potensi ketika belum diwujudkan energi tersebut menjadi tidak termanfaatkan. Sekadar memberi bantuan modal, pelatihan manajemen usaha atau memberikan akses pasar tanpa mampu menyulut sumber energi potensial tersebut, pemberdayaan ekonomi rakyat dipastikan tak akan memberi hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat sudah lama bergulir, baik yang dilakukan berbagai instansi pemerintah maupun LSM dan semakin dikuatkan dengan adanya UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), hasilnya masih belum sesuai harapan. Indikasinya mudah, baik dari fakta lapangan maupun data statistik. Fakta lapangan memperlihatkan setiap kali seleksi CPNS selalu diserbu pendaftar. Data seleksi CPNS tahun 2010 di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai contoh, dari 314 formasi yang ada, pelamar yang mendaftar sebanyak 33.619 orang. Jadi setiap formasi diperebutkan oleh hampir 110 orang pelamar. Demikian pula ketika diadakan Job Fair, sudah pasti akan diserbu pencari kerja. Kalau mau membandingkan jumlah pengunjung dari berbagai even pameran, hampir bisa dipastikan Job Fair akan menduduki papan atas dalam merekrut jumlah pengunjung. Sebaliknya, pameran-pameran UMKM, hanya sedikit mengundang minat pengunjung, terlebih dari kalangan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas tersebut menunjukkan regenerasi pekerja jauh lebih berhasil dibandingkan regenerasi wirausaha. Para pelamar CPNS maupun perusahaan swasta, tidak hanya berasal dari keluarga PNS dan pekerja, tapi juga dari keluarga-keluarga petani, pedagang, pengusaha kecil dan wirausaha pada umumnya. Mereka lebih memilih menjadi pekerja, tidak tertarik menjadi majikan dengan melanjutkan usaha orang tuanya atau membuka usaha baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan anaknya menjadi PNS, apalagi di instansi yang “basah” atau menjadi pekerja dari perusahaan swasta, apalagi perusahaan multi nasional, tak hanya dimiliki orang tua berlatar belakang PNS atau pekerja swasta, melainkan sudah merambah juga kepada orang tua berlatar belakang petani, pedagang, pengusaha kecil sampai wirausaha yang sukses sekalipun. Sehingga program pemberdayaan ekonomi rakyat baru menyentuh individu pelaku usaha, belum sampai pada keluarganya. Dalam perspektif pemberdayaan ekonomi rakyat, tentu tidak ada artinya keberhasilan seseorang menjadi wirausaha apabila tidak mampu mewariskan semangat berwirausaha kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reorientasi pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan formal dan non formal, baik negeri maupun swasta, ikut memberikan kontribusi bagi kegagalan pemberdayaan ekonomi rakyat, karena mereka hanya bisa memproduksi pencari kerja bukan pelaku usaha. Bahkan dengan bangga banyak lembaga pendidikan yang mengusung slogan “menghasilkan tenaga siap pakai” atau memberikan “jaminan penempatan” bagi alumninya. Sepertinya, tak ada satupun lembaga pendidikan yang dengan bangga mengusung slogan “menghasilkan calon wirausaha sukses”. Tak heran bila seorang Magister Manajemen Perusahaan sekalipun, lebih memilih untuk menjadi pengelola perusahaan orang lain ketimbang perusahaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi tersebut menjadi semakin memprihatinkan karena amanah UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mewajibkan APBN dan APBD mengalokasikan 20 % anggarannya untuk dana pendidikan di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan. Ketentuan UU dan realitas dunia pendidikan yang hanya menghasilkan pencari kerja, mendorong sirkulasi APBN dan APBD lebih mendekatkan Indonesia sebagai sebuah negara yang gagal (failure state) daripada negera kesejahteraan (welfare state). Karena 20 % anggaran wajib digunakan untuk menghasilkan pencari kerja, padahal 80 % sisanya tidak otomatis bisa membuka lapangan kerja yang bisa menampung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu orientasi dunia pendidikan perlu direvisi, agar bisa mendukung program pemberdayaan ekonomi rakyat. Termasuk orientasi orang tua dalam mengikutsertakan anak menjadi peserta didik. Umumnya investasi biaya pendidikan anak yang dikeluarkan orang tua dengan harapan anaknya bisa memasuki dunia kerja, bukan dunia usaha. Akibatnya anak pun ketika mengikuti pendidikan lebih berorientasi mendapatkan ijazah yang bisa digunakan untuk melamar kerja, bukan memiliki kemampuan yang digunakan untuk membuka usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan orientasi akan membuat dua orang sarjana dengan jurusan yang sama, menempuh jalan hidup yang berbeda. Seorang akuntan yang berorientasi pekerja, begitu lulus akan segera mengajukan lamaran ke perusahaan-perusahaan bonafid yang diinginkannya. Sementara yang berorientasi wirausaha, akan mencoba menghitung-hitung cash flow produk apa yang akan dijadikan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan orientasi bisa dimulai dari yang sederhana. Pertanyaan “kerja di mana ?” yang sering terlontar diantara kita dalam pergaulan sehari-hari perlu diubah menjadi “punya usaha di bidang apa ?” Bekerja di instansi yang “basah” atau perusahaan bonafid sekalipun tidak bisa menjadi jawaban yang membanggakan dari pertanyaan tersebut. Karena jawabannya akan mengundang tanggapan, “Oh, masih menjadi pekerja belum jadi pengusaha !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Cukup Hanya Kail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan beri ikan, tapi beri kailnya” slogan pemberdayaan ekonomi rakyat di masa lalu juga perlu diganti karena sudah usang. Hanya memberi kail tak cukup untuk membuat orang bisa mendapatkan ikan, kalau tidak ada empang, sungai, danau atau laut tempat mengail. Lagi pula dengan kail, ikan yang didapatkan tidak seberapa, hanya cukup dimakan 1-2 hari. Jika kail merupakan sarana produksi jelas tidak efektif dan efisien, hanya sebatas menjaga kelangsungan hidup alat produksi tidak bisa meningkatkan kesejahteraan pemiliknya. Karena itu pemberdayaan ekonomi rakyat harus bisa mendorong rakyat memiliki sarana produksi yang tingkat produktivitasnya lebih dari sekadar kail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sarana produksi, yang mutlak diperlukan adalah pasar yang sehat, tidak dikuasai kartel atau dimonopoli perusahaan tertentu. Produktivitas tinggi tak akan berarti, bila produknya tak bisa menembus pasar dengan harga yang layak. Turunnya minat bertani, antara lain juga bisa karena faktor tersebut. Meskipun beberapa waktu lalu harga cabai melonjak tajam, bukan berarti petani cabai lantas menangguk untung besar. Apalagi tak lama kemudian cabai impor dengan harga lebih murah justru menyerbu pasar. Sehingga tanda tanya layak dimunculkan, jangan-jangan harga cabai sengaja dibuat naik, agar kran impor cabai dibuka. Demikian juga dengan produk-produk pertanian lain seperti kedelai. Sementara kesulitan petani untuk mendapatkan pupuk saat diperlukan, belum kunjung teratasi. Akibatnya biaya produksi tinggi membuat harga jual produk pertanian lokal ke pasar bisa lebih mahal dari produk impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai regulator, pemerintah perlu cermat membaca gejolak pasar dan mengantisipasinya, jika serius memberdayakan ekonomi rakyat. Selama ini pemerintah baru sebatas membuat regulasi, namun lemah dalam mengeksekusi pelaksanaannya. Sudah ada UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang kemudian diikuti dengan pembentukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), namun praktek monopoli, khususnya dari pemilik modal besar masih menjadi pemandangan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 yang mengatur Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, seperti hanya menjadi macan kertas. Umumnya pasar modern justru berdiri di dekat pasar tradisional. Kalaupun ijin pasar modern sudah diberikan sebelum Permendag tersebut dikeluarkan, maka semestinya ijinnya harus ditinjau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di DKI Jakarta, ekspansi pemilik modal besar usaha ritel membuat beberapa pasar tradisional terpaksa ditutup karena sudah sepi pembeli. Warung-warung di perkampungan juga mulai kalah bersaing dengan serbuan mini market. Padahal sudah ada Instruksi Gubernur Nomor 121 Tahun 2006 tentang Penundaan Perizinan Mini Market di Provinsi DKI Jakarta. Kenyataannya mini market masih bertumbuhan di pinggir-pinggir gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini dikeluhkan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia, Ngadiran. Karena ujung-ujungnya pasar tradisional yang menjadi tempat kulakan para pemilik warung, ikut terkena dampaknya. Jika tiga tahun lalu, mereka belanja ke pasar tradisional paling tidak tiga kali seminggu senilai Rp500 ribu-Rp1 juta. Sekarang umumnya mereka hanya belanja sekali seminggu dengan nilai tidak sampai Rp500 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi berusaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana produksi dan pasar yang sehat merupakan instrumen eksternal bagi rakyat untuk melakukan aktivitas ekonomi. Karena sifatnya eksternal akibatnya juga hanya bisa mempengaruhi, tidak bisa menjadi penyebab. Sehingga membangkitkan motivasi rakyat untuk berusaha merupakan langkah yang sangat menentukan. Tanpa motivasi yang kuat,  sarana produksi dan pasar yang sehat tidak akan memacu produktivitas perekonomian rakyat. Sebagaimana pernah dibuktikan David Mc Clelland dalam penelitiannya di India tahun 1971, yang melahirkan teorinya tentang Need for Achievement (kebutuhan untuk berprestasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu program pemberdayaan ekonomi rakyat memang perlu diintegrasikan kembali agar saling mendukung dan menunjang tumbuhnya motivasi berusaha. Ketika masing-masing program berjalan sendiri-sendiri sangat sulit diharapkan akan berhasil. Harus diakui program-program seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), bantuan mpermodalan melalui dana bergulir, pelatihan manajemen usaha dan program lain yang sudah berjalan semuanya memberi manfaat, namun hanya sesaat dan belum mampu mewujudkan tujuan pemberdayaan ekonomi rakyat. Karena kalau pemberdayaan ekonomi rakyat sudah terwujud, jangankan keluarga wirausaha, keluarga PNS dan pekerja sekalipun akan mendorong anak-anaknya untuk lebih memilih membuka usaha daripada melamar kerja. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi &amp; Inspirasi KHAlifah, Edisi 32, Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1187742213521829398?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1187742213521829398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1187742213521829398&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1187742213521829398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1187742213521829398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2011/03/satukan-kembali-gerakan-memberdayakan.html' title='Satukan Kembali Gerakan Memberdayakan Ekonomi Rakyat'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Qq0kM-WJVdI/TYIY7WfjmVI/AAAAAAAAAJU/bIp-Rh7sJ4c/s72-c/190464_1606003671273_1271604463_31323488_5245783_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-5260692566881343627</id><published>2011-02-09T04:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T04:18:12.851-08:00</updated><title type='text'>Pesan Untuk Pemimpin Formal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TVKF6lHuAUI/AAAAAAAAAJM/hp8vniwN4h8/s1600/181567_1561727884406_1271604463_31251998_2012962_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 241px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TVKF6lHuAUI/AAAAAAAAAJM/hp8vniwN4h8/s320/181567_1561727884406_1271604463_31251998_2012962_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571662930454118722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Persepsi masyarakat tentang figur pemimpin antara lain bisa diindikasikan dari hasil pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). Karena sejak tahun 2005 pasangan kepala daerah-wakil kepala daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, dipilih langsung oleh masyarakat, sama dengan pemilihan presiden. Dari sejumlah hasil pemilukada yang sangat fenomenal, dua pemilukada di tahun 2010 layak untuk menjadi catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pemilihan Gubernur Bengkulu, 3 Juli 2010, pemenangnya pasangan Agusrin Maryono Najamudin-Junaidi Hamzah yang diusung Partai Demokrat dan PAN. Padahal saat itu posisi Agusrin sudah menjadi tersangka korupsi dana bagi hasil pajak bumi dan bangunan (PBB) Provinsi Bengkulu senilai Rp20,1 miliar. Namun pasangan ini berhasil meraih suara 269,812 (31,67 %) mengalahkan empat pasangan calon lainnya, yakni Imron Rosyadi-Rosihan Trivianto (Partai Golkar), Sudirman Ail-Dani Hamdani (PKS dan PKPI), Rosihan Arsyad-Rudi Irawan (PDI Perjuangan, PKB, PPD, PPP, dan Hanura) dan Sudoto-Ibrahim Saragih dari jalur perseorangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, pemilihan Walikota Tomohon, 3 Agustus 2010, pemenangnya pasangan Jefferson Rumajar SE-Jimmy Eman (J2) yang diusung Partai Golkar. Padahal saat pemilihan berlangsung Jefferson sudah ditahan KPK karena menjadi terdakwa dalam kasus korupsi APBD Tomohon periode 2006-2008 senilai Rp33,4 miliar. Status ini tak menghalangi pasangan J2 untuk memenangkan pemilihan dengan meraih dukungan 37 %, menyisihkan 3 pasangan lainnya, yakni Syeni Watoelangkow-Jimmy Mewengkan (Partai Demokrat dan PDIP), Jefry Motoh-John Mambu (gabungan parpol) dan Carol Senduk-Agus Paat dari jalur perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain berdasarkan data yang dihimpun ICW dalam kurun waktu 2004-2010 menunjukkan ada 147 kepala daerah/wakil kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Rinciannya, 18 gubernur, 17 walikota, 84 bupati, 1 wakil gubernur, 19 wakil bupati dan 8 wakil walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta tersebut menunjukkan dengan jelas bagaimana persepsi masyarakat dalam memilih pemimpin sekaligus persepsi umumnya calon agar bisa terpilih menjadi pemimpin. Ekstremnya, siapa yang mau dan mampu membeli suara itulah yang akan dipilih masyarakat dan memenangkan pemilukada. Padahal pada akhirnya dana untuk membeli suara seringkali diambil juga dari dana publik (APBD-APBN) dengan berbagai cara. Akibat selanjutnya pelaksanaan pembangunan menurun baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga harapan akan peningkatan  kesejahteraan masyarakat juga kian jauh dari jangkauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin dalam pemilihan presiden, persepsi seperti itu pula yang digunakan masyarakat dalam menentukan pilihan. Masa depan bangsa ini akan sangat memprihatinkan kalau persepsi ini tak kunjung berubah. Karena pemimpin yang kemudian terpilih, baik di tingkat lokal maupun nasional tidak mampu mengemban amanah kepemimpinan, hanya seolah-olah memimpin tapi tidak sungguh-sungguh memimpin. Hanya pemimpin dalam status formal, tapi bukan pemimpin dalam realitas kehidupan. Dan yang pasti kasus korupsi tidak akan pernah berkurang, hanya berganti pelaku seiring terjadinya pergantian pemegang tampuk kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sebagai motor&lt;br /&gt;Sebelum kehidupan bangsa ini kian terpuruk, penyamaan persepsi tentang karakter dasar seorang pemimpin kian mendesak untuk dilakukan. Minimal untuk mengurangi kesenjangan antara figur pemimpin secara teoritis dengan persepsi masyarakat selaku pemilih. Karena pada akhirnya persepsi masyarakat yang benar, bisa menjadi penyeleksi yang efektif dalam setiap proses pemilihan pemimpin, baik di tingkat nasional maupun lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter paling mendasar yang perlu dimiliki seorang pemimpin adalah bisa menjadi motor penggerak kegiatan semua lapisan masyarakat. Sebagai motor seorang pemimpin harus mampu menggerakkan sekaligus mengarahkan orang yang dipimpinnya untuk bekerja mewujudkan tujuan bersama. Pemimpin bukan artis yang menjadi hiburan dan tontonan penuh kekaguman dari penggemarnya. Pemimpin adalah inspirator bagi rakyatnya untuk bekerja dan berusaha meraih yang terbaik, bukan inspirator untuk melamun atau mengkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa menjadi motor, seorang pemimpin harus berani tampil ke depan untuk memberi tauladan dalam bersikap, bertindak dan bekerja. Keteladanannya akan menjadi sumber energi bagi rakyatnya yang beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Pemimpin harus bisa memahami dan mempelajari keragaman tersebut agar bisa mengelolannya untuk menghasilkan sinergi. Tidak semata-mata mengakui perbedaan tapi kemudian hanya membiarkan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dalam bersikap dan bertindak dari seorang pemimpin akan mendorong adanya kepastian hukum sekaligus memberi pembelajaran kepada masyarakat. Setiap orang menjadi tahu apa saja yang bisa dan boleh dilakukan. Masyarakat juga akan tahu, apa yang bisa didapat dengan melakukan sesuatu yang boleh dan apa resikonya bila melakukan sesuatu yang tidak boleh. Sebaliknya, jika pemimpin tidak memiliki keberanian seperti itu, maka berlakunya hukum rimba di tengah masyarakat tinggal menunggu waktu. Kebenaran ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuatan, apapun bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dalam bekerja akan menjadi pemicu semangat masyarakatnya untuk lebih giat bekerja. Masyarakat yang sehat mentalnya tentu akan merasa malu untuk bermalas-malasan melihat pemimpinnya bekerja keras setiap harinya. Bila pemimpinnya sendiri malas bekerja, sulit diharapkan masyarakat akan rajin bekerja. Bisa jadi yang tertanam dalam  masyarakat adalah pemikiran bahwa “Rajin bekerja hanya membuat seseorang menjadi bawahan. Lebih baik bermalas-malasan agar bisa menjadi pemimpin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sebagai motivator&lt;br /&gt;Menjadi motor saja belum cukup, pemimpin juga harus bisa menjadi motivator yang mampu membangkitkan semangat orang yang dipimpinnya dalam menghadapi berbagai masalah agar terus bekerja sampai tujuan bersama bisa diraih. Sudah banyak orang yang mau bekerja, tapi masih sedikit yang memiliki kejelasan arah dalam bekerja. Masih lebih banyak yang bekerja hanya karena memiliki tenaga. Akibatnya ketika muncul permasalahan terkait dengan apa yang dikerjakannya kemudian ditinggalkan begitu saja, beralih ke pekerjaan lain yang dianggapnya tidak menghadapkannya pada masalah. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka semakin banyak orang yang bekerja sia-sia, tidak menghasilkan apa-apa selain membuang-buang energi dan melahirkan rasa putus asa. Merasa sudah bekerja keras tapi perubahan yang diharapkannya tidak pernah menjadi nyata. Atau merasa apa yang menjadi tujuannya tidak mungkin bisa diwujudkan, karena berbagai kendala dan masalah yang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti itulah figur pemimpin yang bisa menjadi motivator diperlukan. Kalau tidak bisa memotivasi, tentulah Panglima Tentara Muslim Thariq bin Ziad tidak mampu memimpin prajuritnya menaklukan Spanyol. Karena mayoritas tentaranya sudah kehilangan semangat, merasa tidak mampu lagi berperang. Namun keberanian bertindak dan kemampuannya membakar semangat membuat para tentaranya bangkit kembali motivasinya sehingga bisa berjuang bahu membahu untuk merebut Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi motivasi yang paling sederhana adalah dengan mendengarkan, mendatangi dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan orang lain. Karena itu pemimpin yang baik adalah mau mendengarkan, bukan minta didengarkan. Mau mendatangi, bukan menunggu disowani. Mau memberikan pujian, bukan berharap sanjungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemimpin pemerintahan, selain harus bisa menjadi motivator bagi masyarakatnya juga harus mampu mengkondisikan hirarki dalam birokrasi menjadi rantai motivator peningkatan kinerja. Sehingga pejabat-pejabat di lingkungan pemerintahan yang dipimpinnya, secara berjenjang mampu menjadi motivator bagi bawahan yang dipimpinnya. Demikian seterusnya sampai pegawai di level paling bawah. Jadi kebalikan dari yang banyak terjadi di kalangan birokrasi dewasa ini, bawahanlah yang seringkali harus cari muka kepada atasannya agar perjalanan karirnya lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan adalah pilihan tindakan, baik secara individu maupun kolektif. Tapi perubahan kolektif sudah pasti akan bermula dari perubahan individu. Selagi kita masih memiliki hak memilih pemimpin, harus bisa dimanfaatkan untuk melakukan perubahan. Yang paling sederhana, jangan memilih seseorang menjadi pemimpin hanya karena pengaruh lembaran uang yang dibagikan tim suksesnya. Kalau hal itu masih saja dilakukan, bersiaplah untuk terus menghadapi berbagai kesemrawutan dalam pengelolaan pemerintahan, akibat kekuasaan tidak diamanahkan kepada orang yang tepat. Wallahu a’lam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi &amp; Inspirasi KHAlifah, Edisi 31, Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-5260692566881343627?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/5260692566881343627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=5260692566881343627&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5260692566881343627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5260692566881343627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2011/02/pesan-untuk-pemimpin-formal.html' title='Pesan Untuk Pemimpin Formal'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TVKF6lHuAUI/AAAAAAAAAJM/hp8vniwN4h8/s72-c/181567_1561727884406_1271604463_31251998_2012962_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7425786996592248903</id><published>2011-01-07T01:23:00.001-08:00</published><updated>2011-01-07T01:31:39.910-08:00</updated><title type='text'>Memotivasi Kebangkitan Seni Teater Kebumen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbc4yq7fiI/AAAAAAAAAJA/iaRAdaXrdfk/s1600/Memotivasi%2BKebangkitan%2BTeater%2BKebumen.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 143px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbc4yq7fiI/AAAAAAAAAJA/iaRAdaXrdfk/s320/Memotivasi%2BKebangkitan%2BTeater%2BKebumen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559373658268073506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme masyarakat untuk berkesenian, khususnya seni teater, sebenarnya cukup besar di Kebumen. Hal ini bisa dilihat dari bermunculannya kelompok dan komunitas teater, baik di lingkungan sekolah, perguruan tinggi maupun umum. Wadah bagi para pegiat teater juga sudah ada, yakni Forum Pekerja Seni Teater (FOPSET) Kebumen yang dirintis anggota Sanggar Ilir Imakta (Ikatan Mahasiswa Kebumen di Jogjakarta) seperti Anto Batossae dan Putut AS dengan dukungan dari pegiat teater Kebumen Sahid El Kobar (Teater Gerak STAINU). Kendala utama terletak pada tiadanya tempat yang representatif untuk mementaskan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Kebumen yang mengusung slogan Beriman (Bersih, Indah dan Manfaat) sampai saat ini belum memiliki gedung kesenian atau sejenisnya. Karena itu agar bisa menghadirkan panggung yang bisa memenuhi tuntutan artistik dan efek pencahayaan bagi sebuah pementasan teater, gedung yang dijadikan tempat pertunjukkan dindingnya mesti ditutup dengan kain hitam. Dan lagi-lagi fasilitas seperti ini juga belum semuanya ada di Kebumen. Alhasil setiap kali membuat pementasan teater mesti meminjam peralatan dan perlengkapan panggung sampai ke Purworejo dan bahkan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala ini tak menyurutkan langkah FOPSET untuk menghadirkan media berekspresi bagi komunitas teater yang ada di Kebumen. Gelar Panggung Teater (GPT) digagas Fopset sebagai sarana unjuk kemampuan para pekerja teater Kebumen dan sekitarnya. Yang sudah dilaksanakan dua kali, yakni 9-10 Januari tahun 2009 di Aula SMP/SMA Masehi dan 15-16 Januari 2010 di Gedung PGRI Kebumen. Beberapa kelompok yang ikut menyemarakkan acara tersebut antara lain : Komunitas Seni Kreatif Guyub Larak dan Wayang Kartun Slamet SR, Sekolah Rakyat Melubae, Teater Gerak (STAINU), Teater SPENVEN (SMPN 7 Kebumen), Komunitas Story Telling (SMP Muhammadiyah 2 Kebumen), Teater Kelir (SMAN Klirong), Komunitas Mata Baca Al Furqon (Humam Rimba), Teater Ego dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon masyarakat Kebumen cukup bagus terhadap pementasan teater. Namun di sisi lain menurut pegiat FOPSET Putut As., penyelenggaraan GPT masih minim dukungan finansial baik dari Pemkab Kebumen maupun sponsor swasta. Sehingga masih harus mengandalkan donatur perorangan yang peduli dengan perkembangan teater di Kebumen. Kondisi ini memunculkan semacam kegelisahan di kalangan pegiat FOPSET, akan masa depan kegiatan teater di Kebumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Teater Kebumen&lt;br /&gt;Aspirasi yang berkembang di kalangan pekerja teater Kebumen awalnya sederhana saja, minimal ada even tahunan pentas teater di Kebumen. Dengan demikian ada media bagi komunitas teater yang ada untuk unjuk kemampuan dan mengasah penampilan sekaligus lebih memasyarakatkan teater di Kebumen. Harapannya apabila ada festival atau lomba di tingkat provinsi atau di daerah lain bisa meraih prestasi. Terbukti dalam beberapa even kelompok teater dari Kebumen bisa meraih prestasi bagus. Teater Ego menjadi Juara 3 Lomba Dramatisasi Puisi yang diselenggarakan Kelompok Peminat Seni Sastra (Kopissa) Purworejo, April 2010 dan Teater Kelir (SMAN Klirong) yang disutradarai Putut AS berhasil menjuarai Festival Drama Bahasa Jawa tingkat SLTA se Jawa Tengah, 12-14 Nopember 2010 di Unes Semarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beragam gagasan bergulir dan terjadilah dialog yang semakin intensif antara FOPSET dengan berbagai pihak, termasuk dengan Majelis Kajian Peradaban dan Budaya (MASJID RAYA), LSM yang didirikan Kang Juki (Kontributor KHAlifah) di Kebumen. Muncullah kemudian gagasan untuk menyelenggarakan Festival Teater Kebumen (FTK). Agar ada motivasi yang lebih kuat pada setiap kelompok teater dalam mempersiapkan pementasannya. Sebelumnya MASJID RAYA juga ikut mendukung penyelenggaraan Festival Film Indie Kebumen yang diselenggarakan atas kerja sama Blue Production dan Ratih TV Kebumen pada tanggal 24 Juni s.d 11 Juli 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula penyelenggaraan FTK direncanakan pada bulan Oktober 2010 dikaitkan dengan peringatan Sumpah Pemuda dan menjadikan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan budaya. Namun karena beberapa pertimbangan diundur pelaksanaannya menjadi tanggal 26 s.d 28 Nopember 2010. Kepanitiaan pun segera dibentuk dan informasi kegiatan disosialisasikan. Sambutannya luar biasa. Untuk kategori SLTA yang hanya mencakup wilayah Kabupaten Kebumen, ada 13 peserta yang mendaftar, yakni MAN 1 Kebumen, MAN 2 Kebumen, MAN Gombong, MAN Kutowinangun, SMAN Rowokele, SMAN 2 Kebumen, SMAN Klirong, SMKN Karanganyar, SMKN 2 Kebumen, SMK Ma’arif 4 Kebumen, SMK Batik Sakti 1 Kebumen, SMK Nawa Bhakti Kebumen dan Saka Panduwisata (Pramuka). Sementara kategori umum yang diperuntukkan bagi wilayah eks Karesidenan Kedu dan eks Karesidenan Banyumas ada 7 kelompok yang mendaftar, 4 dari Kebumen, 2 dari Purworejo dan 1 dari Purwokerto. Sehingga total peserta FTK ada 20 kelompok. Melebihi target panitia yang semula hanya memperkirakan 6-7 peserta untuk masing-masing kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya FTK yang direncanakan memperebutkan Piala Bupati Kebumen, kurang mendapat respon dari pihak Pemkab Kebumen. Panitia yang mengajukan permohonan bantuan Piala Bupati Kebumen terkesan hanya di-ping-pong. Sampai kegiatan FTK selesai diselenggarakan, tak sesen pun bantuan Pemkab Kebumen menetes. Dengan sedikit berseloroh Ketua Panitia FTK M Chabib Muslim menanggapi hal ini, “Alhamdulillah Pemkab Kebumen memberi kesempatan kita untuk mandiri, sehingga FTK yang semula akan memperebutkan Piala Bupati diganti menjadi Piala Bukan Bupati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya menggandeng pihak swasta untuk menjadi sponsor juga tidak mudah. Kalangan swasta masih memandang sebelah mata, belum melihat pentas teater bisa dijadikan sarana promosi yang efektif. Bagaimanapun juga the show must go on. Dengan berbagai upaya, FTK yang bertempat di Gedung Haji Kebumen berhasil terselenggara dengan baik dan cukup menyedot animo masyarakat untuk menyaksikannya. Pementasan teater selama FTK yang berlangsung dua hari dua malam tak pernah sepi dari penonton. Pagi, siang dan sore jadwal pementasan untuk kategori SLTA dan malamnya untuk kategori umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin netralitas penilaian, juri didatangkan dari luar, kecuali untuk tingkat SLTA, salah seorang juri berasal dari FOPSET sendiri yakni Hasbilah Rifai (Teater Ego). Juri lainnya adalah Salim MD (Sanggar Sunan UIN) dan Retno Budi Ningsih  (alumni ISI Jogja dan free lancer di PDS HB Yasin, Jakarta). Sedangkan juri untuk kategori umum Selain Salim MD dan Retno Budi Ningsih, ditambah dengan Uki Bayu Sejati (Ketua Komunitas Sastra Bulungan, Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum Kebangkitan&lt;br /&gt;Sebelum mengumumkan hasil penjurian, pada hari Ahad, 28 Nopember 2010, para juri memberikan ulasan atas penampilan seluruh peserta sekaligus memberikan work shop teater secara singkat kepada para guru pembina dan siswa. Secara khusus juri kategori SLTA memberikan apresiasi kepada penataan artistik (SMK Ma’arif Kebumen), pemeran Lena (MAN Kutowinangun) dan konsep penyutradaraan (SMAN Rowokele). Ketiganya akhirnya meraih penghargaan terbaik di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari FTK sendiri cukup mengejutkan, selain meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik atas nama Sri Amar S. Luguy, S.Pd, SMAN Rowokele yang datang dari ujung Barat Kebumen, berhasil meraih gelar Juara I Penampil Terbaik. Sedangkan Juara II dan III adalah SMK Ma’arif 4 Kebumen dan SMAN Klirong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang juri, Hasbilah Rifai menilai umumnya peserta masih lemah dalam mengolah peran dan mengemas sajian agar enak ditonton. Belum nampak keberanian mengksplorasi gagasan untuk menghasilkan kejutan yang menarik dalam pementasan, agar tidak terasa hambar dan datar saja. Dalam olah vokal juga masih terkesan asal keras dan terdengar monoton, sementara artikulasi, intonasi dan degradasi kurang diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kategori umum, dari 4 teater Kebumen yang mengikuti FTK, hanya Teater STTOLGTA yang menyelamatkan muka teater Kebumen dengan meraih Juara III penampil terbaik. Sementara Teater Gerak (STAINU), Teater Tetrasa (STIE Putra Bangsa Kebumen), dan Teater Bahrul ‘Ulum (Kutowinangun) terpaksa harus gigit jari karena penghargaan lainnya diboyong keluar Kebumen. Juara I dan II masing-masing diraih Teater Surya (Universitas Muhammadiyah Purworejo) dan Komunitas Tater Purworejo. Sutradara terbaik Haryanto D.J. (Komunitas Teater Purworejo), aktor/aktris terbaik Ambarsari (Teater Surya) dan artistik terbaik Lupus Adi Kusuma (Teater Jodo, Purwokerto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eni Kustini, S.Pd, guru pembina dari MAN 1 Kebumen berharap FTK bisa digelar tiap tahun dan diselenggarakan terpisah antara kategori pelajar dan umum. Beberapa kelemahan yang disebut dewan juri, menurutnya karena persoalan jam terbang para peserta. Jika mereka diberi kesempatan untuk lebih sering tampil, mestinya kemampuan mereka akan semakin terasah dengan baik. Karena itu banyak pihak yang berharap FTK 2010 bisa menjadi meomentum kebangkitan teater di Kebumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan itu, saat memberikan sambutan penutup atas nama MASJID RAYA, Kang Juki mengajak para pegiat teater Kebumen baik yang berbasis sekolah, perguruan tinggi maupun umum, untuk membuat pentas bulanan. Jika bisa dikemas menarik dan mengundang antusiasme penonton tentu akan menarik pihak swasta untuk menjadi sponsor. Bukan tidak mungkin juga, hal ini bisa mendorong Pemkab Kebumen membangun gedung kesenian atau Taman Budaya Kebumen untuk menampung kegiatan seni budaya di Kebumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, Kang Juki ingin menunjukkan, bahwa menjadi motivator tidak terbatas hanya dalam pelatihan atau melalui tulisan saja. Menjadi motivator dan melibatkan diri dalam rangkaian proses suatu aktivitas atau participatory action motivator (PAM) diharapkan bisa memberi kemajuan yang lebih signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Nurnakhudin Ibnu Ramli, Ketua Majelis Kajian Peradaban dan Budaya (MASJID RAYA) Kebumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi dan Inspirasi KHAlifah Edisi 30, Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7425786996592248903?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7425786996592248903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7425786996592248903&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7425786996592248903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7425786996592248903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2011/01/antusiasme-masyarakat-untuk-berkesenian.html' title='Memotivasi Kebangkitan Seni Teater Kebumen'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbc4yq7fiI/AAAAAAAAAJA/iaRAdaXrdfk/s72-c/Memotivasi%2BKebangkitan%2BTeater%2BKebumen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-8776695552177714397</id><published>2011-01-07T01:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-07T01:23:29.353-08:00</updated><title type='text'>Terapi Hijrah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbbYUSnFjI/AAAAAAAAAI4/Sr2e9X05ZFg/s1600/Terapi%2BHijrah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbbYUSnFjI/AAAAAAAAAI4/Sr2e9X05ZFg/s320/Terapi%2BHijrah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559372000845567538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Bad mood !” tulis seorang teman dalam status facebook-nya. Teman lainnya menulis, “Bete ...” atau “Jenuh !”. Ungkapan senada dengan berbeda istilah dalam beragam bahasa acapkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Intinya mengungkapkan kondisi pribadi seseorang yang sedang mengalami stagnasi, tidak mampu melakukan aktivitas yang produktif. Penyebabnya beragam, bisa pengaruh negatif yang tak kunjung bisa dihindari seperti rutinitas yang menjemukan, lingkungan yang tidak kondusif, mitra kerja yang miskin dukungan, team work yang amburadul, sampai hasrat kompetisi yang tak tersalurkan karena kehabisan tantangan atau tiadanya kompetitor sepadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua tokoh besar pernah mengalami keadaan seperti itu. Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya sekian lama berdakwah di Mekkah, tak juga mendapatkan hasil memuaskan. Terlalu banyak hambatan yang nyaris membuat para sahabat berputus asa. Demikian juga dengan Nabi-Nabi sebelumnya beserta para pengikut mereka. Menghadapi situasi yang tidak kalah sulitnya, sehingga terlontarlah pertanyaan mereka “mataa nashrullah (di manakah pertolongan Allah) ?” (Q.S. Al Baqarah 214).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang anda lakukan ketika menghadapi situasi seperti itu ? Berdo’a, tentu saja harus dilakukan selaku seorang muslim. “Ya Allah berikanlah yang terbaik buatku.” Do’a seperti itu acapkali kita jumpai juga dalam status facebook seseorang. Tapi langkah apa selanjutnya usai berdo’a ? Perubahan tidak bisa hanya ditunggu. Cobalah terapi hijrah, lakukan perjalanan atau sekadar berpindah tempat beraktivitas. Tak harus ke tempat yang jauh, akan lebih baik ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bukan untuk lari dari masalah atau bersembunyi, melainkan untuk membuat perbandingan situasi dan menata diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak langsung mendapatkan tempat yang kondusif, carilah tempat baru lagi. Ingat Nabi Muhammad SAW tidak sekali hijrah langsung berhasil. Saat mencoba hijrah ke Ta’if situasi tidak menyenangkan justru dialami. Barulah ketika hijrah ke Madinah situasi yang kondusif didapat. Dakwah Nabi mendapat sambutan hangat. Umat Islam menjelma menjadi kekuatan baru yang disegani. Selanjutnya Nabi beserta sahabat bisa kembali ke Mekkah tanpa hambatan berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pun bisa ! Beralih tempat sementara untuk mendapatkan apa yang belum diperoleh di tempat semula. Lanjutkan aktivitas yang tertunda agar semangat dan rasa percaya diri pulih kembali. Biasa menulis di kantor atau hang out di cafe, tiba-tiba inspirasi mandeg ? Jinjing lap top, pergilah ke alam terbuka, di tengah kebun, pinggiran sawah atau tepian sungai. Rasakan kesegaran udara bebas dan cobalah menulis lagi. Atau sebaliknya, bosan di alam bebas dan merasa inspirasi sudah habis ? Pergilah ke tempat yang penuh hiruk pikuk manusia seperti pasar, baik yang modern maupun tradisional. Perhatikan perilaku orang-orang yang ada di sana. Temukan motivasi dan inspirasi dari beragam aktivitas orang lain yang bisa anda amati. Insya Allah ketika anda pulang, tak akan terlontar lagi keluhan “Bad mood !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi dan Inspirasi KHAlifah Edisi 30, Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-8776695552177714397?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/8776695552177714397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=8776695552177714397&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8776695552177714397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8776695552177714397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2011/01/terapi-hijrah.html' title='Terapi Hijrah'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TSbbYUSnFjI/AAAAAAAAAI4/Sr2e9X05ZFg/s72-c/Terapi%2BHijrah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4495171264349243543</id><published>2010-11-29T21:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T21:14:26.781-08:00</updated><title type='text'>Pengalaman Termanis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TPSHvTYfh4I/AAAAAAAAAIs/g9eQ9E1mdAI/s1600/Pengalaman%2BTermanis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TPSHvTYfh4I/AAAAAAAAAIs/g9eQ9E1mdAI/s320/Pengalaman%2BTermanis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545206287926527874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti pengalaman terpahit, pengalaman termanis juga selalu melekat dalam alam bawah sadar manusia, hanya saja perlakuannya berbeda. Pengalaman terpahit cenderung disembunyikan, sementara pengalaman termanis akan sering diceriterakan, bahkan terkadang dengan berlebihan. Kedua pengalaman tersebut pada dasarnya sama kegunaannya untuk lebih mengenali diri kita, sehingga kemampuan seseorang dalam menceriterakan kedua pengalaman tersebut juga bisa menjadi petunjuk stabilitas emosi seseorang dan kemampuannya dalam memetik pelajaran dari setiap peristiwa yang pernah dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi &amp; Inspirasi KHAlifah Edisi 29, Nopember 2010, hal 38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya, kalau pengalaman terpahit berguna mengenali apa yang tidak kita inginkan, maka pengalaman termanis bermanfaat untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita harapkan. Frekuensi dalam menceriterakan pengalaman termanis juga bisa menjadi indikator keadaan seseorang di masa sekarang. Seseorang yang terlalu sering menceriterakan pengalaman termanisnya, bisa jadi karena sampai saat ini pengalaman tersebut belum juga bisa diulanginya. Tidak perlu heran kalau ada orang yang demikian membanggakan prestasi-prestasinya di masa lalu. Bisa dipastikan orang tersebut tidak lagi memiliki prestasi di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa yang kita sebut sebagai pengalaman termanis, kita bisa mempelajari lebih jauh apa yang sesungguhnya kita harapkan dalam hidup ini. Jika pengalaman termanisnya adalah meraih gelar juara misalnya, baik itu di bidang pendidikan (akademis) maupun olah raga, bisa ditelusuri lebih lanjut, keberhasilan meraih prestasi atau dihargai dan dipuji banyak orang yang sebenarnya memberikan kesan paling manis. Dari situ akan memperjelas apa sesungguhnya yang kita harapkan dalam hidup ini. Sehingga bila kita masih bingung dalam merencanakan masa depan telaah terhadap pengalaman termanis kita bisa membantu mengarahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, tidak semua harapan itu sepenuhnya bisa terwujud. Namun dengan mengetahuinya memudahkan langkah kita dalam mewujudkannya. Sering terjadi, pertambahan usia seseorang bukannya kian memperjelas dan lebih fokus harapan hidupnya, sebaliknya malah bisa semakin kabur arah hidupnya. Contoh sederhana, pertanyaan tentang cita-cita akan dijawab seorang anak SD dengan lebih kongkret dibandingkan jawaban seorang sarjana. Absurditas cita-cita itulah yang antara lain bisa dibantu diatasi dengan telaah atas pengalaman termanis, untuk kemudian bisa diarahkan pada cita-cita yang lebih kongkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kalau anda juga kebingungan menentukan cita-cita, mulailah dengan menentukan peristiwa yang menurut anda merupakan pengalaman termanis. Telusuri lebih mendalam, mengapa peristiwa itu menjadi pengalaman termanis, sampai akhirnya anda temukan substansi dari kondisi yang menjadi harapan anda. Itulah yang sesungguhnya ingin anda dapatkan dalam hidup ini. Selanjutnya bisa direncanakan lebih lanjut substansi kondisi yang anda harapkan tersebut bisa diwujudkan dengan cara apa dan bagaimana. Itulah yang perlu anda tentukan menjadi cita-cita anda. Selamat mencoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4495171264349243543?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4495171264349243543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4495171264349243543&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4495171264349243543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4495171264349243543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/11/pengalaman-termanis.html' title='Pengalaman Termanis'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TPSHvTYfh4I/AAAAAAAAAIs/g9eQ9E1mdAI/s72-c/Pengalaman%2BTermanis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1585610680473191429</id><published>2010-11-19T02:37:00.001-08:00</published><updated>2010-11-19T02:41:33.138-08:00</updated><title type='text'>Pengalaman Terpahit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TOZT26F_mlI/AAAAAAAAAIk/obm4Xy1mYm8/s1600/scan0001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TOZT26F_mlI/AAAAAAAAAIk/obm4Xy1mYm8/s320/scan0001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541208594298411602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pahit selalu melekat dalam alam bawah sadar manusia, meski di alam sadar umumnya manusia berusaha melupakannya. Sebenarnya melupakan peristiwa masa lalu bukanlah jalan keluar terbaik. Perlu energi besar untuk menghapus memori masa lalu, efeknya juga bisa mengurangi daya ingat. Bukan tidak mungkin, akibat tidak mau mengingatnya, pengalaman pahit itu justru bisa terulang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kita mungkin ada yang sampai dua kali atau lebih bercerai, usaha bangkrut, terkena PHK, kecopetan, ditipu atau dikhianati mitra kerja. Keledai saja tidak mau terperosok dua kali pada lubang yang sama, anehnya manusia yang dikaruniai akal pikiran malah bisa berulang-ulang mengalami peristiwa pahit yang hampir sama. Untuk mencegahnya, langkah terbaik adalah belajar dari pengalaman pahit tersebut dan menerimanya sebagai bagian dari jalan hidup yang harus dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelatihan, adakalanya peserta diminta menceriterakan pengalaman terpahit selama hidupnya. Sayangnya seringkali sesi seperti ini kurang dimanfaatkan dengan baik, dianggap sekadar intermezo, sehingga tidak memberi hasil optimal. Padahal banyak pelajaran bisa dipetik dan diterapkan melalui berbagi cerita pengalaman terpahit, baik bagi peserta yang bersangkutan maupun peserta lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang bisa menceriterakan pengalaman terpahit secara jelas dan terbuka menunjukkan kemampuannya dalam hal : (1) mengapresiasi dan mengklasifikasi peristiwa yang pernah dialaminya; (2) menjaga stabilitas emosi dalam berkomunikasi; (3) menjalin hubungan akrab tanpa prasangka dan kepura-puraan. Kebalikannya seseorang yang tidak bisa menceritakan pengalaman terpahitnya, berarti belum memiliki tiga kemampuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang diberi predikat pengalaman terpahit akan membantu seseorang lebih mengenali diri, terkait apa yang tidak diinginkannya dalam kehidupan di masa kini dan mendatang. Secara umum orang akan menyebutkan pengalaman terpahit dengan kehilangan salah satu dari tiga hal, yaitu status kedudukan, kekayaan atau hubungan antar manusia. Dari situ nampak orientasi yang dominan dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa sama bisa diapresiasi berbeda, misalnya perceraian. Sama-sama ditempatkan sebagai pengalaman terpahit oleh orang yang berbeda, tapi kalau ditelusuri lebih jauh bisa berbeda latar belakangnya. Seseorang menjadikannya pengalaman terpahit, bisa jadi karena akibat yang dialami sesudah perceraian, bukan karena perceraian itu sendiri. Karena mantan pasangannya orang kaya, perceraian membuatnya menjadi miskin, atau pasangannya orang populer, bercerai menjadikannya kesepian, atau perceraian bukan sesuatu yang lumrah di lingkungan keluarganya, sehingga membuatnya terkucil dari keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga peristiwa lainnya, bisa ditelusuri lebih jauh, substansi apa yang membuat kita kategorikan sebagai pengalaman pahit atau terpahit. Dari situ kita bisa belajar apa yang harus dilakukan untuk mencegah substansi peristiwa itu terulang kembali dalam kehidupan kita di masa kini dan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi dan Inspirasi KHAlifah, Edisi 28, Nopember 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1585610680473191429?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1585610680473191429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1585610680473191429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1585610680473191429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1585610680473191429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/11/pengalaman-terpahit.html' title='Pengalaman Terpahit'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TOZT26F_mlI/AAAAAAAAAIk/obm4Xy1mYm8/s72-c/scan0001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-884282453131124906</id><published>2010-09-18T10:40:00.000-07:00</published><updated>2010-09-18T10:47:35.653-07:00</updated><title type='text'>Kekuatan Memaafkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT65hOsMvI/AAAAAAAAAIU/_te_lRcEPO0/s1600/Kekuatan+Memaafkan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT65hOsMvI/AAAAAAAAAIU/_te_lRcEPO0/s320/Kekuatan+Memaafkan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518311309515174642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meskipun salah satu ciri orang bertaqwa adalah memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali Imran : 134), dalam prakteknya tidak mudah memaafkan orang lain. Bahkan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dan dalam suasana ‘Idul Fitri, ketika masyarakat Indonesia larut dengan suasana saling memaafkan, ada saja yang merasa berat untuk memaafkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita lebih mudah memaafkan orang lain ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Misalnya dengan membuat neraca kesalahan dengan seseorang yang masih sulit kita maafkan, seperti Fulan (Tabel 1). Berpikirlah secara jernih lalu catat semua kesalahan Fulan yang menyakitkan kita dalam satu kolom, berikan bobot terhadap masing-masing kesalahan tersebut lalu jumlahkan. Selanjutnya catat kesalahan kita terhadap Fulan di kolom lain. Ingat, biasanya kita sering lupa dan meremehkan kesalahan kita terhadap orang lain. Jadi berpikirlah lebih jernih dalam mengingat dan mencatat kesalahan kita. Berikan juga bobotnya dan jumlahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah bobot kesalahan Fulan lebih besar ? Bila benar, coba pikirkan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan neraca kesalahan anda dengan Fulan ? Adakah tindakan yang bisa benar-benar menyeimbangkan neraca kesalahan tersebut ? Karena nilai tindakan bersifat kualitatif dan relatif nilainya kalau harus dikuantitatifkan, maka pastilah tidak mungkin ada tindakan yang bisa benar-benar membuat neraca kesalahan itu menjadi seimbang. Satu-satunya jalan adalah dengan saling memaafkan. Jika kita merasa lebih banyak kesalahan harus berani minta maaf, jika Fulan kita anggap lebih banyak salahnya, kita harus mau memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah lainnya adalah membuat neraca untung-rugi dalam berhubungan dengan Fulan (Tabel 2). Catat semua keuntungan dan kerugian selama kita berhubungan dengan Fulan. Berikan bobot masing-masing dan jumlahkan. Kita bisa menilai untung-rugi berhubungan dengan Fulan. Jika kita benar-benar obyektif, betapapun kecilnya pasti tetap ada untungnya berhubungan dengan Fulan. Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah memutus hubungan dengan Fulan, tapi menjaga jarak. Jadi, maafkanlah kesalahan Fulan yang sudah berlalu. Dengan memaafkan Fulan kita tidak akan canggung dalam berhubungan dengan Fulan. Selanjutnya tetaplah berhubungan dengan Fulan, tapi jangan terlalu dekat, agar tidak mudah tersakiti oleh kesalahan Fulan. Karena kedekatan hubungan mempengaruhi tingkat rasa sakit kita menghadapi kesalahan Fulan. Kalau neraca menunjukkan keuntungan lebih besar daripada kerugian, yang mungkin diperlukan adalah perubahan sikap dalam merespon tindakan Fulan. Kita harus lebih mengedepankan rasio dibanding emosi saat berhubungan dengan Fulan, agar tidak mudah sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraca yang dibuat akan semakin obyektif kalau kita mau memperlihatkan kepada teman yang netral untuk memberi bobot nilai. Jadikan hasilnya sebagai bahan koreksi neraca yang dibuat beserta rencana tindakan selanjutnya. Silahkan mencoba. Insya Allah anda akan merasakan dahsyatnya kekuatan memaafkan. Setidaknya dengan memaafkan, relasi kita tidak pernah berkurang. Ini berarti perantara kita mendapatkan rezeki juga tidak pernah berkurang. Bukankan kita mendapatkan rezeki dari Allah SWT selalu melalui perantaraan orang lain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Neraca Kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Fulan                                     Saya&lt;br /&gt;Kesalahan              Bobot          Kesalahan              Bobot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;             Jumlah                                  Jumlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tabel 2. Neraca Untung-Rugi Berhubungan dengan Fulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung           Bobot            Rugi                Bobot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Jumlah                               Jumlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi dan Inspirasi KHAlifah, Edisi 26 September 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-884282453131124906?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/884282453131124906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=884282453131124906&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/884282453131124906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/884282453131124906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/09/kekuatan-memaafkan.html' title='Kekuatan Memaafkan'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT65hOsMvI/AAAAAAAAAIU/_te_lRcEPO0/s72-c/Kekuatan+Memaafkan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-8535276785698084485</id><published>2010-09-18T10:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-18T10:40:23.485-07:00</updated><title type='text'>Energi Kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT5C9MKp-I/AAAAAAAAAIM/TbSqB4C3iMA/s1600/Energi+Kematian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT5C9MKp-I/AAAAAAAAAIM/TbSqB4C3iMA/s320/Energi+Kematian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518309272616347618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan kematian, apalagi diiringi keyakinan akan adanya kehidupan sesudah mati (akhirat), bisa membangkitkan energi yang luar biasa untuk berbuat kebaikan. Sayangnya persepsi tentang kebaikan seringkali tidak dimaknai secara utuh. Jika tidak berupa ibadah ritual, acapkali hanya berbentuk sedekah konsumtif. Realitas ini bisa dilihat pada orang lanjut usia (lansia), yang sadar sudah mendekati kematian. Jika dalam pelatihan peserta ditanya, apa yang akan dilakukan bila besok mati, niscaya jawabannya juga tak beda dengan yang dilakukan para lansia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini mengindikasikan 2 hal. Pertama, kecenderungan menganggap kehidupan (di dunia) dan kematian (pintu gerbang akhirat) dalam 2 kutub berbeda, seakan tidak berhubungan. Ketika merasa hidup masih lama, berbuat sekehendaknya tanpa rambu pengontrol. Begitu kematian terasa dekat, baru mengevaluasi dan mengubah perbuatan. Bagaimana kalau kematian datang tiba-tiba, karena tidak mengenal batas usia dan penyebab ?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya benih materialisme dalam melihat kebaikan. Karena kebaikan hanya dinilai dalam wujud yang kongkret dan bisa dihitung, mengabaikan yang abstrak. Kebaikan adalah seberapa banyak mengerjakan shalat sunat, berapa kali khatam membaca Al Qur’an, berapa orang fakir miskin dan yatim piatu yang telah disantuni dan lain sebagainya. Padahal menyingkirkan penghalang jalan, mengilangkan kebodohan, mendidik orang agar lebih mandiri, menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi public, adalah juga kebaikan yang tidak bisa diukur dengan takaran pasti, tapi orang lain bisa merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelatihan, umunya sesi perencanaan masa depan diukur dengan satuan waktu ke depan, misalnya 1, 2, 5, 10 atau 20 tahun kemudian. Dari sisi karir misalnya, setahun lagi harus menjadi supervisor, dua tahun berikutnya manajer, lima tahun lagi direktur dan seterusnya. Untuk lebih mengintegrasikan pemahaman tentang kehidupan dan kematian ubahlah satuan waktu perencanaan dari beberapa tahun kemudian menjadi kematian atau akhir kehidupan. Artinya batas akhir rencana kita adalah kematian. Pada saat mati nanti, keadaan seperti apa yang diinginkan, itulah yang perlu didiskripsikan, baik dari sisi karir, keluarga, hubungan sosial sampai persoalan ibadah. Barulah kemudian ditarik waktu ke belakang, 1, 2, 5, 10 atau 15 tahun sebelum kematian, dan seterusnya, keadaan seperti apa yang diinginkan lalu didiskripsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan demikian melampaui batas usia, karena menyangkut kehidupan berikutnya. Apa yang direncanakan mempunyai 2 dimensi manfaat, dunia dan akhirat. Semua aktivitas kita ikut digerakkan dan dikendalikan oleh energi kematian, yang terbentuk karena kesadaran akan kematian. Kapan pun dijemput kematian bukan lagi persoalan. Jika usia kita lebih panjang dari perkiraan, realisasi rencana kita semakin sempurna. Kalau ternyata usia lebih pendek, kita mati dalam proses menuju kesempurnaan. Sebuah kematian yang mengagumkan. Seperti itulah yang mungkin disebut husnul khotimah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Motivasi dan Inspirasi KHAlifah, Edisi 25, Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-8535276785698084485?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/8535276785698084485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=8535276785698084485&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8535276785698084485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8535276785698084485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/09/energi-kematian.html' title='Energi Kematian'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TJT5C9MKp-I/AAAAAAAAAIM/TbSqB4C3iMA/s72-c/Energi+Kematian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-6714719975009537822</id><published>2010-07-26T08:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T08:55:25.286-07:00</updated><title type='text'>REVITALISASI PERKAMPUNGAN EKSODAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TE2uMicGJAI/AAAAAAAAAH8/6zkt5v1_bsQ/s1600/Rumah+Warga+Eksodan+beserta+lahan+200+m2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TE2uMicGJAI/AAAAAAAAAH8/6zkt5v1_bsQ/s320/Rumah+Warga+Eksodan+beserta+lahan+200+m2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498242250515555330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pasca reformasi 1998, tidak seluruhnya sesuai harapan masyarakat. Eksesnya yang sebagian justru menimbulkan permasalahan serius. Seperti dihadapi para transmigran yang ditempatkan di Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku Selatan, eks Timor-Timur dan Papua. Daerah-daerah yang pasca reformasi banyak dilanda konflik Suku, Ras Agama dan Antargolongan (SARA).&lt;br /&gt;Mereka yang semula berharap bisa memperbaiki taraf hidupnya malah terganggu ketenangan hidupnya. Pulang kampung menjadi alternatif solusinya. Keinginan tersebut mendapat sambutan positif instansi pemerintah terkait, terutama pemerintah daerah asal transmigran, seperti Pemprov Jawa Tengah khususnya Pemkab Kebumen. &lt;br /&gt;Pemkab Kebumen kemudian membuat program relokasi transmigran korban konflik di beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2002. Untuk itu dibangun 400 unit rumah yang kemudian disebut Perumahan Eksodan di Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Setiap KK eksodan mendapatkan tanah seluas 200 m2  beserta satu unit rumah tinggal berukuran 7x4 m yang ada di dalamnya. Subsidi bahan pokok juga diberikan selama tiga bulan pertama mereka menempati lokasi baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Tertinggal&lt;br /&gt;Desa Tanggulangin berada di tepi pantai selatan Samudera Indonesia, muara sungai Lukulo yang membelah Kabupaten Kebumen. Terletak 4 km dari pusat Kecamatan Klirong atau 13 km dari Kota Kebumen. Perjalanan dengan sepeda motor memerlukan waktu 45 menit dari Kebumen atau 15 menit dari Klirong. Saat ini sudah terdapat alat angkutan perdesaan jurusan Kebumen-Tanggulangin PP sehingga sarana transportasi tidak lagi menjadi masalah bagi warga Desa Tanggulangin. &lt;br /&gt;Dibandingkan desa-desa lain di Kabupaten Kebumen pada umumnya dan Kecamatan Klirong pada khususnya, Desa Tanggulangin dapat dikategorikan sebagai desa tertinggal dengan perkembangan yang cukup lambat. Mata pencaharian masyarakat yang utama adalah petani, namun sektor pertanian tidak dapat berkembang dengan baik karena kondisi tanahnya jenis regosol yang tergolong tandus. Sawah dengan luas 374 hektar,  semuanya juga tadah hujan, belum ada irigasi teknis. Akibatnya petani hanya bisa panen sekali dalm setahun. Komoditas pertanian lain yang paling banyak diusahakan masyarakat adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabai, kacang panjang, terong, mentimun dan buah-buahan seperti pisang, pepaya dan semangka. Alternatif mata pencaharian lainnya adalah sebagai peternak (ayam, itik, sapi dan kambing), penambang pasir sungai Lukulo, nelayan dan pengrajin gula merah dari nira kelapa.&lt;br /&gt;Selain termasuk desa tertinggal, Desa Tanggulangin sampai saat ini juga masih banyak dipandang negatif oleh masyarakat sekitarnya. Beberapa tindakan kriminal di Kabupaten Kebumen seperti pencurian dan tawuran antar desa, acapkali melibatkan oknum dari Desa Tanggulangin. Hal ini menciptakan image Desa Tanggulangin sebagai sarang pelaku tindak kriminal. &lt;br /&gt;Kondisi masyarakat setempat yang masih memprihatinkan, membuat kehadiran perumahan eksodan sedikit memunculkan kecemburuan sosial. Walaupun sebelum perumahan eksodan dibuka sudah ada kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan Pemerintah Tanggulangin, bahwa perumahan eksodan akan diisi 30 % warga Desa Tanggulangin yang tidak mampu dan 70 % diisi warga eksodan. Namun kesannya warga eksodan lebih diperhatikan daripada masyarakat setempat. Selain subsidi bahan pokok selama tiga bulan pertama bagi warga perumahan eksodan, Pemerintah memang beberapa kali memberi bantuan seperti perahu nelayan, empat ekor anak kambing per KK sampai alat cetak batako. Sementara masyarakat setempat merasa kurang mendapat perhatian yang sepadan meskipun kehidupannya tidak lebih baik dibanding warga perumahan eksodan.&lt;br /&gt;Ada bantuan yang sampai saat ini bisa digunakan bersama warga eksodan dan masyarakat setempat, yakni perahu nelayan, yang diberikan pada tahun 2003. Bantuan lainnya, selain tidak bisa ikut dinikmati masyarakat setempat juga tidak efektif bagi peningkatan taraf hidup warga perumahan eksodan. Bantuan anak kambing pada akhirnya banyak yang kemudian dijual untuk menyambung hidup. Sementara bantuan berupa alat cetak batako juga tidak difungsikan oleh warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revitalisasi&lt;br /&gt;Kehidupan yang sarat permasalahan menjadikan sebagian besar warga perumahan eksodan tidak mampu bertahan hidup di Desa Tanggulangin. Dari 400 KK saat perumahan dibuka, kini tinggal 142 KK yang bertahan (data 31 Maret 2009). Kebanyakan warga eksodan kemudian memilih kembali ke kampung asal sebelum menjadi transmigran ataupun merantau kota mencari pekerjaan. Hanya warga yang mampu beradaptasi dengan kondisi wilayah dan potensi Desa Tanggulangin yang bisa bertahan.&lt;br /&gt;Agar Perumahan Eksodan tidak hanya tinggal kenangan dan perlahan-lahan berubah menjadi perumahan tak bertuan yang ditinggal penghuninya, perlu dipertimbangkan kebijakan untuk merevitalisasi perumahan tersebut. Jika dievaluasi, nampak bahwa konsep awal perumahan eksodan hanya menjadi tempat transit atau penampungan sementara bagi para eksodan, meskipun lahan beserta rumah di dalamnya sudah menjadi hak milik mereka.&lt;br /&gt;Indikator paling mudah adalah keharusan warga eksodan untuk mengubah profesinya agar bisa bertahan di Desa Tanggulangin. Sebagai transmigran, jelas profesi mereka sebelumnya adalah petani, minimal dengan lahan 2 hektar yang mereka dapatkan sebagai seorang transmigran. Namun profesi sebagai petani hampir mustahil dipertahankan ketika menjadi warga Perumahan Eksodan. Selain kondisi tanah yang tidak subur, lahan yang mereka dapatkan juga teramat sempit. Terbukti yang kemudian tetap bertahan adalah warga eksodan yang beralih profesi menjadi nelayan dan peneres nira. &lt;br /&gt;Sarana dan prasarana yang ada di Desa Tanggulangin dan Perumahan Eksodan khususnya sudah cukup memadai, seperti tempat ibadah, MCK, balai pertemuan, TPI, puskesmas dan pasar. Karena itu yang perlu dipikirkan adalah profesi yang sesuai bagi warga Perumahan Eksodan. Ada 3 langkah yang perlu dilakukan, pertama, survey minat profesi yang mungkin dikembangkan di Desa Tanggulangin terhadap warga eksodan yang masih bertahan. &lt;br /&gt;Kedua, mengingat banyak rumah yang ditinggalkan penghuninya, perlu direncanakan penempatan penghuni baru dari warga yang kurang mampu. Yang perlu diprioritaskan adalah warga dari Desa Tanggulangin sendiri atau desa-desa sekitarnya yang memiliki kesamaan minat profesi dengan warga Perumahan Eksodan.&lt;br /&gt;Ketiga, diberikan pelatihan profesi bagi warga sesuai dengan minatnya, sehingga bisa menjalankan profesinya dengan baik. Untuk pembinaan lebih lanjut akan lebih baik bila warga yang memiliki kesamaan minat profesi kemudian membentuk paguyuban. Dengan adanya paguyuban tersebut diharapkan mereka mampu meningkatkan kemampuan profesi dan skala usaha mereka secara swadaya. Bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan adanya paguyuban berdasarkan profesi ini juga akan lebih memudahkan pembinaan melalui program-program selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabloid Inspirasi Vol 1, No. 11, 10 Juli 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-6714719975009537822?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/6714719975009537822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=6714719975009537822&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/6714719975009537822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/6714719975009537822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/07/revitalisasi-perkampungan-eksodan.html' title='REVITALISASI PERKAMPUNGAN EKSODAN'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TE2uMicGJAI/AAAAAAAAAH8/6zkt5v1_bsQ/s72-c/Rumah+Warga+Eksodan+beserta+lahan+200+m2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4497858810138812559</id><published>2010-07-19T01:19:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T01:21:30.419-07:00</updated><title type='text'>Mengakrabi Perubahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TEQK7nYbImI/AAAAAAAAAH0/6zFupggNqww/s1600/Mengakrabi+Perubahan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TEQK7nYbImI/AAAAAAAAAH0/6zFupggNqww/s320/Mengakrabi+Perubahan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495529464598831714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Change is never ending process”. Selama kehidupan masih ada, selalu ada perubahan setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik. Karena itu selama kita masih hidup harus senantiasa siap menghadapi perubahan. Siapa yang tidak siap akan tergilas oleh perubahan. Lima belas tahun lalu, bisnis warung telekomunikasi (wartel) masih prospektif. Hari ini wartel tinggal cerita, tergilas oleh menjamurnya telepon seluler. Masih bisa hidup, tapi nafasnya tersengal-sengal. Demikian juga bisnis warnet, hari ini masih berkibar, namun sesungguhnya sedang berada di ambang maut dengan kian pesatnya teknologi nirkabel seperti broadband, wifi dan blue tooth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan yang seharusnya mencerahkan pesertanya, apalagi kalau diberi label out bonds (kependekan dari out of bonds, keluar dari batas, tidak semata-mata out of doors, di luar ruangan) bisa gagal mencapai tujuan ketika pelatihnya terjebak pada rutinitas kegiatan melatih. Peserta mungkin antusias mengikuti. Tapi hanya karena menemukan game baru dalam pelatihan, bukan didorong semangat untuk mendapatkan pencerahan lalu melakukan perubahan. Akibatnya kegiatan pelatihan bisa lebih menonjol sifat rekreatif daripada edukatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari hal itu suasana dalam pelatihan harus sering dilakukan perubahan, agar pelatih tidak seperti CD materi pelatihan yang diputar setiap saat. Pelatihan juga harus berbeda dengan pertunjukan film di bioskop, hanya mengandalkan peralatan multi media dengan dukungan sound effect dan teknologi pengolahan gambar yang membuat penonton terkesima, enggan beranjak dari tempat duduknya sebelum film berakhir. Keunggulan pelatihan seharusnya terletak pada kemampuan pelatihnya dalam mengekspresikan pemahamannya tentang hakekat kemanusiaan peserta dalam setiap sesi pelatihan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengakrabkan peserta dengan perubahan, sesekali ajak peserta melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan, misalnya membaca tulisan dari belakang, berjalan mundur, mengubah posisi kaki saat duduk dan sebagainya. Beri kesempatan peserta merasakan, mengungkapkan dan mendiskusikan apa yang dirasakannya saat melakukan perubahan-perubahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian seluk beluk perubahan, seperti pendorong dan penghambatnya, manfaat dan akibatnya, tidak hanya diketahui tapi juga langsung dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengakraban perubahan pada peserta pelatihan, out bonds training pun bisa dilakukan di dalam ruangan. Bahkan setiap pelatihan sesungguhnya bisa menjadi out bonds training. Meski fisik peserta berada di dalam ruangan, namun alam pikirannya bisa diajak bertualang menembus batas ruang dan waktu, sehingga mampu melihat berbagai permasalahan kehidupan seperti melihat sebuah kubus dari keenam sisinya atau melihat benda dari delapan arah penjuru mata angin. Hasilnya, pikiran kita (peserta dan pelatih) menjadi lebih cerah dan jernih, tidak lagi terkejut ketika segalanya cepat berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah Edisi 24, Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4497858810138812559?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4497858810138812559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4497858810138812559&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4497858810138812559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4497858810138812559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/07/mengakrabi-perubahan.html' title='Mengakrabi Perubahan'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TEQK7nYbImI/AAAAAAAAAH0/6zFupggNqww/s72-c/Mengakrabi+Perubahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1907752090268920351</id><published>2010-06-10T22:46:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T22:49:18.767-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Jam Karet (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TBHOOSmZQFI/AAAAAAAAAHs/6_GWXLmXO6A/s1600/Refleksi+Jam+Karet+(2).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TBHOOSmZQFI/AAAAAAAAAHs/6_GWXLmXO6A/s320/Refleksi+Jam+Karet+(2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481388966392971346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap peristiwa yang terjadi seharusnya merupakan kritik yang paling obyektif bagi para pelakunya. Namun menerima kritik tidak mudah kalau tidak pernah berusaha membiasakannya. Wajar bila perbuatan salah yang dilakukan di depan publik sekalipun masih jarang disikapi seseorang secara positif. Misalnya segera berinisiatif mengakui kesalahan, bertaubat atau minta maaf diikuti tekad untuk belajar pada orang lain yang lebih baik agar tidak mengulangi kesalahannya. Yang sering terjadi adalah berusaha berkelit, melakukan rasionalisasi agar kesalahannya bisa dibenarkan, minimal bisa dipahami orang lain sebagai sesuatu yang wajar. Fakta ini juga bisa didapatkan dengan mencermati dan menelaah hasil pengisian tabel pada kolom terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir bisa dipastikan sebagian besar peserta yang terlambat akan berusaha mencari kambing hitam atas keterlambatannya. Ada yang harus antri dulu di toilet, ketiduran atau jamnya tidak sama. Nyaris tidak akan ada yang mengakui kalau jam karet sudah menjadi kebiasaan pribadi, janji pukul 16.00 datang pukul 17.00. Padahal permintaan untuk tidak membuat alasan yang berbeda, sebenarnya sudah merupakan dorongan halus agar mengakui saja keterlambatan sebagai sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;Masalah seolah-olah selesai ketika seseorang sudah mendapatkan alasan atas kesalahan tindakannya. Begitulah yang sering terjadi. Apalagi karena hanya diminta menulis alasan keterlambatan. Tidak memahami keterlambatannya langsung atau tidak langsung mengganggu acara. Sangat jarang peserta terlambat yang kemudian meminta maaf. Lebih sedikit lagi yang terus berjanji untuk tidak terlambat lagi, apalagi yang nanti mewujudkan janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam memberikan penilaian, bisa jadi mereka yang terlambat akan mengapresiasi secara normatif orang yang tepat waktu dengan pujian : bagus, bertanggung jawab atau memiliki komitmen. Namun tidak jarang juga keluar penilaian yang cenderung mengolok-olok seperti : tidak punya kesibukan lain, tidak bakat jadi pajabat sehingga lebih terbiasa menunggu daripada ditunggu dan lain-lain. Yang memberikan pujian umumnya masih sebatas apresiasi, belum diikuti pengakuan tulus untuk menjadikannya tauladan yang patut ditiru. Kalaupun ada pengakuan tidak selalu langsung diikuti ikhtiar untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir mustahil kita temui mereka yang terlambat mengapresiasi peserta yang tepat waktu dengan kalimat, “Peserta yang tepat waktu adalah orang yang bertanggungjawab dan patut dijadikan tauladan bagi saya dalam membuat komitmen selanjutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui refleksi jam karet, diharapkan mampu meng-cover sesi lain yang belum optimal karena waktunya terkurangi oleh molornya jadwal. Jika pelatihnya piawai, bisa juga menjadi sarana memecah kebekuan (ice breaking) dan membangun keakraban sesama peserta. Tak ada pihak yang divonis atau memvonis, karena perubahan ke arah yang lebih baik harus dilakukan sekaligus dinikmati bersama-sama. Satu-dua orang pelopor tidak akan melahirkan perubahan tanpa ada dukungan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah No. 23, Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1907752090268920351?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1907752090268920351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1907752090268920351&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1907752090268920351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1907752090268920351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/06/refleksi-jam-karet-2.html' title='Refleksi Jam Karet (2)'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/TBHOOSmZQFI/AAAAAAAAAHs/6_GWXLmXO6A/s72-c/Refleksi+Jam+Karet+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-2072296381320832006</id><published>2010-04-29T07:05:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T07:06:41.644-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Jam Karet (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mSW_bVJmI/AAAAAAAAAGE/WHYgU7kaA6U/s1600/Refleksi+Jam+Karet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 296px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mSW_bVJmI/AAAAAAAAAGE/WHYgU7kaA6U/s400/Refleksi+Jam+Karet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465560546471650914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jam karet atau tidak tepat waktu masih mendominasi keseharian kita, termasuk dalam kegiatan pelatihan. Susunan materi dan pembagian sesi mungkin sudah rapi di atas kertas, tapi tak mulus dalam realitas. Jatah waktu setiap sesi bisa menyusut, pembahasan tidak optimal dan mengganggu efektifitas pelatihan. Marah, bukan penyelesaian. Hukuman pada peserta, menciptakan tekanan yang mengganggu suasana pelatihan. Refleksi bisa menjadi alternatif, mengubah masalah keterlambatan menjadi sesi dadakan yang sarat muatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah tabel 2 kolom di papan tulis, kolom pertama tepat waktu dan kolom kedua terlambat. Mintalah setiap peserta menuliskan 2 hal dalam kolom yang sesuai; (i) alasan mengapa terlambat atau tepat waktu dan (ii) penilaiannya terhadap orang yang kebalikan dengannya, artinya yang terlambat menilai yang tepat waktu dan sebaliknya. Doronglah peserta agar membuat alasan dan penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya. Sehingga dalam tabel akan terkumpul alasan dan penilaian yang sama banyaknya dengan jumlah peserta pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel yang sudah terisi ini akan menjadi bahan refleksi bagi seorang pelatih yang lihai mengolah. Ajaklah peserta untuk mencoba menelusuri dan memahami ada apa di balik alasan dan penilaian yang sudah dituliskan. Agar tidak muncul kesan hendak menghukum, mulailah dari peserta yang tepat waktu. Pasti ada sejumlah alasan normatif yang dituliskan seperti : bertanggung jawab atau menepati janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian terhadap orang yang terlambat, biasanya tidak setegas alasan tepat waktu, misalnya : mungkin lupa, ada keperluan lain atau barangkali sakit. Dalihnya enggan menilai orang lain, padahal yang benar enggan mengungkapkan secara verbal penilaian tersebut. Kalau dia tepat waktu karena bertanggungjawab secara implisit sebenarnya dia menilai orang yang terlambat itu tidak bertanggungjawab, hanya tidak diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika ada sesi lain yang mengharuskan sesama peserta saling memberikan penilaian pribadi bisa lebih lancar. Budaya pekewuh (sungkan) akan tereliminasi walau belum sepenuhnya. Pasti ada satu dua peserta yang mengatakan, “Saya tidak mau menilai orang lain !” Peserta seperti ini tidak sadar kalau setiap hari dia selalu menilai orang lain, hanya tidak memiliki keberanian mengungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel yang sudah terisi juga bisa digunakan untuk menjelaskan bahwa dunia ini tidak hitam-putih melainkan penuh warna. Dua tindakan yang berseberangan tidak otomatis bisa dinilai dengan berlawanan pula. Terbukti orang yang alasan tepat waktunya karena bertanggung jawab tidak otomatis menilai yang terlambat sebagai tidak bertanggung jawab. Karena itu jangan hadapi setiap perbedaan dengan pendekatan hitam-putih, alias benar-salah, sebab perbedaan tidak selalu bertentangan, bisa jadi malah saling melengkapi seperti halnya sepasang sepatu, kanan dan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari arah pembahasan yang dipilih, berikan apresiasi terhadap peserta yang tepat waktu, karena telah berani melangkah untuk keluar dari tradisi jam karet.&lt;br /&gt;(Bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah, No. 22, Mei 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-2072296381320832006?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/2072296381320832006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=2072296381320832006&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2072296381320832006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2072296381320832006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/04/refleksi-jam-karet-1.html' title='Refleksi Jam Karet (1)'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mSW_bVJmI/AAAAAAAAAGE/WHYgU7kaA6U/s72-c/Refleksi+Jam+Karet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-8369760523038838090</id><published>2010-03-11T07:03:00.000-08:00</published><updated>2010-04-29T07:10:49.100-07:00</updated><title type='text'>Mengantisipasi Krisis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mTW3bOnPI/AAAAAAAAAGM/KScwWaP8zJQ/s1600/Krisis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mTW3bOnPI/AAAAAAAAAGM/KScwWaP8zJQ/s320/Krisis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465561643835366642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bos hendak mempresentasikan penawaran proyek kepada calon kliennya. Waktunya sudah disepakati pukul 10.00 pagi. Pukul 08.00 pagi ketika si bos mengecek kesiapan bahan presentasi ke sekretarisnya ternyata belum siap semua. Meledaklah amarahnya. Dipanggillah semua staf perencanaan, beragam caci maki keluar bak melepas seluruh penghuni kebun binatang. Pukul 10.00 lewat, presentasi batal dan proyek pun melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah si bos marah menghadapi kenyataan belum siapnya bahan presentasi ? Mari kita coba mempelajari situasi ini secara jernih. Yang perlu dilakukan seharusnya adalah mencoba menghubungi calon klien untuk menegosiasikan penundaan waktu presentasi. Bila tidak bisa ditunda, maka perlu dicek ulang bahan apa saja yang belum siap, apakah bahan tersebut memuat penjelasan penting dari penawaran tersebut atau sekadar pelengkap. Dari sini muncul beberapa alternatif tindakan yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bahan yang belum siap hanya bersifat pelengkap, presentasi bisa dipersingkat atau penjelasan inti bisa diuraikan lebih rinci. Jika pokok bahasan terpenting yang justru belum siap, maka perlu direkayasa agar klien tertarik untuk meminta presentasi jilid dua. Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, yang penting peluang untuk mendapatkan proyek tetap terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari bandingkan kedua sikap yang berbeda dan akibat yang mungkin terjadi. Ketika si bos mengantisipasinya dengan sebuah kemarahan, hasilnya hanya satu alternatif, proyek dipastikan gagal ! Si bos hanya mendapatkan pelampiasan sesaat, bukan jalan keluar masalah. Staf yang menjadi obyek pelampiasan kekesalan bosnya bisa jadi menyimpan dendam, kinerjanya memburuk dan mungkin segera pindah ke perusahaan lain. Apa jadinya kalau lebih dari satu staf yang mengambil langkah seperti itu ? Akibat pensikapan bos yang keliru, ketidaksiapan sebuah presentasi bisa berdampak sistemik terhadap nasib perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau si bos mensikapinya dengan pikiran jernih, masih banyak alternatif yang mungkin terjadi. Kalaupun proyek akhirnya tetap gagal diraih, ada sejumlah pelajaran yang bisa dipetik. Minimal rekomendasi untuk perbaikan mekanisme dan kinerja tim dalam perusahaan. Kebesaran jiwa si bos akan membuat seluruh staf berlapang dada memperbaiki kekurangannya. Kekecewaan kolektif karena tidak berhasil mendapatkan proyek akan membangkitkan energi besar untuk mendorong perbaikan kinerja agar bisa mendapatkan proyek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin juga sering menghadapi situasi seperti ini dalam bentuk yang berbeda. Intinya sama, satu kekeliruan menciptakan krisis di hadapan anda. Kunci penyelesaiannya satu, cukup sekali berbuat keliru. Jangan bertindak reaktif yang bisa memicu tindakan keliru berikutnya. Pikirkan dengan jernih apa yang akan anda lakukan. Jika menyangkut kerja tim, diskusikanlah sebentar dengan tim kerja anda sebelum bertindak. Pada akhirnya krisis menjadi ujian yang bisa membuat anda habis atau justru semakin eksis. Tanyakan saja kepada mereka yang masih tetap eksis, pasti karena mereka bijak dalam mengantisipasi krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah, No. 20, Maret 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-8369760523038838090?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/8369760523038838090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=8369760523038838090&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8369760523038838090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/8369760523038838090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/04/mengantisipasi-krisis.html' title='Mengantisipasi Krisis'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mTW3bOnPI/AAAAAAAAAGM/KScwWaP8zJQ/s72-c/Krisis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1976898769342101232</id><published>2010-02-10T07:00:00.000-08:00</published><updated>2010-04-29T07:03:51.592-07:00</updated><title type='text'>Menerobos Kebuntuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mRaWMqy3I/AAAAAAAAAF0/Qgq5ZIuIaXg/s1600/Kebuntuan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 296px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mRaWMqy3I/AAAAAAAAAF0/Qgq5ZIuIaXg/s400/Kebuntuan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465559504612150130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pernah merasakan kebuntuan, baik temporal maupun permanen. Kebuntuan temporal membuat terhentinya proses dan tertundanya penyelesaian pekerjaan. Kebuntuan permanen membuat pekerjaan terhenti selamanya, setidaknya sampai batas waktu yang lama. Kebutuan temporal bisa menjadi permanen bila tidak segera ditemukan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin pernah atau sedang mengalami beberapa contoh peristiwa ini : melamar pekerjaan tak ada hasil, jenjang karir mandeg, bisnis merugi terus, berdagang tidak laku-laku, kuliah tidak lulus-lulus dan sebagainya. Kesemuanya itu kebuntuan temporal yang bisa menjadi kebuntuan permanen dan mungkin membuat anda putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerobos kebuntuan yang dialami, mari terlebih dahulu mengecek cara berpikir anda dalam mengatasi masalah. Ambillah sehelai kertas sembarang ukuran. Coba bagi menjadi 2 bagian yang sama besar. Bentuk apa yang anda dapatkan dari pembagian tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya orang melakukan sesuatu hanya meniru yang sudah ada. Karena biasanya kertas berbentuk persegi panjang, ketika anda diminta membagi menjadi 2 bagian, bentuk yang anda buat juga sama dengan sebelumnya, persegi panjang. Padahal sebenarnya banyak bentuk yang bisa dibuat.&lt;br /&gt;Coba direka-reka lagi kertas di hadapan anda. Kebiasaan meniru dan hanya mencari mudah saja membuat yang ada dalam pikiran kita juga meniru dan meniru. Tak terlintas sedikitpun dalam benak kita akan beragamnya bentuk yang sebenarnya bisa dibuat. Minimal ada 3 bentuk dasar yang diperoleh hanya dengan sekali melipat,kertas, yaitu persegi panjang, segi tiga dan trapezium. Dari ketiga bentuk dasar tersebut bisa dibentuk lagi beragam varian yang tak terhingga jenisnya. Sudah bisa dibayangkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama ketika anda merasakan kebuntuan akibat tak kunjung mendapat pekerjaan. Karena umumnya orang lulus kuliah terus mencari kerja, maka anda ikut-ikutan melamar pekerjaan. Puluhan lamaran anda yang tak membawa hasil tak mampu membuat anda berpikir kembali, bahwa bukan hanya melamar pekerjaan satu-satunya jalan hidup anda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin didapatkan pelamar pekerjaan adalah penghasilan tetap dan rutin. Apakah hanya mereka yang memiliki penghasilan rutin yang bisa bertahan hidup ? Bukan status berpenghasilan tetap yang perlu dipunyai, lebih penting tetap berpenghasilan agar bisa memenuhi semua kebutuhan. Sumber penghasilan tak terhingga banyaknya, karena semua masalah yang dihadapi manusia berpotensi menjadi sumber penghasilan. Bukankah dokter mendapatkan penghasilan karena ada orang sakit ?&lt;br /&gt;Demikian juga dengan kebuntuan lain, coba lihat dari sudut pandang berbeda. Jangan seperti orang buta memegang gajah, baru memegang ekornya sudah menyimpulkan bentuk gajah. Tentu akan mengira gajah sejenis ular, tidak percaya kalau bisa dinaiki 10 orang. Kalau kita mau melihat setiap kebuntuan dari beragam sudut pandang, kita akan merasakan kebenaran firman Allah SWT, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasrah 5). Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah, Edisi 19, Februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1976898769342101232?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1976898769342101232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1976898769342101232&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1976898769342101232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1976898769342101232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/02/menerobos-kebuntuan.html' title='Menerobos Kebuntuan'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mRaWMqy3I/AAAAAAAAAF0/Qgq5ZIuIaXg/s72-c/Kebuntuan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4669162534318805313</id><published>2010-01-10T06:57:00.000-08:00</published><updated>2010-04-29T07:00:39.998-07:00</updated><title type='text'>Mengatasi Keterbatasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQ6BaQi0I/AAAAAAAAAFs/F-5Y1kmWdAk/s1600/Keterbatasan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQ6BaQi0I/AAAAAAAAAFs/F-5Y1kmWdAk/s400/Keterbatasan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465558949276191554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Obama umur 48 sudah jadi Presiden AS, mengapa Ayah umur 50 baru jadi Kepala Desa ?” Pertanyaan sederhana seorang anak kepada ayahnya ini, sepintas bak sebuah lelucon yang mengundang senyum geli. Namun bila dikaji lebih jauh sebenarnya memiliki kedalaman makna bila dikaitkan dengan pengembangan potensi diri. Cakupan permasalahan yang ditangani Presiden AS dan kepala desa sangat tidak sebanding, baik menyangkut luas wilayah maupun jumlah penduduknya. Sehingga substansi pertanyaan anak tersebut sebenarnya adalah mengapa kemampuan ayahnya dalam menangani masalah lebih rendah dibandingkan orang yang lebih muda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemampuan manusia kan berbeda-beda dan ada batasnya !” Begitu alasan yang kemudian akan dimunculkan. Alasan yang benar tapi tidak selalu tepat. Benar sebab memang demikian keadaannya, tidak tepat karena perbedaan dan batas kemampuan manusia adalah sesuatu yang abstrak. Baru bisa disimpulkan setelah yang bersangkutan melakukan usaha secara maksimal. Banyak kejadian seorang yang prestasi akademisnya sewaktu di SD dan SMP biasa-biasa saja, bisa berkembang menjadi mahasiswa teladan ketika kuliah. Sebaliknya yang sebelumnya menjadi bintang pelajar sewaktu di SD dan SMP malah kemudian drop out kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya jelas bukan karena kemampuannya berubah, tapi lebih pada perkembangan pribadi dalam mengatasi berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Ada yang semakin bisa mengelola keterbatasannya ada yang tidak, sehingga seolah-olah sudah mencapai puncak kemampuannya untuk kemudian stagnan atau malah justru menurun. Di sinilah perlunya kemampuan didukung oleh kemauan agar bisa memberikan hasil yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah ilustrasi, kemampuan manusia bisa diibaratkan seperti kemampuan sebuah toples untuk menyimpan kue kering. Kalau langsung diisi dengan kue-kue kecil begitu toples penuh tidak bisa diisi dengan kue yang lebih besar, sehingga hanya satu jenis kue kecil yang bisa diwadahi. Tapi jika toples diisi kue dengan ukuran yang lebih besar dahulu, akan beragam ukuran kue yang bisa ditampung dalam toples. Ketika kue ukuran besar sudah tidak bisa masuk lagi, kue ukuran yang lebih kecil masih dimasukkan di sela-sela kue yang lebih besar, begitu seterusnya sampai toples benar-benar penuh terisi kue-kue dengan beragam ukuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan kemampuan manusia, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak. Jika hanya digunakan untuk menangani hal-hal kecil saja akan membatasi kemampuannya hanya pada penanganan masalah masalah-masalah kecil juga. Sebaliknya kalau mau menggunakannya untuk menangani persoalan-persoalan besar dan meluangkan kesempatan untuk menangani masalah yang lebih kecil, akan membuat pemanfaatan kemampuannya lebih optimal dalam menangani berbagai persoalan. Sehingga meskipun sama-sama memiliki keterbatasan kemampuan namun karena cara mengelolanya berbeda-beda membuat kualitas manusia akhirnya juga berbeda-beda.&lt;br /&gt;Karena itu jangan terus menerus berkutat pada gagasan kecil, buatlah gagasan besar tanpa harus melupakan gagasan kecil, karena keduanya sama-sama harus diwujudkan ! Yang harus selalu diingat Allah SWT menegaskan “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al An’am 132). Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah, Edisi 18, Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4669162534318805313?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4669162534318805313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4669162534318805313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4669162534318805313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4669162534318805313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2010/01/mengatasi-keterbatasan.html' title='Mengatasi Keterbatasan'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQ6BaQi0I/AAAAAAAAAFs/F-5Y1kmWdAk/s72-c/Keterbatasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-5118272195533377837</id><published>2009-11-28T08:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T08:27:57.370-08:00</updated><title type='text'>Membangun Kemandirian Daerah</title><content type='html'>Suara Merdeka, Wacana&lt;br /&gt;28 Nopember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Achmad Marzoeki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perbedaan dalam memposisikan investasi ini akan sangat berpengaruh terhadap visi pembangunan daerah itu sendiri.Dengan menempatkan investasi sebagai instrumen, artinya sangat mungkin ada instrumen lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah otonomi daerah diberlakukan melalui penerapan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (kini sudah diganti UU Nomor 32 Tahun 2004) sejumlah daerah mengalami pemekaran. Provinsi yang semula berjumlah 26, kini menjadi 33. Kabupaten/ kota, kecamatan dan kelurahan/ desa juga mengalami pemekaran. Ketentuan dalam UU tersebut memang memungkinkan dilakukannya pemekaran daerah, baik provinsi maupun kabupaten/ kota, serta kecamatan dan kelurahan/ desa sebagai bagian dari kabupaten/ kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian otonomi luas kepada daerah merupakan titik temu gagasan penyelenggaraan pemerintahan yang ideal di Indonesia pasca reformasi, ketika federalisme akhirnya terhenti dalam tataran wacana. Dalam Penjelasan UU Nomor 32 Tahun 2004 secara gamblang dijelaskan otonomi diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya ketika kesejahteraan masyarakat belum kunjung terwujud, maka penerapan otonomi tersebut mutlak dievaluasi, baik evaluasi yang bersifat lokal maupun nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkatan ekstrem, evaluasi lokal bisa berujung pada pelaksanaan pasal 6 ayat (1) yang berbunyi ‘’Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah.’’ Evaluasi nasional bisa memicu kembali mengemukanya gagasan federalisme, apabila ternyata otonomi yang luas belum mampu menyelesaikan masalah pembangunan daerah secara tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebenarnya ada 2 alternatif, yakni pemekaran daerah atau penghapusan dan penggabungan daerah, sampai sekarang yang selalu terjadi adalah alternatif pertama. Memang di Jawa Tengah, pada tahap awal pelaksanaan otonomi daerah sempat ditandai dengan kembalinya Cilacap dan Purwokerto yang semula sudah menjadi kotamadya administratif menjadi bagian dari kabupaten induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Bekasi dan Depok di Jawa Barat yang kemudian bisa ìnaik kelasî menjadi kota sebagai bagian dari pemekaran kabupaten induknya, Bekasi dan Bogor. Namun selain kembalinya kotamadya adminstratif ke kabupaten induknya, belum pernah ada penggabungan atau penghapusan daerah yang dinilai gagal melaksanakan otonomi daerah, walaupun sejumlah evaluasi telah banyak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil evaluasi pelaksanaan otonomi daerah dengan segala plus-minusnya, belum ada yang berlanjut dengan pelaksanaan pasal 6 ayat (1) UU nomor 32 tahun 2004. Kesannya semua evaluasi yang telah dilakukan hanya dipandang sebelah mata dan diterima dengan setengah hati oleh para pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran terhadap masyarakat dalam masalah otonomi sepertinya juga tidak pernah ada. Terbukti yang muncul ke permukaan hanya aspirasi untuk pemekaran daerah, nyaris belum pernah ada aspirasi untuk penghapusan atau penggabungan daerah, termasuk terhadap daerah yang berdasarkan data statistik bisa dikatakan gagal mengemban amanah otonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat hanya mendapatkan informasi sepotong-sepotong, seolah-olah pemekaran daerah memberi jaminan peningkatan kesejahteraannya. Dalam konteks ini, para elite daerahlah yang semestinya bertanggung jawab sehingga aktivitasnya tidak hanya menggalang dukungan terhadap pemekaran tapi juga diikuti penyadaran terhadap upaya membangun kemandirian daerah, baik hasil pemekaran, daerah induk, maupun daerah yang sudah lama dibentuk sebelum penerapan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi tersebut, memang belum nampak faktor eksternal yang bisa mendorong kemandirian daerah. Kalau ada daerah otonomi yang setelah dinilai gagal kemudian dihapus atau digabungkan dengan daerah lain, maka hal itu bisa menjadi faktor pendorong eksternal bagi setiap daerah untuk memacu kemandiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan faktor eksternal itu membuat kemandirian daerah mesti dibangun dari dalam, dari daerah itu sendiri. Sayangnya di hampir setiap pemilihan kepala daerah (pilkada) umumnya para kandidat lebih mengedepankan janji investasi ketimbang mendorong daerahnya lebih mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga program yang disusun kepala daerah terpilih, lebih berorientasi menarik minat investor daripada memprioritaskan kemandirian daerah. Alhasil, seperti halnya pemahaman terhadap otonomi, apa yang dipahami masyarakat tentang investasi juga bisa mengalami distorsi, seolah-olah besarnya investasi di daerah akan berbanding lurus dengan membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang investasi juga bukan barang haram dalam upaya membangun kemandirian daerah. Namun investasi hanya menempatkan masyarakat daerah sebagai pelengkap atau minimal sebatas subyek pendukung bukan subyek utama. Kalau salah pengelolaan bahkan bisa menjadikan masyarakat hanya menjadi pelengkap penderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi di bidang perdagangan ritel misalnya, hanya melibatkan masyarakat untuk menjadi karyawannya dan sedikit pengusaha kecil yang bisa menjadi pemasok barang. Karena umumnya tidak mudah untuk menjadi pemasok barang ke ritel-ritel besar. Sementara pedagang-pedagang di pasar tradisional bisa menjadi pelengkap penderita karena akhirnya kalah dalam persaingan yang tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dampak investasi yang perlu dipertimbangkan, harus diingat pula bahwa investasi merupakan instrumen dan bagian dari pembangunan daerah bukan tujuan utamanya. Perbedaan dalam memposisikan investasi ini akan sangat berpengaruh terhadap visi pembangunan daerah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menempatkan investasi sebagai instrumen, artinya sangat mungkin ada instrumen lain yang bisa menjadi penggantinya. Tapi kalau menempatkan investasi sebagai tujuan maka masuknya investor akan menjadi titik akhir. Kontrol pemda terhadap investor bisa hilang, sebaliknya daerah malah bisa dikendalikan oleh investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan realita tersebut, maka kemandirian daerah semestinya perlu lebih diprioritaskan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Daerah dengan basis pertanian, bisa membangun kemandirian daerah yang berbasis pertanian pula. Beragam penelitian di bidang petanian sudah banyak menghasilkan teknologi yang mampu menekan ongkos produksi sekaligus meningkatkan produktivitas lahan, seperti penggunaan pupuk organik sebagai pengganti pupuk urea yang sering terkendala distribusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi pascapanen dan pengolahan hasil pertanian juga sudah semakin maju untuk menjaga kualitas hasil pertanian. Selain itu pasti pasar hasil pertanian tidak pernah jenuh, karena jumlah penduduk terus bertambah. (80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Achmad Marzoeki ST, mahasiswa S2 Manajemen Pembangunan Daerah STIA-LAN Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-5118272195533377837?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/5118272195533377837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=5118272195533377837&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5118272195533377837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5118272195533377837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/11/membangun-kemandirian-daerah.html' title='Membangun Kemandirian Daerah'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1535523746230290785</id><published>2009-09-29T04:34:00.001-07:00</published><updated>2009-09-29T05:03:29.376-07:00</updated><title type='text'>Ora Ngapak Ora Kepenak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SsH3e_5mc6I/AAAAAAAAAEA/A_P1Nd_fcJQ/s1600-h/Kebumen+Tulen.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SsH3e_5mc6I/AAAAAAAAAEA/A_P1Nd_fcJQ/s400/Kebumen+Tulen.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386858741232989090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gagasan pembangunan daerah yang lebih memperhatikan sumber daya lokal bukan hanya mengemuka di Indonesia. Di tahun 1990-an di Jepang, meski belum begitu populer, sudah mulai ada upaya memunculkan lokalogi, yaitu ilmu pengetahuan tentang daerah atau masyarakat lokal. Di Propinsi Iwate misalnya, pemda setempat berinisiatif dan memfasilitasi penyusunan Ilmu Iwate untuk membangkitkan daerahnya. Menyusul kemudian Ilmu Yamagata di Propinsi Yamagata, Ilmu Kakegawa di Kota Kakegawa,  Ilmu Minamata di Kota Minamata dan sebagainya.&lt;br /&gt;Menurut Mr. Yoshimoto, seorang aparat Pemda Kota Minamata yang merupakan salah satu pencipta Ilmu Minamata, titik awal pelaksanaan lokalogi adalah adanya kenyataan bahwa masyarakat setempat belum tahu apa-apa tentang daerahnya sendiri. Akibatnya, mereka selalu melihat apa yang tidak ada di daerah, tanpa melihat apa yang ada di daerah. Ini merupakan semacam penyakit kehilangan jati diri yang membuat mereka menjadi tidak percaya diri lagi. Keadaan ini bisa menyebabkan  dua kemungkinan, mereka akan mudah dipengaruhi oleh pendapat orang luar dan trend dunia luar, atau sebaliknya mereka akan menutup diri dan menolak pendapat dari orang luar. &lt;br /&gt;Setelah reformasi, Kebumen termasuk daerah yang mengalami banyak perubahan, setelah sebelumnya sering dijuluki sebagai daerah stagnan. Namun apakah perubahan itu bertumpu pada potensi sumber daya lokal Kebumen, masih perlu dikaji lebih lanjut. Penyusunan Rencana Strategis Daerah (Renstrada) setiap 5 tahun menjadi momentum yang strategis. Dan karena ruhnya adalah visi-misi dari pasangan Bupati-Wakil Bupati terpilih dalam Pilbup 2010 nanti, pilbup menjadi penting dalam ikut menentukan arah perkembangan Kebumen, bertumpu pada potensi lokal Kebumen atau sekadar menjiplak rencana daerah lain.&lt;br /&gt;Ilmu Kebumen memang perlu dikembangkan untuk memberi arah pembangunan Kebumen. Tapi tidak usah berpikir terlalu rumit dulu. Kita mulai dengan ungkapan sederhana saja, “Ora Ngapak Ora Kepenak”. Artinya, mari merencanakan pembangunan Kebumen bersama masyarakat Kebumen dengan memakai bahasa sehari-hari orang Kebumen, sehingga lebih banyak pula informasi yang bisa diperoleh tentang Kebumen. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1535523746230290785?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1535523746230290785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1535523746230290785&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1535523746230290785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1535523746230290785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/09/ora-ngapak-ora-kepenak_29.html' title='Ora Ngapak Ora Kepenak'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SsH3e_5mc6I/AAAAAAAAAEA/A_P1Nd_fcJQ/s72-c/Kebumen+Tulen.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-3520903879106069871</id><published>2009-09-16T06:44:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T06:45:53.913-07:00</updated><title type='text'>Menggabungkan Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial</title><content type='html'>Achmad Marzoeki ( Kang Juki )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap bulan Ramadhan, masjid, langgar, surau dan mushola senantiasa dipenuhi jama’ah, khususnya pada saat shalat Isya’ yang dilanjutkan dengan shalat tarawih. Waktu shalat yang lain pun jumlah jama’ahnya bisa lebih dua kali lipat dibanding pada hari-hari biasa, termasuk shalat Subuh yang jama’ahnya pada hari-hari biasa tidak selalu habis dihitung dengan semua jari. Alunan suara bacaan Al Qur’an pun nyaris tiada putusnya terdengar di berbagai tempat. Sebuah pertanyaan menggelitik kemudian muncul, dalam suasana yang penuh nuansa Islam tersebut, masih mungkinkah kasus-kasus korupsi terjadi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut tidaklah mengada-ada, bila mengingat sampai saat ini Indonesia masih termasuk kelompok negara peringkat atas dalam urusan korupsi. Padahal penduduk negeri ini mayoritas adalah umat Islam. Apakah umat Islam Indonesia tergolong tidak taat pada ajaran agamanya sehingga tindak pidana korupsi pun masih mendominasi kehidupan sehari-hari ? Jika kita melihat semaraknya aktivitas ibadah selama bulan Ramadhan, gugatan pertanyaan tersebut dengan sendirinya bisa dimentahkan.&lt;br /&gt;Para pengamat sosial keagamaan kemudian menyebut fenomena umat Islam Indonesia sebagai akibat belum berimbangnya kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Ajaran Islam sesungguhnya tidaklah mengenal kedua istilah tersebut. Penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian memunculkan fenomena tersebut. Kesalehan pribadi ditunjukkan dengan ketaatan pada kewajiban beribadah mahdhoh, baik yang wajib maupun sunat, dengan kata lain kesadaran untuk menjaga hubungan pribadi dengan Allah SWT (hablun minallah). Sementara kesalehan sosial diwujudkan dengan kesadaran melakukan ibadah ghoiru mahdhoh yang manfaatnya ikut dirasakan orang lain.&lt;br /&gt;Kesadaran untuk meningkatkan kesalehan pribadi meningkat drastis pada saat datangnya bulan Ramadhan yang antara lain ditandai dengan lonjakan jumlah jama’ah shalat di masjid. Tidak sedikit pula yang kemudian berlanjut hingga usainya bulan Ramadhan. Sementara kesalehan sosial baru ditunjukkan dalam bentuk kesadaran untuk mengeluarkan zakat, infaq dan shodaqoh (ZIS). Itupun terkadang dengan cara yang kurang tepat. Akibatnya kita melihat pemandangan lain di bulan Ramadhan, selain masjid yang dipenuhi jama’ah, kota-kota juga dipenuhi fakir miskin yang kesana kemari meminta ZIS. Kita tidak tahu pasti apakah mereka yang berbaju compang-camping itu benar-benar fakir miskin atau hanya memanfaatkan situasi saja, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepantasnya kita membuat fakir miskin mengantri untuk mendapatkan ZIS. Betapa martabat mereka seperti tergadai hanya untuk mendapatkan paket sembako dan uang puluhan ribu rupiah. Tak jarang akibat antrian panjang yang terjadi kemudian adalah musibah yang membuat mereka sakit dan bahkan ada yang meregang nyawa, seperti kejadian tahun lalu di Jawa Timur. Para dermawan dan ‘amil semestinya mengantarkan ZIS langsung ke rumah-rumah para mustahik, sebagaimana dulu Khalifah Umar bin Khaththab ra langsung mengantar ke rumah seorang janda miskin yang kehabisan makanan. Di samping meningkatkan silaturrahim, hal ini memastikan penerima ZIS adalah benar-benar orang yang berhak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang hari ini terjadi, para aghniya’ (orang-orang kaya) masih memberikan ZIS dengan sikap angkuh. Ada keengganan untuk bertemu langsung dengan fakir miskin, sehingga cukup menugaskan orang lain untuk menghadapi antrian panjang di rumahnya. Para aghniya’ itu seakan semakin nampak kedermawanannya dengan semakin banyaknya fakir miskin yang mengantri di depan rumahnya. Kita tidak tahu, apakah ada gerutuan dan umpatan dari para fakir miskin yang terpaksa harus antri, berdesak-desakan bahkan mungkin saling injak, sebelum mendapatkan pemberian tersebut.&lt;br /&gt;Selain kurang memberi kenyamanan bagi para fakir miskin yang hendak menerima, situasi semacam ini juga memungkinkan terlontarnya kata-kata yang kurang pantas, pemberiannya kurang tepat sasaran dan cenderung menjerumuskan ke lembah riya’ (pamer), suatu hal yang tidak disukai Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Q.S. Al Baqarah 264)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seandainya ZIS itu diantarkan langsung para aghniya’ ke rumah-rumah fakir miskin. Ikatan silaturrahim semakin erat, kesenjangan kaya-miskin semakin sirna, solidaritas sosial terbangun, tentulah kehidupan yang tenteram lebih mudah diwujudkan. Kita tidak perlu lagi melihat pemandangan memilukan di kota-kota yang menjadi ironi bulan Ramadhan, barisan fakir miskin di negeri yang melimpah kekayaan alamnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kesalehan sosial semestinya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk mengeluarkan ZIS, tapi juga menjaga perilaku yang memiliki dampak sosial. Tindakan korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan hanyalah salah satu contoh belum dimilikinya kesalehan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak contoh-contoh tindakan yang merugikan orang lain, meski yang menjadi korbannya tidak selalu merasakan. Perdagangan yang tidak jujur, pergaulan yang lebih didominasi basa-basi, penyelenggaraan pendidikan yang hanya formalitas belaka sampai pada hal-hal yang nampaknya sederhana, merokok dan membuang sampah di sembarang tempat. Karena inti dari kesalehan sosial itu adalah sebanyak mungkin kemanfaatan yang bisa kita berikan kepada orang-orang di lingkungan kita dan sesedikit mungkin kumudharatan yang harus dirasakan orang lain akibat tindakan kita. Sehingga orang-orang di lingkungannyalah yang akan sangat merasakan berkah kesalehan sosial seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk kesalehan sosial disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang artinya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam; Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya;Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. (H.R. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil peningkatan ibadah kita di bulan Ramadhan, marilah kita berusaha menggabungkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial untuk lebih menyempurnakan sifat kemusliman kita, taat dan bermanfaat. Mari kita sama-sama mengoreksi tindakan rutin keseharian kita, masih adakah yang merugikan orang lain, baik secara moril maupun materil. Untuk memulainya bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, misalnya : jika kita bukan orang yang rajin membersihkan lingkungan, maka janganlah kita menjadi orang yang mengotori dengan membuang sampah di sembarang tempat; jika kita bukan orang yang mampu membantu dengan materi, maka janganlah kita menjadi orang yang boros dengan pengeluaran yang tidak perlu dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap muslim saling berusaha agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi muslim lainnya akan terwujud kehidupan masyarakat Islam yang benar-benar bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin. Tidak hanya manusia saja yang merasakan, tapi makhluk lain yang menjadi penghuni dunia ini juga ikut merasakannya. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-3520903879106069871?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/3520903879106069871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=3520903879106069871&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3520903879106069871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3520903879106069871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/09/menggabungkan-kesalehan-pribadi-dan.html' title='Menggabungkan Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7725054619416032333</id><published>2009-08-03T06:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T06:11:52.424-07:00</updated><title type='text'>Asyiknya Ikut PII; Dari Aktifis Bawah Tanah sampai menjadi PNS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Snbh2oBSzGI/AAAAAAAAADQ/Xpv8HT0EY3w/s1600-h/Aku-BW.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Snbh2oBSzGI/AAAAAAAAADQ/Xpv8HT0EY3w/s320/Aku-BW.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365724334630554722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"  &gt;Achmad Marzoeki&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;Achmad Marzoeki, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;dilahirkan di Kebumen, 25 April 1968. Alumni Teknik Kimia Undip Semarang (1995). Aktif di PW PII Jawa Tengah (1987-1993), dengan jabatan Departemen Penerangan, Sekretaris Umum, Kabid Pemda, Kabid Intern dan beberapa jabatan lainnya. Terakhir aktif di PII sebagai Kabid Komunikasi Umat PB PII (1998-2000). Usai di PII melanjutkan aktifitas di PP GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) sebagai Wakil Sekjen (2000-2003) serta Kabid Pendidikan dan Kaderisasi (2003-sekarang). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Untuk lebih mempererat silaturrahim gagasan para mantan aktifis PII, mendirikan milis JSP Mantan PII pada tanggal 7 Mei 2005. Pernah mengajar di Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi (1995-1997) dan Ponpes Khairul Bariyyah, Bantar Gebang, Bekasi (1997). Sekarang bekerja sebagai PNS di Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di Jakarta dan tengah mengikuti Program Magister Manajemen Pembangunan Daerah STIA-LAN Jakarta. Sejak tahun 2002 bersama keluarga berdomisili di Cibinong, Bogor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;(amarzoeki@yahoo.com, &lt;a href="http://www.achmadmarzoeki.blogspot.com/"&gt;www.achmadmarzoeki.blogspot.com&lt;/a&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Lima belas tahun lebih (1985 s.d. 2000) aku beraktifitas di PII, meski selama kurun waktu tersebut ada dua kali jeda aktifitas. Jeda pertama terjadi dari pertengahan tahun 1986 sampai penghujung tahun 1987, karena aku melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Meski dalam administrasi pemerintahan, kota kelahiranku Kebumen termasuk Provinsi Jawa Tengah, namun dalam pembagian kepengurusan PII, Kebumen masuk wilayah Yogyakarta Besar. Aku tidak paham bagaimana melanjutkan aktifitas di PII ketika terjadi perpindahan wilayah seperti itu, karena ketika itu aku memang belum banyak tahu tentang PII. Selama di Kebumen baru 6 kegiatan PII yang kuikuti, Batra, Panitia Batra, Konferensi Daerah, Rapat Pembentukan Pengurus Komisariat (PK) PII Kebumen Kota, TC Kepengurusan PK PII Kebumen Kota dan mengirim peserta Batra. Pengalaman itu masih belum cukup membuatku memahami PII sehingga sempat juga terpikir aktifitasku di PII akan berakhir begitu melanjutkan kuliah di Semarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Jeda kedua terjadi dari pertengahan tahun 1993 sampai awal tahun 1995. Pertengahan tahun 1993, aku minta berhenti dari PW PII Jawa Tengah, karena sudah 6 tahun duduk dalam kepengurusan, dari paruh kedua periode 1986-1988 yang dipimpin Zuber Syafawi sampai paruh pertama periode 1992-1994 yang dipimpin Lukman Hanafi. Tak terpikir olehku untuk masuk dalam kepengurusan PB PII, karena selama di PW PII Jawa Tengah aku spesialis orang dalam, tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan PII tingkat nasional. Hanya sekali mengikuti kegiatan PII di luar wilayah, itupun “pulang kandang” ke Yogyakarta mengikuti Lokakarya “Training sebagai Gerakan Budaya”. Satu setengah tahun lebih jarang bersinggungan dengan aktifitas PII, aku kembali lagi ke PII karena dimasukkan dalam kepengurusan PB PII Periode 1995-1998. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Perkenalan dengan PII&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kebumen yang menjadi tempat kelahiranku hanyalah sebuah kota kecil di daerah Kedu Selatan. Sempat mendapat julukan kota pensiunan dan daerah stagnan, karena lambat berkembang. Dari lahir hingga menamatkan SMA pengenalanku tentang Kebumen hanya sebatas alun-alun dan sekitarnya, karena SD, SMP dan SMA tempatku sekolah semuanya berlokasi di sekitar alun-alun. Sementara rumah orang tuaku sendiri berada di Kauman, sebelah barat alun-alun. Aku mengenal dunia luar, karena sejak SD sudah terbiasa membaca koran dan majalah. Itu pula sebabnya aku mengenal nama PII sudah sejak kecil dari informasi kegiatannya yang kubaca di Harian Umum Pelita, satu-satunya koran umat Islam pada era 1970-an dan majalah Panji Masyarakat yang waktu itu masih dipimpin Buya Hamka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Keinginanku untuk bergabung dengan PII menguat ketika isu asas tunggal mulai menghangat. Kebetulan Ayahku mendapat kiriman naskah-naskah khotbah A.M. Fatwa dan Abdul Qadir Jaelani serta selebaran-selebaran tentang asas tunggal yang langsung kulahap habis. Keberanian mereka mengkritisi pemerintah Orde Baru justru di masa jayanya semakin membuat keinginanku semakin kuat untuk bergabung dengan PII. Tapi aku tidak tahu ada tidaknya PII di Kebumen. Baru pada tahun 1984 ketika duduk di kelas II SMA aku mengenal Wagirun, mantan Ketua Umum PD PII Kebumen Periode 1983-1984, yang kebetulan tinggal di asrama Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah Kebumen,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak jauh juga dari alun-alun Kebumen. Ternyata aktifitas PD PII Kebumen memang lebih banyak di Petanahan, Gombong atau Sruweng. Wajar kalau daya jelajahku yang baru sebatas kawasan kota Kebumen belum bisa memantau aktifitas PII. Selanjutnya aku mengenal Munfajir Ghozali yang saat itu menjabat Ketua Umum PD PII Kebumen Periode 1984-1985. Interaksi dengan aktifis PII terus berlanjut sehingga akhirnya aku mengikuti &lt;i&gt;Basic&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Training&lt;/i&gt; (Batra) di SMP Muhammadiyah Majenang, Cilacap, 1-7 Juli 1985.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Keikutsertaan di Batra tentu saja menjadi pengalaman tersendiri bagiku. Aku sempat terbengong-bengong ketika ditanya surat mandat. Karena yang mengajakku Batra temanku Irwanto, yang sudah lebih dulu mengikuti, tentu saja aku tidak tahu keikutsertaanku di Batra atas mandat pengurus PII mana. Apalagi sampai saat itu aku kenal istilah mandat juga cuma dari istilah “Presiden adalah Mandataris MPR” dalam pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), jadi tidak tahu kalau dalam kehidupan organisasi diperlukan juga surat mandat. Persoalan tersebut agaknya bisa segera dibereskan, aku bersama tiga orang temanku dari Kebumen bisa mendapat mandat dari PD PII Kebumen untuk mengikuti Batra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Jujur saja, selama mengikuti Batra tidak ada sesuatu proses yang menurutku istimewa. Kesadaran bahwa semua peserta diamati para instruktur membuatku kepingin mengecoh penilaian itu. Karena semua peserta nampaknya didorong untuk berbicara, maka sesekali aku juga ikut berbicara. Pokoknya jangan sampai dalam satu sesi pembahasan hanya diam saja, tapi aku juga tidak mau terlalu banyak bicara. Sehingga jika dalam satu sesi kalau sudah bicara sekali aku kemudian cenderung diam saja, mencoba memperhatikan peserta-peserta lain yang sangat beragam latar belakang daerah maupun pendidikannya. Asal daerah yang kutahu ada yang dari Magelang, Yogya, Temanggung, Kebumen dan Cilacap, khususnya Majenang yang jadi tuan rumah. Yang paling muda kelas III SMP dan yang tertua kuliah di semester III. Meski demikian, aku tidak melihat kecanggungan dalam pergaulan, yang paling muda tidak minder dan yang paling tua juga tidak arogan. Ini menjadi pelajaran berharga bagiku yang saat itu baru naik kelas III SMA dan merasa kepercayaan diriku tergolong rendah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kedisiplinan sepertinya memang hendak dibangun selama Batra, hal ini nampak dari pembahasan yang bisa panjang kalau ada peserta yang terlambat ketika seharusnya sesi acara sudah dimulai. Namun aku menebak paling itu terjadi pada masa-masa permulaan saja. Sehingga ketika sudah mendekati hari-hari terakhir, aku sengaja masuk 30 menit lebih lambat dari seharusnya dan benar ternyata tidak ada komentar apa-apa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ada dua isu yang hangat dibacarakan peserta setiap kali waktu istirahat atau di luar sesi resmi Batra, yaitu konsep tentang Tuhan dan asas tunggal Pancasila. Konsep tentang Tuhan sering dibicarakan, karena waktu itu buku “Kuliah Tauhid”-nya Bang Imad (Imaddudin Abdulrachim) memang sedang jadi bahan pembicaraan, apalagi saat itu juga tengah hangat-hangatnya pembicaraan tentang kewajiban hormat bendera sebelum dan seusai mengikuti pelajaran di sekolah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sementara isu asas tunggal sering dibicarakan, karena Rancangan UU Keormasan sudah siap hendak diundangkan dan sudah banyak ormas Islam termasuk NU yang sudah mendahului mengganti asas Islam dengan asas Pancasila melalui Muktamar Situbondo, 1984, sementara Muhammadiyah juga menampakkan kecenderungan hendak menerima asas tunggal dalam Muktamar yang akan diselengarakan akhir 1985 di Solo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Yang bagiku menarik dalam pelaksanaan Batra adalah cara penyajian makanan buat peserta yang unik. Setiap peserta mendapatkan secarik kertas untuk pengambilan jatah makan. Kalau tidak membawa kartu makan tersebut peserta tidak bisa mendapatkan jatah makan. Bagi peserta yang membawa uang saku mungkin tidak masalah jika tidak mendapat jatah makan, tapi bagi yang tidak tentu akan kelaparan. Muncullah kemudian sebutan kartu makan tersebut sebagai “kartu penyambung nyawa”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Peserta makan menggunakan &lt;i&gt;besek&lt;/i&gt; (tempat nasi dari anyaman bambu). Meski berukuran besar namun nasinya hanya sedikit dan ditempatkan di pojok. Lauk yang sering disajikan bersama sayur adalah “tempe goreng pas foto” (tempe dipotong tipis ukurannya sekitar 3 x 4 cm). Karena kalau hanya makan satu porsi belum kenyang, aku berempat dengan teman-temanku berhasil mendapatkan satu kartu makan cadangan. Sehingga berempat kami mendapat lima porsi tiap kali makan, satu porsi dibagi-bagi kami berempat sebagai tambahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Usai mengikuti Batra, kegiatan menarik di PII yang kuikuti adalah Konda (Konferensi Daerah). Karena dianggap berhasil menjadi panitia penyelenggara Batra di Kecamatan Kebumen, meski belum ada komisariat kami diperbolehkan mengirim delegasi peninjau yang hanya punya hak bicara tanpa hak suara. Ketika mengikuti sidang-sidang itu, rasanya jadi seperti lebih hebat dari anggota DPR yang waktu itu masih lekat dengan istilah 5D, Datang, Duduk, Diam, Dapat Duit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Sayang, karena sudah duduk di kelas III SMA, kiprahku di PII Kebumen hanya sampai komisariat, itupun baru dibentuk dan belum sempat beraktifitas kecuali mengadakan TC Kepengurusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Karena surat pembaca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketika melanjutkan kuliah di Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang tahun 1986, aku tidak pernah berpikir kiprahku di PII akan berlanjut. Logikanya sederhana saja, aku sudah mahasiswa sehingga lebih berpikir untuk bergabung dengan HMI. Apalagi sebelum kuliah aku sempat mengikuti Bimbingan Tes yang diselenggarakan HMI Cabang Solo, tempat kakakku beraktifitas. Selain itu, aku juga merasa belum punya kapasitas dan nilai tawar untuk melanjutkan aktifitas menjadi pengurus PII di jenjang yang lebih tinggi. Saat itu aku merasa “orang-orang PW” hebat-hebat. Karena itu menurutku lebih aman kalau masuk ke HMI saja dan menjadi anggota dulu. Tapi sampai setahun kuliah, aku tidak juga mendapat informasi keberadaan HMI di Fakultas Teknik, jadi tahun pertama kuliah aku tidak memiliki aktifitas ekstra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku memang sempat mengikuti FOSI (Forum Orientasi Studi Islam), yang sepertinya dikelola oleh anak-anak HMI MPO dan menjadi salah satu alat rekrutmen mereka. Namun, saat mencoba terlibat lebih jauh, aku merasa kurang cocok dengan suasana pergaulan yang masih kental diwarnai senioritas. Aku yang sudah terbiasa dibesarkan keluarga dalam suasana yang egaliter kurang nyaman dengan suasana seperti itu. Jadilah aktifitasku terhenti sampai mengikuti FOSI 2. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tidak ada aktifitas ekstra aku juga merasa tidak nyaman, karena Ayahku selalu menanyakan aktifitasku selain kuliah. Hal inilah yang pada akhirnya mendorongku untuk memberanikan diri mencari dan kemudian mendatangi sekretariat PW PII Jawa Tengah di Jalan Dorang 83 Semarang pada pertengahan tahun 1987. Aku juga penasaran untuk mengetahui nasib PII setelah berakhirnya batas waktu bagi setiap ormas untk menyesuaikan diri dengan UU Nomor 8 Tahun 1985. Kesan pertama begitu sampai di sekretariat, aku merasa hanya diterima secara basa-basi saja. Aku pun maklum, situasi pada saat itu tentu tidak mudah begitu saja bagi setiap aktifis PII untuk menerima pengakuan seseorang yang belum dikenal sebagai aktifis PII. Apalagi aku tidak menunjukkan bukti apa-apa sebagai aktifis PII, apakah itu kartu anggota atau piagam training. Akhirnya setelah mengisi buku tamu dan berbicara sebentar, aku pamitan tanpa ada gambaran prospek aktifitasku di PII Jawa Tengah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tidak tahu bagaimana harus memulai berkiprah di PII Jawa Tengah karena tak ada yang kukenal atau memberikan rekomendasi, akhirnya aku iseng menulis surat pembaca tentang PII yang kemudian dimuat majalah Panji Masyarakat No. 551, 17-26 Muharram 1408 H, 11-20 September 1985, dengan judul “PII, Tabahkan Hatimu”. Ternyata surat pembaca yang kutulis membuatku kemudian dicari-cari oleh PW PII Jawa Tengah. Kebetulan aku pindah kos sehingga jejakku tidak ditemukan. Meski keberadaanku belum ditemukan, sepertinya surat pembacaku di Panji Masyarakat demikian mengesankan Ketua Umum PW PII Jawa Tengah Zuber Syafawi (sekarang anggota DPR RI dari PKS) membuatku langsung dimasukkan dalam struktur PW PII Jawa Tengah Periode 1986-1988 hasil reshufle sebagai Staf Departemen Penerangan dan Humas. Aku mengetahui hal itu karena dalam pertemuanku terakhir dengan beliau, pertengahan 2006, surat pembaca itu masih diingatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Entah bagaimana mencarinya, sekitar bulan Desember 1987 Sekretaris Umum PW PII Jawa Tengah Salafuddin Tr sampai juga ke tempat kosku mengantarkan SK PW PII Jawa Tengah Periode 1986-1988 hasil reshufle. Meski agak canggung, kupaksakan diri untuk memulai mengikuti kegiatan PII Jawa Tengah dengan mengikuti Mental Training di Pekalongan, Desember 1987. Karena masuk tanpa melalui forum ta’aruf, banyak personil PW PII Jawa Tengah yang tidak mengenalku. Sehingga ketika datang ke sekretariat mau berangkat Mentra ada yang mengiraku dari PD PII Semarang. Bahkan sampai beberapa bulan dalam pertemuan-pertemuan PW aku seperti jadi &lt;i&gt;mistery guest&lt;/i&gt;, diam-diam ada yang berbisik-bisik mempertanyakan aku. Sampai saat itu di PW PII Jawa Tengah hanya ada seorang pengurus yang berasal dari Magelang (termasuk PW PII Yogyakarta Besar) tapi tidak begitu aktif, sehingga kesan yang kutangkap teman-teman PW PII Jawa Tengah mungkin kurang mampu menciptakan suasana kondusif bagi kehadiran kader PII dari wilayah lain. Atau mungkin di PII cukup kuat ego kewilayahannya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Penguatan batin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Karena masuk dalam kepengurusan otomatis aku terus melanjutkan jenjang training sampai Advance. Meski tidak bisa menjelaskan, aku merasa ada yang beda dalam pelaksanaan training di PW Yogya dengan PW Jawa Tengah. Aku tidak merasa “tersentuh” selama mengikuti &lt;i&gt;Mental&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Training&lt;/i&gt; (Mentra) maupun &lt;i&gt;Advance&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Training&lt;/i&gt;. Meski demikian tidak ada keinginanku untuk berhenti beraktifitas di PII. Bahkan sebelum mengikuti &lt;i&gt;Advance&lt;/i&gt;, aku keluar dari kos dan tinggal di sekretariat PW PII Jawa Tengah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Yang kemudian kudapatkan adalah penguatan batin ketika menjalankan roda organisasi PII, karena pemerintah sudah jelas-jelas melarang kegiatan atas nama PII setelah keluarnya SK Mendagri Nomor 120 Tahun 1987. Ujian itu dimulai pasca mengikuti &lt;i&gt;Advance&lt;/i&gt; di Solo, Desember 1988, yang pelaksanaannya juga bersamaan dengan Batra dan Mentra. Beberapa bulan setelah pelaksanaan training tersebut, ada mantan peserta Batra yang membocorkan informasi ke aparat. Akibatnya kemudian di hampir semua daerah, sekitar bulan April 1989 banyak mantan peserta Batra dan pengurus daerahnya dipanggil aparat. Demikian juga di tingkat PW, hanya yang ada dalam catatan aparat masih PW PII periode lama yang dipimpin Zuber Syafawi. Belum ada namaku, sehingga aku tidak ikut dipanggil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dampak pemanggilan itu sangat terasa, meski yang kemudian sampai ditahan tanpa melalui persidangan hanya seorang, yaitu Suherman, Komandan Korwil Brigade PII Jawa Tengah. Wisma Dodeti (Jl. Dorang 83), demikian kami biasa menyebut sekretariat PW PII Jawa Tengah, langsung menurun drastis aktifitasnya. Puncaknya hanya 4 orang yang bertahan tinggal di sekretariat, Salafuddin yang sudah jadi Ketua Umum, Ali Samian, aku dan Abdul Hamid (mantan Bendahara Umum PW). Bahkan Sekretaris Umum PW Andhika Asykar tidak diketahui di mana rimbanya. Tragisnya dalam situasi yang sedang mencekam seperti itu, saluran PAM di sekretariat diputus karena tunggakan pembayaran bertahun-tahun. Jadilah kebutuhan MCK kami dipenuhi dengan menjadi “penadah hujan”, menumpang tetangga atau ke MCK Umum di Pasar Johar atau Masjid Kauman Semarang yang tidak jauh dari sekretariat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku tidak punya senior yang dekat untuk mengadu, sehingga hanya bisa menghibur diri, “Untung mengalami keadaan seperti ini dalam kondisi masih lajang, coba kalau sudah berkeluarga ?” Sejak saat itu sampai sekarang rutinitas do’aku setiap habis shalat bertambah dengan do’a Ashabul Kahfi, “... &lt;i&gt;Rabbana atina min ladunka rahmatan wa hayyi’ lana min amrinaa rasyada&lt;/i&gt;” (QS. Al Kahfi 10) yang artinya “... Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” Tak hanya do’a, Ashabul Kahfi juga memberiku inspirasi prinsip sekuriti. Aku menolak prinsip sekuriti yang diajarkan di Batra “Buka mata lebar-lebar, Pasang telinga kuat-kuat dan Tutup mulut rapat-rapat”. Secara bergurau aku suka mengajak teman-teman untuk memperagakan. “Lucu kan ?” tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Semestinya jika merujuk Ashabul Kahfi, prinsip sekuriti menurutku adalah “... &lt;i&gt;wal yatalaththaf walaa yus’iranna bikum ahada&lt;/i&gt;” (QS. Al Kahfi 19) yang artinya “... dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceriterakan keadaanmu kepada seseorangpun”. Ayat tersebut dalam Al Qur’an umumnya ditulis dengan tinta merah pada kata &lt;i&gt;wal&lt;/i&gt; y&lt;i&gt;atalaththaf&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Prinsip ini hampir sama dengan yang diajarkan Ayahku, “Katakan yang kamu ketahui tapi jangan semua yang kamu ketahui kamu katakan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pertengahan 1989, karena Sekretaris Umum tidak diketahui lagi posisinya, akhirnya Salafuddin selaku Ketua Umum PW PII Jawa Tengah melakukan &lt;i&gt;reshufle&lt;/i&gt; kepengurusan dan karena tidak ada alternatif lain yang mungkin akibat minimnya personil, jabatan Sekretaris Umum diberikan kepadaku. Sadar situasi masih rawan, dalam naskah-naskah resmi PW PII Jawa Tengah aku menggunakan nama Marzuki AM, bukan nama resmi yang sesuai dengan identitasku Achmad Marzoeki. Dengan pertimbangan kalau ada masalah-masalah hukum berkaitan dengan aktifitasku di PII aku masih bisa berkelit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Selain itu, situasi yang menjepit PII membuatku berpikir untuk menggunakan bahasa sandi dalam berkomunikasi. Saat itu banyak surat-surat PII yang tidak sampai dan tidak jelas di mana rimbanya. Alamat pengiriman surat kemudian diubah ke alamat-alamat rumah personil PW. Hal ini sering menimbulkan masalah bila yang bersangkutan bepergian keluar kota, sementara isi surat mendesak. Sementara hampir semua PD belum ada yang memiliki fasilitas telepon. Komunikasi lain yang cepat adalah telegram, cuma tidak terjaga rahasianya. Maka kukenalkanlah bahasa sandi dalam telegram, khususnya untuk pemberitahuan kegiatan dari PD ke PW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Permintaan dari PD ke PW umumnya adalah untuk menghadiri Konferda, TC Kepengurusan, BKK (Bimbingan Keilmuan dan Kepelajaran) dan SIAM (Studi Islam Awal Mula). Acara-acara itu kuubah dalam bahasa sandi menjadi nama koran, waktu pelaksanaan diajukan 2 pekan dan jumlah pemandu yang dibutuhkan dituliskan halaman. Jadi untuk meminta 2 orang pemandu SIAM (bahasa sandinya Pelita) dari PW pada tanggal 21 Oktober 1989, PD cukup mengirim telegram “Pelita 14 Oktober 1989 hal 2”. Sayangnya, banyak PD yang tidak bisa memahami kebijakan bahasa sandi tersebut. Perintahnya telegram tersebut dikirim ke sekretariat, malah dikirim ke rumah salah seorang PW sebagaimana kebijaksanaan sebelumnya. Padahal tidak semua PW diberitahu kode sandi tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pengalaman batinku di PII semakin diperkaya ketika menjadi instruktur Batra pertama kali, pada masa PW PII Jawa Tengah Periode 1990-1992 yang dipimpin Malikus Sumadyo. Peserta Batra yang membludag membuatku yang sebenarnya baru mengikuti &lt;i&gt;Coaching Instructur &lt;/i&gt;(Pendidikan Instruktur) terpaksa ikut menjadi Instruktur Lokal (Inlok). Ada 2 orang peserta yang bermasalah di lokalku. Satu karena gagu, sehingga kalau berbicara sulit dipahami orang lain, satunya lagi dicurigai sebagai ilnfiltran. Sulit menggambarkan suasana batinku ketika menangani Batra tersebut. Setelah berlangsung beberapa hari, peserta akhirnya paham apa yang dikatakan peserta yang gagu, yang alhamdulillah tidak merasa minder dengan kegaguannya dan selalu berusaha berpendapat. Bahkan peserta yang sering duduk di sebelahnya kemudian malah bisa membantu menterjemahkannya. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;. Kecurigaan adanya peserta yang merupakan infiltran, membuat suasana lokal sempat tegang. Pengalaman pemanggilan mantan peserta Batra periode sebelumnya, membuatku mencoba mengarahkan peserta memastikan kebenaran desas-desus tersebut. Sayang, Batra tidak bisa diselesaikan karena keburu dibubarkan aparat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Usai menjadi instruktur Batra, rasanya kreatifitasku sebagai kader PII berkembang pesat. Berbagai gagasan muncul untuk mengembangkan PII, meski berstatus informal. Mungkin terlalu bersemangat dalam menebar gagasan yang membuatku kemudian terjerumus pada polemik panjang dengan Heri Suwondo, yang waktu itu menjabat sebagai Kabid Ekstern. Beda persoalan yang ditekuni nampaknya membuat cara pandang kami berbeda dalam mencermati permasalahan. Gejolak darah muda, membuat di antara kami juga enggan untuk saling mengalah. Jadilah dalam setiap rapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu menjebakku pada polemik dengan Heri Suwondo, dalam masalah apapun yang dibahas. Tak ada teman-teman yang mampu menengahi, tidak juga Malikus sebagai Ketua Umum dan paling senior di antara pengurus lainnya. Sementara Apiko, Hery Djatmiko ketika itu masih “anak bawang” di PW PII, hanya terbengong-bengong saja melihat perdebatanku dengan Heri Suwondo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Puncak dari polemik itu aku pernah keluar dari forum Rapat Pleno. Merasa tidak ada tindakan kongkret teman-teman mensikapi peristiwa tersebut, aku sempat berniat pindah dari Wisma Dodeti sekaligus mundur dari PII dengan diam-diam. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, Allah SWT masih melindungiku dari melakukan tindakan-tindakan pengecut. Ketika aku sudah berkemas untuk pindah berkumpul dengan teman-temanku kuliah, ternyata rumah yang ditempati itu laku terjual, sehingga teman-temanku pun harus mencari tempat baru. Aku menangis, merasa ada sesuatu yang menampar dan meneriaki aku pengecut ! Ya, mengapa aku harus berpikir untuk lari dari masalah bukannya menyelesaikannya. Setiap usai shalat wajib, do’a rutinkupun bertambah lagi, “&lt;i&gt;... rabbi adkhilnii mudkhala sidqii wakhrijnii mukhraja sidqii ...”&lt;/i&gt; (QS. Al Israa 80) yang artinya “Ya Tuhanku masukkanlah aku dengan cara yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara yang benar ...” Aku pun jadi ingat satu per satu teman-teman yang semula bersama-sama di PW PII Jawa Tengah, satu demi satu hilang dari peredaran. Akankah mereka juga berlatar belakang konflik atau kekecewaan ? Menjelang berakhirnya periode kepengurusan Malikus akhirnya polemik itu bisa berakhir. Hubunganku dengan Heri Suwondo pun pulih kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mungkin memang seperti inilah proses yang mesti dilalui untuk menjadi dewasa, baik dalam bersikap maupun bertindak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.5pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tantangan berat lain adalah ketika menjadi instruktur Mentra pertama kali. Isu PII tidak Islami karena tiadanya pemisahan peserta putra dan putri dalam lokal kelas training sedang hangat-hangatnya. Seluruh aktifis PII Wati juga tidak ada yang mau menjadi instruktur training kecuali yang pesertanya hanya putri saja. Benar juga, dalam perjalanan Mentra di Pati, akhir Desember 1992, Abdul Rozak salah seorang peserta memunculkan pendapat suasana training yang tidak Islami karena dalam lokal kelas peserta putra dan putri bercampur tanpa dipisahkan tabir (&lt;i&gt;hijab&lt;/i&gt;), meskipun peserta putri hanya 2 orang. Karena sebelumnya sudah menduga akan ada peserta yang memunculkan isu tersebut, aku juga sudah menyiapkan diri mengantisipasinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.5pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Selama ini ayat yang dijadikan dalil wajib adanya tabir antara kelompok putra dan putri dalam suatu ruangan adalah Surat Al Ma’idah ayat 53 yang dikenal dengan Ayat Hijab. Maka sebelum Mentra, kusiapkan tafsirnya dari 3 sumber, yaitu dari Tafsir Al Azhar-nya Buya Hamka (bahasa Indonesia), Tafsir Al Maraghi (bahasa Arab) dan Tafsir Ibriz-nya KH Bisri Syamsuri (bahasa Jawa dengan huruf Arab). Setelah kusodorkan 3 naskah tafsir tersebut, para peserta bisa mengkritisi maksud ayat tersebut. Bahwa diwajibkannya hijab antara kelompok laki-laki dan perempuan adalah ketika para perempuan tidak menutup aurat dengan sempurna. Sehingga ketika dalam training semua peserta putri sudah menutup aurat, tidak ada alasan lagi untuk mewajibkan pemisahan putra dan putri dengan hijab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Kecewa dengan senior&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketika menjadi PB PII Periode 1995-1998, satu hal yang mengganjalku adalah ketika ikut dalam Tim Penerbitan Buku 50 Tahun PII. Bukan karena Tim itu kemudian gagal menerbitkan buku Sejarah PII&lt;/span&gt;&lt;span style="position: relative; top: -3.5pt;font-family:Arial;font-size:6;color:black;"   &gt;*)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;, tapi aku kecewa dengan beberapa senior yang menjadi nara sumber buku tersebut. Persoalan antar sesama mereka ketika masih menjadi pengurus sepertinya masih dibawa, sehingga mau intervensi terhadap isi buku agar jangan sampai persoalan tentang orang-orang tertentu dimuat dalam buku tersebut. “Inikah yang dimaksud PII seumur hidup ?” aku hanya bisa bertanya dalam hati. Bukan hanya semangat ber-PII-nya saja yang dibawa terus, pertentangan selama menjadi pengurus juga dibawa terus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kekecewaan lain, ada seorang tokoh yang mengaku di PII cuma sepekan saja ! Sehingga dia merasa bukan kader PII. Maklum, tokoh tersebut sudah terkenal dan PII waktu itu masih di bawah permukaan. Nggak tahu setelah PII resmi seperti sekarang, apalagi di jajaran pengurus PKB PII banyak nama pejabat, apakah dia juga akan mengatakan seperti itu lagi atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Yang menggembirakan, aku bisa bertemu mantan-mantan Ketua Umum PB PII dari berbagai periode. Dengan begitu aku bisa lebih memahami PII tidak hanya sebagai sebuah organisasi, tapi juga sebuah gerakan, jaringan komunikasi, profil tokoh-tokohnya, baik kehidupan pribadi maupun keluarganya dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Menembus daerah konflik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tanggal 19 Januari 1999 akan menjadi catatan hitam bagi umat Islam Indonesia. ’Idul Fitri yang mestinya dirayakan dengan suka cita malah penuh kedukaan yang dialami umat Islam Ambon, akibat meletusnya kerusuhan dengan kelompok Nasrani. Selain kerusakan gedung-gedung dan rumah-rumah, nasib para pelajar juga terlantar. Ketika itu PW PII Maluku Besar sudah lama vakum, meski pengurusnya masih ada. Momentum kerusuhan ini kemudian dimanfaatkan untuk membuat kegiatan PII. Teman-teman PII di Ambon yang dikoordinir Irwan Manggala membuat Kelas Belajar Alternatif sebagai pengganti sekolah yang belum efektif berjalan pasca kerusuhan. Sementara teman-teman PII di Jakarta dan daerah-daerah lain mengumpulkan bantuan, baik dana maupun pakaian dan buku-buku. Di Jakarta, pada hari Rabu, 10 Maret 1999 sempat juga digelar demonstrasi atas nama KA-PII (Kesatuan Aksi Pelajar Islam Indonesia) ke Istana Merdeka untuk mendesak Presiden Habibie agar segera menyelesaikan kasus kerusuhan di Ambon. Aksi yang diikuti sekitar 3.000 masa pelajar dan mahasiswa tersebut, merupakan aksi PII terbesar pasca tumbangnya Orde Baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Selanjutnya, bersama Somi Awan (Wakil Sekjen), Fajri Agus Setyawan (mantan PW PII Lampung) dan Nurul Hamidah (Kabid Ekstern Korpus Korps PII Wati) kami berangkat atas nama Komite Peduli Pelajar Pelajar Islam Indonesia (KPP-PII) ke Ambon pada tanggal 8 April 1999. Kegiatan pertama mengadakan “Pelatihan Pemandu Pengelola Kelas Belajar Alternatif bagi Anak-anak Korban Kerusuhan Ambon” yang dilaksanakan pada tanggal 9 s.d. 11 April 1999 di Aula Masjid Al Fatah, Ambon. Hari Senin, 12 Mei 1999, mestinya akan dilanjutkan dengan Dialog Pendidikan, tapi ketika acara baru mulai berlangsung meletus kerusuhan kecil di sekitar Masjid Al Fatah. Acara dialog pun langsung berhenti, karena hadirin, terlebih yang masih anak-anak menjerit ketakutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Karena kerusuhan ternyata tidak hanya terjadi di Ambon tapi juga meluas ke Tual, Maluku Tenggara, maka pada tanggal 8 Juli 1999 seorang diri aku berangkat kembali ke Ambon. Selain mempersiapkan pelaksanaan &lt;i&gt;Batra&lt;/i&gt; yang pertama kali diadakan kembali di Ambon, juga mengunjungi Tual, menjajagi kemungkinan diadakannya kegiatan PII untuk para pelajar guna mengantisipasi dampak kerusuhan. &lt;i&gt;Batra&lt;/i&gt; berhasil dilaksanakan dengan baik diikuti 75 orang peserta yang dipandu oleh Ihsan Aulia Fadhilah (PB PII), Abdul Mufid (PW PII Jawa Tengah) dan Andi Akbar (PW PII Jawa Barat).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keberhasilan pelaksanaan &lt;i&gt;Batra&lt;/i&gt; di Ambon menjadi momentum dihidupkanya kembali PW PII Maluku yang kemudian diikuti juga dengan pelaksanaan BKK di Tual yang menjadi cikal bakal PK PII Tual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Daerah lain yang konfliknya mencuat pasca reformasi adalah Aceh. Bertempat di sekretariat Jl. Menteng Raya 58, pada tanggal 7 Agustus 1999 PB PII menerima kunjungan delegasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) yang dipimpin langsung oleh Ketua Presidium Muhammad Nazar, S.Ag (sekarang Wakil Gubernur Aceh). Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan upaya-upaya lain seperti memperluas dialog dengan berbagai komponen masyarakat Aceh yang ada di Jakarta, seperti SOMAKA (Solidaritas Mahasiswa Anti Kekerasan Aceh), KENIRA (Komite Nasional Rakyat Aceh) dan lain-lain. Meski dengan masa yang tidak terlalu banyak KA-PII sekali mengadakan aksi ke Departemen Hukum dan Perundang-undangan menuntut segera dilaksanakannya Pengadilan Koneksitas terhadap pelaku peanggaran HAM di Aceh. Menkumdang waktu itu, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH langsung menemui, mendengarkan dan menanggapi pendapat beberapa peserta aksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Puncak partisipasiku dalam merespon persoalan Aceh adalah dengan menjadi Sekretaris Panitia Pelaksana Simposium dan Temu Konsultasi Nasional tentang Format Ideal Masa Depan Aceh. Acara yang merupakan kerja sama PB PII, Angkatan Baru Iskandar Muda (ABIM) dan Program Studi Ketahanan Nasional UI ini dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Januari 2000 di Hotel Seraton Media, Jakarta. Acara inilah yang membuatku kemudian mengenal Bang Puteh (Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si) yang bertindak sebagai Ketua Panitia Pelaksana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Perhatian PII terhadap Aceh ditunjukkan juga dengan pilihan Banda Aceh sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar Nasional XX PII yang dilaksanakan pada tanggal 11 s.d. 17 Juli 2000. Banyak yang sempat ragu dengan penyelenggaraan muktamar ini. Maklum, saat itu persoalan Aceh tergolong masih belum jelas ujung pangkalnya. Upaya penyelesaian konflik Aceh sedang memasuki Jeda Kemanusiaan, tapi banyak pihak yang masih ragu akan kelanjutannya. Jangankan PW-PW, beberapa personal PB PII juga nampaknya ragu akan kelanjutan rencana muktamar di Aceh, sehingga ketika PB PII mengadakan rapat pleno terakhir, ada beberapa orang yang yakin masih ada pleno berikutnya karena muktamar mungkin diundur. Tapi &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt;, muktamar berlangsung lancar tanpa gangguan berarti, meski ada beberapa peristiwa yang sedikit menegangkan juga (lihat tulisan Hery Djatmiko, “Catatan Rahasia dari Aceh” di bagian lain buku ini).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Akhirnya jadi PNS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Menjelang berangkat ke Aceh, aku mulai gelisah dengan masa depanku. Masa aktifku di PII berakhir setelah muktamar, tapi statusku masih belum jelas. Aku masih lajang dan belum punya penghasilan sendiri. Sementara usia sudah lewat kepala tiga. Mungkinkah aku bertahan di Jakarta setelah tidak jadi PB PII dan menambah jumlah “penghuni bermasalah” di Menteng Raya 58 ? Untuk mengulur masa tinggal di sekretariat PB PII, aku mau jadi Ketua Panitia Pelantikan PB PII Periode 2000-2002. Walau sebenarnya, pikiranku sama sekali sudah sulit berkonsentrasi dan bersiap mengambil alternatif pahit, pulang kampung !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dalam suasana berkemas-kemas itu, aku menemui Bang Puteh. Maunya mengucapkan terima kasih atas kerja sama selama ini. Ternyata Bang Puteh sebelumnya memang berencana memanggilku, karena berniat mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh. Aku diminta membantu segala sesuatu yang berkaitan dengan pencalonan itu. Waktu itu pemilihan masih dilaksanakan oleh DPRD sehingga, kebutuhan seorang calon gubernur belumlah serumit sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketika kemudian Bang Puteh terpilih, aku tidak banyak berharap. Bahkan kembali terpikir rencanaku untuk pulang kampung saja. Apalagi karena keluargaku tidak menghendaki aku menikah dengan orang luar daerah, aku kemudian menikah juga dengan orang Kebumen. Keputusan yang mungkin akan dinilai spekulatif. Karena ketika aku memutuskan menikah, aku baru sekali ketemu dan bahkan sama sekali tidak sempat berkenalan dengan calon istriku. Pengalaman selama beraktifitas di PII yang membuatku yakin, keputusanku tidak keliru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Setelah menjadi Gubernur Aceh, sepertinya aku tidak punya harapan lagi bertemu dengan Bang Puteh, sehingga ketika menikah pun aku tidak memberi tahu. Dalam suatu kesempatan ke Jakarta, aku bisa bertemu Bang Puteh yang kemudian menawariku untuk bekerja di Kantor Perwakilan Aceh (resminya Kantor Penghubung Pemda Aceh di Jakarta). Aku hanya tersenyum saja, karena kupikir sekadar tawaran basa-basi. Tawaran itu memang diikuti juga dengan penegasan Bang Puteh kepadaku, “Kalau kamu ingin memperbaiki sistem, kamu harus masuk ke dalam sistem itu !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 13.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ternyata tawaran itu serius, seorang staf kantor kemudian menghubungiku dan memintaku untuk datang. Jadilah kemudian aku menjadi pegawai honor di Perwakilan Aceh. Ketika ada seleksi CPNSD di Aceh untuk formasi tahun 2001, sebenarnya aku tidak tahu, tapi lagi-lagi Bang Puteh menyuruhku ikut testing. Jadilah aku ikut testing CPNSD di Banda Aceh. Meski seusai tes dan aku melapor, Bang Puteh mengatakan tidak bisa memberikan garansi aku bisa lulus, &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt; aku lulus menjadi CPNSD. Aku tidak tahu, benar-benar lulus atau karena intervensi Bang Puteh. Yang jelas aku tidak bisa mengingkari perjalanan proses, bahwa aktifitasku di PII yang akhirnya mengantarku menjadi PNS. Bukan kebanggaan, hanya kadang sulit dipercaya. Meski seluruh keluargaku PNS, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi PNS. Apalagi saat PII bergerak secara informal pasca keluarnya SK Mendagri Nomor 120 Tahun 1987, bagi aktifis PII rasanya mustahil untuk menjadi PNS. Tapi yang hampir mustahil itu bisa juga terjadi padaku. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Lima belas tahunku di PII jadi demikian bermakna, banyak pelajaran kudapatkan yang semakin mematangkan kepribadianku. Karena itu ada pertanyaan yang sekarang menggangguku setelah anak-anakku lahir dan mulai tumbuh besar. Ke komisariat PII mana, anak-anakku nanti bergabung ? Karena itu aku sangat berharap, para pelajar sekarang terus mau menghidupkan PII, sehingga pada saatnya nanti, anak-anakku juga bisa ikut bergabung di dalamnya. Melanjutkan jejak orang tuanya. Amien. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:11;color:black;"   &gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;Cibinong, 25 April 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 9pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:9;color:black;"   &gt;*) Setidaknya keberadaan dalam tim ini membuatku bisa menyusun draft buku perjalanan PII selama masa asas tunggal, yang meskipun belum diterbitkan sudah menjadi referensi bagi dua penulisan tesis, yakni Muhammad Wildan (Universitas Leiden, Belanda) dan Djayadi (UGM, sudah diterbitkan). Saat ini draft buku tersebut sedang disempurnakan kembali dan insya Allah akan segera diterbitkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sumber : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Warna Warni PII” editor Achmad Marzoeki dan Udo Yamin Efendi Majdi, Jaringan Sufi Progresif Mantan PII, cetakan pertama, Juli 2008 hal. 61-77.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7725054619416032333?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7725054619416032333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7725054619416032333&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7725054619416032333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7725054619416032333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/08/asyiknya-ikut-pii-dari-aktifis-bawah.html' title='Asyiknya Ikut PII; Dari Aktifis Bawah Tanah sampai menjadi PNS'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Snbh2oBSzGI/AAAAAAAAADQ/Xpv8HT0EY3w/s72-c/Aku-BW.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-3010235922841464940</id><published>2009-07-16T04:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T04:57:25.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>PENDIDIKAN; MENCETAK KULI ATAU KHALIFAH ?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Achmad Marzoeki &lt;sup&gt;*)&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSTAFFP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:69pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\STAFFP~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="" grayscale="t"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam surat Al Baqarah ayat 30 secara gamblang dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia (Adam) adalah untuk menjadi pengelola bumi beserta seluruh isinya (&lt;i style=""&gt;khalifatullah fil ardh&lt;/i&gt;). Kewenangan manusia yang diberikan Allah SWT tersebut semakin ditegaskan lagi dalam surat Ar Rahman ayat 33, “&lt;i style=""&gt;Hai sekalian jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melaikan dengan kekuatan.&lt;/i&gt;” Sungguh demikian besar kewenangan sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita, umat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Amanah yang demikian mulia tersebut kini mengalami penurunan yang demikian drastis di kalangan umat Islam Indonesia, baik disengaja atau tidak. Banyak orang tua terjebak mencukupkan diri mendidik anaknya sebatas menjadi kuli ! Sehingga lembaga-lembaga pendidikan formal dengan embel-embel “lulusannya langsung ditempatkan” atau minimal “lulusannya siap kerja” menjadi prioritas pilihan orang tua bagi tempat pendidikan anak-anaknya. Orang-orang tua – dan akhirnya juga anak-anaknya – lebih bangga menjadi pegawai, apalagi di instansi pemerintah atau perusahaan yang bonafid. Padahal pegawai, karyawan, pekerja, buruh, kuli status sosialnya sama saja, orang bayaran yang kedudukannya sangat tergantung pada yang membayarnya. Yang membedakan hanyalah bidang pekerjaannya. Sedikit sekali orang tua yang dengan sadar mendidik anaknya untuk menjadi wirausaha, mengembangkan kreasi membuka usaha sendiri. Kebiasaan yang kemudian berkembang ketika saling bertegur sapa adalah, “Sekarang kerja di mana ?” Sangat jarang kita mendengar teguran, “Membuka usaha apa sekarang ?” atau yang lebih netral, “Apa kegiatannya sekarang ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lingkaran Setan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mentalitas kuli, bisa jadi merupakan warisan penjajahan yang demikian lama bercokol di tanah air kita dan demikian sulit untuk dihilangkan. Kalimat “menjadi tuan di negeri sendiri” yang telah dicoba dilekatkan terhadap berbagai karya anak negeri ini, banyak yang terhenti sebatas slogan, selanjutnya terpinggirkan dan kalah bersaing dengan beragam karya negara lain yang membanjiri pasar. Coba saja periksa di rumah kita masing-masing, bisa jadi lebih banyak barang dengan label “made in Cina” dibanding “made in Indonesia”. Mentalitas kuli membuat para orang tua ketika memikirkan pendidikan anaknya, yang terpikir adalah bagaimana menjadikannya “kuli terbaik” bagi majikan yang bonafid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kemiskinan dan ketakutan kalau harus hidup miskin, meski hidup di negara dengan sumber daya alam yang melimpah, merupakan faktor berikutnya yang mendorong para orang tua berpikir dangkal dan demikian pragmatis terhadap pendidikan anaknya. Keluhan “pendidikan mahal” acapkali kita dengar, karena yang dimaksud adalah biaya untuk mengikuti kegiatan pendidikan di lembaga pendidikan formal. Sehingga para orang tua juga seringkali tidak bisa mendefinisikan substansi kewajibannya, mendidik anaknya atau “hanya” menyediakan biaya pendidikan (formal) bagi anaknya. Akibatnya banyak orang tua yang beralasan “demi pendidikan anaknya” malah melalaikan kewajiban “mendidik anaknya”. Kalau kita perhatikan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri, baik laki-laki maupun perempuan, tidak sedikit yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Siapa yang mendidik anaknya ketika ditinggal ke luar negeri selama beberapa tahun ? Benarkah peningkatan penghasilan mereka, karena bekerja di luar negeri membuat pendidikan anaknya menjadi lebih baik ? Tidak sedikit pula pasutri (pasangan suami istri), dengan alasan yang hampir sama, kemudian bekerja di kota-kota besar tapi menitipkan anak kepada orang tuanya di kampung halaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekolah terus kerja (kantoran). Akhirnya begitu singkat dan linier pemahaman tentang pendidikan, baik di benak orang tua maupun anak-anaknya. Karena itu tidak perlu heran kalau kita kebetulan membaca sebuah pesan iklan “matematika + bahasa Inggris = sukses”. Hasil dari pemahaman pendidikan seperti itu bisa kita lihat dan rasakan sekarang. Secara fisik, di Indonesia pembangunan memang sudah demikian pesat. Namun dari sisi sistem sesungguhnya belum banyak yang berubah. Meski pemberantasan korupsi konon sudah gencar dilakukan sehingga menjadi rebutan klaim berbagai pihak dalam kampanye pemilu legislatif maupun pilpres, kenyataannya masih sering kita dapati pungutan tidak resmi setiap kali mengurus berbagai macam perijinan. Secara umum dalam kehidupan bernegara kita masih lebih banyak menonjolkan figur daripada membangun sistem kenegaraan yang efektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mentalitas kuli, kemiskinan, orientasi pendidikan yang keliru dan rendahnya kualitas sumber daya manusia, menjadi bagian dari lingkaran setan yang harus dipotong, betapapun sulitnya. Ketika perut lapar, wajar tidak bisa diajak memikirkan sesuatu selain bagaimana mendapatkan makanan. Namun ketika perut sudah kenyang, apakah juga tetap hanya bisa memikirkan cara mendapatkan makanan saja ? Ketika lapangan kerja sangat terbatas, merasa cukup dengan bisa bekerja menjadi kuli adalah wajar. Tapi kalau seumur hidup puas hanya menjadi kuli tanpa ada pemikiran dan upaya mengubah status menjadi majikan jelas sesuatu yang memprihatinkan. Merujuk pada piramida kebutuhan Maslow, maka manusia yang normal tidak hanya puas dengan terpenuhinya kebutuhan fisik (pangan, sandang dan papan) semata yang merupakan kebutuhan terendah. Normalnya setiap manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi sehingga akhirnya bisa berakutalisasi diri. Meminjam ungkapan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a., “Barangsiapa yang hanya memikirkan isi perutnya maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Reorientasi pendidikan adalah salah satu langkah yang harus dilakukan. Karena orientasi pendidikan yang keliru membuat seseorang tidak termotivasi untuk memenuhi kebutuhan tingkatan berikutnya. Jika dikaitkan dengan praktek kehidupan beragama, fenomena ini bisa menjelaskan mengapa setiap hari Jum’at, setiap bulan Ramadhan sampai Syawal, demikian banyak pengemis yang meminta sedekah. Padahal secara fisik mereka sehat-sehat saja, terbukti mampu berjalan kaki menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mentalnyalah yang sakit, lebih merasa memiliki hak atas sebagian rezeki orang lain ketimbang merasa memiliki kewajiban mencari rezeki sendiri yang halal dengan cara yang lebih bermartabat. Dalam skala yang lebih luas, kondisi ini menjelaskan mengapa perekonomian Indonesia kini tertinggal oleh banyak negara lain, termasuk negara tetangga Malaysia yang dulu justru banyak belajar ke Indonesia. Terlalu dominan orang yang lebih mengedepankan kenyamanan ketimbang mencoba memanfaatkan peluang. Akibatnya sektor riil bergerak lamban, karena mayoritas orang lebih suka menabung, membeli saham atau mendepositokan dana yang dimiliki ketimbang menggunakannya untuk modal membuka usaha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Membangun kecerdasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Didiklah anakmu, karena dia akan hidup di suatu masa yang bukan masamu,” begitu pesan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. Pesan yang sederhana tapi cukup bermakna. Kenyataannya kesadaran bahwa tantangan dan persoalan masa depan akan jauh berbeda dengan sekarang seringkali kurang dimiliki para orang tua sehingga kemudian mereka cenderung mendikte anak-anaknya. Menjadikan anak-anaknya sebagai fotokopi dirinya. Akibatnya banyak anak-anak yang kemudian menjadi korban obsesi orang tuanya, gagal mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Padahal tidak semua anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dokter berpotensi menjadi dokter, anak seniman tidak selalu berbakat menjadi seniman pula. Proses pendidikanlah yang seharusnya menggali dan merumuskan bakat anak-anak tersebut dan bagaimana kemudian mengembangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pendidikan seharusnya mampu membangun kecerdasan manusia. Dahulu kecerdasan hanya dilekatkan pada otak atau pikiran, sehingga kita hanya mengenal IQ (&lt;i style=""&gt;Intelegence Quotient&lt;/i&gt;) atau tingkat kecerdasan (pikiran). Sekarang banyak pakar pengembangan sumber daya manusia yang kemudian mengedepankan teori kecerdasan emosi, kecerdasan emosional-spiritual, kecerdasan sosial dan lain sebagainya. Kecerdasan-kecerdasan seperti ini sepertinya susah diharapkan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan lembaga pendidikan formal. Sehingga seharusnya pendidikan formal memang ditempatkan sebagai pendamping, karena ilmu pengetahuan hakekatnya adalah formulasi dari pengalaman masa lalu yang suatu saat bisa digugurkan formula baru yang lebih mutakhir. Keluargalah yang semestinya menjadi basis pendidikan untuk membangun kecerdasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kondisi sekarang terbalik, pendidikan formal menjadi tumpuan segalanya. Sementara pendidikan dalam keluarga kurang begitu diperhatikan, jika tidak bisa dikatakan terabaikan. Sangat sedikit orang tua yang merasa perlu membekali diri dengan kemampuan mendidik anak dan sepenuhnya menyerahkan pendidikan anaknya kepada lembaga-lembaga pendidikan formal. Apalagi sekarang sudah banyak berkembang lembaga-lembaga pendidikan terpadu, dari Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) sampai ke &lt;i style=""&gt;boarding shool &lt;/i&gt;di tingkat sekolah lanjutan, di mana murid-muridnya diasramakan. Praktis lebih banyak waktu anak-anak yang dihabiskan di lingkungan lembaga pendidikan formal ketimbang lingkungan keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Secara akademis, perkembangan anak-anak bisa jadi semakin baik, namun tidak ada yang bisa menjamin perkembangan emosional dan empati sosialnya menjadi lebih baik. Ketidakseimbangan perkembangan akademis dengan emosional dan empati sosial ini pada akhirnya hanya melahirkan “kuli-kuli” baru. Karena yang tertanam dalam diri mereka adalah bagaimana menguasai pengetahuan dan teknologi agar kelak bisa menjadi “kuli” di lembaga-lembaga yang bonafid. Masih sulit untuk berharap lahirnya generasi yang bermental &lt;i style=""&gt;khalifah &lt;/i&gt;yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kepekaan terhadap persoalan lingkungan sekitarnya dan berusaha ikut menemukan solusinya. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;*) &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP-GPII) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), saat ini tengah mengikuti Program S2 Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-3010235922841464940?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/3010235922841464940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=3010235922841464940&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3010235922841464940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3010235922841464940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/07/pendidikan-mencetak-kuli-atau-khalifah.html' title='PENDIDIKAN; MENCETAK KULI ATAU KHALIFAH ?'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-2209607856191373772</id><published>2009-07-14T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T01:51:26.793-07:00</updated><title type='text'>Puisi-puisi Lama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx6vrXULgI/AAAAAAAAADA/hayRcKmq7nY/s1600-h/Sketsa.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358292616177004034" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 181px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx6vrXULgI/AAAAAAAAADA/hayRcKmq7nY/s320/Sketsa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu masa ketika hanya kata-kata saja yang bisa dihasilkan sebagai sebuah karya. Mengenang kembali masa itu memberi banyak pelajaran tentang kehidupan. Karena bukan cuma kata-kata saja yang bisa dicerna, tapi sejumlah peristiwa yang melahirkannya juga bisa menjadi bahan renungan untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Renungan bagi yang menulis, tentu berbeda dengan yang hanya membacanya. Memerlukan energi ekstra bagi pembaca untuk mencoba berimajinasi, sedang apa penulisnya ketika melahirkan kata-kata ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;O P O R T U N I S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Senyummu&lt;br /&gt;Basa-basi&lt;br /&gt;Bicaramu&lt;br /&gt;Penuh tendensi&lt;br /&gt;Pertanyaanmu&lt;br /&gt;Investigasi&lt;br /&gt;Perhatianmu&lt;br /&gt;Investasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangismu&lt;br /&gt;Cari simpati&lt;br /&gt;Teriakanmu&lt;br /&gt;Bikin sensasi&lt;br /&gt;Marahmu&lt;br /&gt;Untuk apologi&lt;br /&gt;Diammu&lt;br /&gt;Pasang strategi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarmu&lt;br /&gt;Cari posisi&lt;br /&gt;Hobimu&lt;br /&gt;Buat opini&lt;br /&gt;Do'amu&lt;br /&gt;Minta kursi&lt;br /&gt;Hidupmu&lt;br /&gt;Mati !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogya, Mei 1993&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:130%;" &gt;EKSEPSI SEORANG PELACUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Aku tidak pernah menjual tubuhku&lt;br /&gt;Aku hanya memerankan sebuah adegan&lt;br /&gt;Memenuhi tuntutan skenario&lt;br /&gt;Mengikuti arahan sang sutradara&lt;br /&gt;Untuk itu aku dibayar&lt;br /&gt;Salahkah aku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa aku dilokalisasi ?&lt;br /&gt;Diberi penyuluhan&lt;br /&gt;Bukankah aku jauh lebih sopan&lt;br /&gt;Lebih layak meraih citra&lt;br /&gt;Darupada mereka yang mengobral paha dan dada&lt;br /&gt;Di hadapan ratusan ribu pasang mata&lt;br /&gt;Lalu berkata, "Sebenarnya aku jijik melakukannya !"&lt;br /&gt;Sambil menyingkap rok mini&lt;br /&gt;Di depan wartawan yang mengerumuninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu sekarang&lt;br /&gt;Aku tak kalah pintar&lt;br /&gt;Dengan petugas Tibum&lt;br /&gt;Yang menyebut penggusuran sebagai penertiban&lt;br /&gt;Aku masih lebih hebat&lt;br /&gt;Dibanding wartawan&lt;br /&gt;Yang pandai mengemas informasi&lt;br /&gt;Menjadi sebuah sensasi&lt;br /&gt;Bahkan aku tak kalah cerdas&lt;br /&gt;Dengan Bapak Menteri&lt;br /&gt;Yang memberi istilah penyesuaian&lt;br /&gt;Untuk setiap kali keputusan kenaikkan harga&lt;br /&gt;Aku jauh lebih memumpuni&lt;br /&gt;Ketimbang para pakar ilmu sosial&lt;br /&gt;Mereka bicara tentang kemiskinan&lt;br /&gt;Aku setiap hari memeranginya&lt;br /&gt;Dengan segenap jiwa ragaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku masih juga&lt;br /&gt;Dijuluki sampah masyarakat&lt;br /&gt;Bahkan tamuku semalam&lt;br /&gt;Yang paling keras teriakannya&lt;br /&gt;Apakah ia pula&lt;br /&gt;Yang akan memberiku penyuluhan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegal Sari, Semarang, Mei 1993 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;DO'A PERMULAAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ya Allah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tumbuhkanlah dalam diriku rasa cinta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pada semua yang Engkau ridhoi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tanamkanlah kebencian dalam dada&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pada segala yang Engkau laknat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bukakanlah mataku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar menjadikan setiap kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Indah dalam penglihatanku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tundukkanlah mataku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sehingga setiap bentuk kebathilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Menjadi sesuatu yang tak sedap dalam penglihatanku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tajamkanlah telingaku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar mampu membedakan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Suara kebenaran meski dalam kalimat yang menyakitkan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Suara kebathilan walau dikemas dalam bahasa ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Peliharalah mulutku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar senantiasa mengucapkan sesuatu yang benar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Meski orang lain enggan mengatakannya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bahkan untuk mendengarnya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Kendalikanlah mulutku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar tidak menjadi juru bicara syaithan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Meski aku jadi populer karenanya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Jagalah perutku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar hanya mau menerima&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apa yang menjadi haknya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Kendalikanlah tanganku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar senantiasa ringan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam membela kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dan menumpas kebathilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Arahkan kakiku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Agar selalu mengikuti petunjuk-Mu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bersihkanlah hatiku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dari segala noda yang menggerogoti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Rasa cintaku pada-Mu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Amin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Kebumen, Agustus 1993&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;DO'A PENGHABISAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika adalah do'a ini&lt;br /&gt;Karena aku takut menderita&lt;br /&gt;Semoga tidak Engkau kabulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika adalah do'a ini&lt;br /&gt;Karena aku iri dan serakah&lt;br /&gt;Hendak meraih sesuatu&lt;br /&gt;Yang sesungguhnya menjadi hak orang lain&lt;br /&gt;Semoga tidak Engkau kabulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena do'aku&lt;br /&gt;Bukanlah keluhan atas sebuah penderitaan&lt;br /&gt;Bukan permintaan atas sebuah keinginan&lt;br /&gt;Tapi do'aku&lt;br /&gt;Adalah pengakuan kelemahanku&lt;br /&gt;Adalah penghargaan atas kekuasaan-Mu&lt;br /&gt;Adalah dambaan cinta dari-Mu&lt;br /&gt;Medah-mudahan Engkau kabulkan&lt;br /&gt;Amien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebumen, Agustus 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;CERITA BIASA&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;Anak-anak memaki malam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;yang tak lagi memberikan mimpi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;Orang-orang tua memaki siang&lt;br /&gt;yang tak pernah menyisakan rezki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam dan siang terus bertengkar&lt;br /&gt;saling berebut posisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1993&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-2209607856191373772?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/2209607856191373772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=2209607856191373772&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2209607856191373772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2209607856191373772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/07/puisi-puisi-lama.html' title='Puisi-puisi Lama'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx6vrXULgI/AAAAAAAAADA/hayRcKmq7nY/s72-c/Sketsa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7538236429148716044</id><published>2009-06-24T04:08:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T05:29:22.282-07:00</updated><title type='text'>Ora Ngapak Ora Kepenak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx3gV-0hLI/AAAAAAAAAC4/bLGN0tufVG8/s1600-h/stiker-ngapak+JPG.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx3gV-0hLI/AAAAAAAAAC4/bLGN0tufVG8/s320/stiker-ngapak+JPG.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358289054204200114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KEBUMEN daerah yang unik dalam hal bahasa di pantai selatan Jawa Tengah. Karena Kebumen menjadi tempat pertemuan 2 dialek bahasa Jawa, BANDEK (dominan suara o dan penyebutan konsonan 'k'-nya tersamar) dengan NGAPAK (dominan suara a dan penyebutan konsonan 'k'-nya jelas). Dari Kota Kebumen (kalau bisa disebut ke kota) ke arah timur, dialek penduduknya masih bandek, namun ke arah barat sudah mulai ngapak. Kebetulan pula, di tengah Kebumen mengalir sungai (kali) Lukulo. Itu pula sebabnya, sosiologi masyarakat Kebumen juga terbagi menjadi Kebumen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wetan kali &lt;/span&gt;(sebelah timur sungai Lukulo) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kulon kali &lt;/span&gt;(sebelah barat sungai Lukulo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini (paling tidak setahu saya), sepertinya belum ada yang mencoba mengkaji sejauh mana pengaruh karakter masyarakat dengan dialek bahasanya. Apa karena daerah Kebumen juga terbagi dalam 2 dialek kemudian terbagi 2 pula karakternya. Ujung-ujungnya, di masa sekarang ketika setiap daerah dipimpin oleh pasangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, di Kebumen seperti ada keharusan, bahwa pasangan itu mesti representasi dari masyarakat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wetan kali &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kulon kali&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, sepertinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wong bumen &lt;/span&gt;lebih suka menonjolkan dialek ngapak sebagai identitas daerahnya. Kepada mereka slogan ini saya berikan "ORA NGAPAK ORA KEPENAK" Kalau berminat ada stikernya ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7538236429148716044?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7538236429148716044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7538236429148716044&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7538236429148716044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7538236429148716044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/06/ora-ngapak-ora-kepenak.html' title='Ora Ngapak Ora Kepenak'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/Slx3gV-0hLI/AAAAAAAAAC4/bLGN0tufVG8/s72-c/stiker-ngapak+JPG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1496454139556663911</id><published>2009-04-23T12:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T12:35:28.879-07:00</updated><title type='text'>PENJELASAN BPOM TENTANG OBAT FLU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;KETERANGAN PERS&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENJELASAN TERKAIT OBAT FLU DAN BATUK YANG MENGANDUNG&lt;br /&gt;PHENYLPROPANOLAMINE (PPA)&lt;br /&gt;NOMOR : KH.00.01.1.3.1673&lt;br /&gt;TANGGAL 16 APRIL 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menanggapi maraknya isu tentang informasi dari US FDA mengenai obat flu dan batuk yang mengandung phenylpropanolamine (PPA), Badan Pengawas Obat dan Makanan memberikan penjelasan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tidak benar pada tanggal 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman tentang obat flu dan batuk yang mengandung PPA seperti diberitakan melalui sms dan email.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat ini tidak ada informasi baru terkait keamanan PPA. Pada bulan November 2009 US-FDA menarik obat yang mengandung  PPA karena diduga ada hubungan antara pendarahan otak dengan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Indonesia PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk tidakpernah disetujui sebagai obat pelangsing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Obat flu dan batuk yang mengandung PPA dan telah mendapat izin edar aman dikonsumsi sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikian penjelasan ini disampaikan dan untuk disebarluaskan kepada seluruh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Pengawas Obat dan Makanan RI&lt;br /&gt;Kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, MKes, SpFK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Percetakan Negara 23 Jakarta 10560 Indonesia&lt;br /&gt;Telephone : 62-21-4244688, Fax : 62-21-4250764&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Harian Kompas, Minggu, 19 April 2009 hal 18.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1496454139556663911?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1496454139556663911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1496454139556663911&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1496454139556663911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1496454139556663911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/04/keterangan-pers-bpom-tentangobat-flu.html' title='PENJELASAN BPOM TENTANG OBAT FLU'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-253537273956528200</id><published>2009-04-14T08:33:00.001-07:00</published><updated>2009-04-14T08:34:59.516-07:00</updated><title type='text'>Memilih Pemimpin Sejati</title><content type='html'>MEMILIH PEMIMPIN SEJATI&lt;br /&gt;Achmad Marzoeki *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buletin Tafahum, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kebumen edisi ketiga, Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekatnya pelaksanaan Pemilihan Presiden, membuat perbincangan tentang figur pemimpin nasional terus mengemuka. Apalagi jauh sebelumnya, iklan politik yang memunculkan figur beberapa tokoh sudah sering hadir ke rumah-rumah kita melalui layar televisi. Memicu lahirnya idiom baru “pemimpin iklan”, seorang yang seolah-olah telah menjadi pemimpin karena iklan. Padahal dalam keseharian belum tentu menunjukkan perilaku sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;Sebelumnya sudah banyak idiom-idiom bernada negatif tentang pemimpin, seperti “pemimpin salon”, “pemimpin figur” dan sebagainya. Idiom-idiom itu muncul sebagai reaksi atas perilaku pemimpin formal atau tokoh publik yang ternyata tidak sesuai dengan harapan sebagian masyarakat. Hal ini tidak lepas dari adanya kesenjangan antara persepsi tentang pemimpin di mata para cendekiawan, pengamat atau akademisi di satu sisi dengan persepsi masyarakat di sisi lain. Padahal persepsi masyarakatlah yang kemudian lebih banyak menentukan siapa yang kemudian akan menjadi pemimpin formal, baik presiden, gubernur atau bupati/walikota. Karena sekarang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sudah langsung dilakukan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Hasil pemilihan langsung presiden tahun 2004 semakin memperkuat kesimpulan tersebut. Amien Rais yang menjadi inspirator gerakan reformasi tahun 1998, bukan hanya tidak mampu memenangkan Pilpres, tapi juga tidak mampu melangkah ke putaran kedua dan hanya menduduki urutan ke-4 dari 5 pasangan peserta Pilpres. Sementara pasangan SBY-JK yang sama-sama mantan anggota kabinetnya Megawati justru berhasil keluar sebagai pemenang, sekaligus mengalahkan “mantan atasannya”.&lt;br /&gt;Popularitas dan kemasan penampilan sepertinya telah menjadi syarat pemimpin di mata masyarakat. Rekam jejak masa lalu dan kinerja yang bersangkutan menjadi terabaikan. Bahkan ketika fakta kegagalan sudah di depan mata masih juga banyak yang membutakan matanya dengan kebijakan-kebijakan populer dan kemasan penampilan. Bagaimana tidak bisa disebut gagal, bila Indonesia yang negara agraris ternyata memiliki ketergantungan impor terhadap beberapa produk pertanian tertentu ? Lucunya pemberantasan korupsi yang merupakan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang independen dan Kejaksaan sebagai lembaga yudikatif, sering disebut-sebut sebagai prestasi eksekutif. Demikian juga penurunan harga BBM ketika harga minyak dunia sedang jatuh ke titik terendah, sampai hampir seperlima harga sebelumnya, dianggap sebagai sebuah prestasi. Jelas merupakan sebuah pembodohan terhadap rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor dan Motivator&lt;br /&gt;Sebelum bangsa ini kian terpuruk dalam percaturan dunia, sosialisasi tentang karakter dasar seorang pemimpin kian mendesak untuk dilakukan. Kesenjangan antara figur pemimpin secara teoritis dengan persepsi masyarakat, membuat arah perjalanan bangsa ini akan semakin tidak jelas ke mana hendak menuju. Kalau kita cermati, yang tampil sebagai kandidat baik dalam pilpres maupun pilkada, lebih banyak mereka yang merasa memiliki dukungan dana kuat sehingga dengan berbagai cara juga mampu menarik masa untuk mendekat. Di sinilah peran persepsi masyarakat yang benar, untuk bisa menjadi penyeleksi yang baik dalam setiap proses pemilihan. Jika tidak, maka para pemimpin yang kemudian terpilih, baik di tingkat nasional maupun lokal tidak mampu mengemban amanah kepemimpinan, hanya seolah-olah memimpin tapi tidak sungguh-sungguh memimpin. Hanya pemimpin dalam status formal, tapi bukan pemimpin dalam realitas kehidupan.&lt;br /&gt;Karakter paling mendasar bagi seorang pemimpin adalah bisa menjadi motor sekaligus motivator. Sebagai motor seorang pemimpin harus mampu menggerakkan dan mengarahkan orang yang dipimpinnya untuk bekerja mewujudkan tujuan bersama. Pemimpin bukan artis yang menjadi hiburan dan tontonan penuh kekaguman dari penggemarnya. Pemimpin adalah inspirator bagi rakyatnya untuk bekerja, bukan inspirator untuk melamun atau mengkhayal. Agar bisa menjadi motor, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi sumber energi bagi rakyatnya yang beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Keragaman itulah yang perlu dipahami dan dipelajari agar bisa menghasilkan sinergi. Tidak semata-mata diakui keberadaannya terus dibiarkan apa adanya.&lt;br /&gt;Menjadi motor saja belum cukup, pemimpin juga harus bisa menjadi motivator yang mampu membangkitkan semangat orang yang dipimpinnya dalam menghadapi berbagai masalah agar terus bekerja sampai tujuan bersama bisa diraih. Sudah banyak orang yang mau bekerja, tapi masih sedikit yang memiliki kejelasan arah dalam bekerja. Masih lebih banyak yang bekerja hanya karena memiliki tenaga. Akibatnya ketika muncul permasalahan terkait dengan apa yang dikerjakannya kemudian ditinggalkan begitu saja, beralih ke pekerjaan lain yang dianggapnya tidak menghadapkannya pada masalah. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka semakin banyak orang yang bekerja sia-sia, tidak menghasilkan apa-apa selain membuang-buang energi dan melahirkan rasa putus asa. Merasa sudah bekerja keras tapi perubahan yang diharapkannya tidak pernah menjadi nyata. Atau merasa apa yang menjadi tujuannya tidak mungkin bisa diwujudkan, karena berbagai kendala dan masalah yang menghadang.&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti itulah figur pemimpin yang bisa menjadi motivator diperlukan. Kalau tidak bisa memotivasi, tentulah Panglima Tentara Muslim Thariq bin Ziad tidak mampu memimpin prajuritnya menaklukan Spanyol. Karena mayoritas tentaranya sudah kehilangan semangat, merasa tidak mampu lagi berperang. Namun karakter kepemimpinan Thariq bin Ziad telah membuat para tentaranya bangkit kembali motivasinya sehingga bisa berjuang bahu membahu untuk merebut Spanyol.&lt;br /&gt;Masyarakat kita juga sudah banyak yang skeptis terhadap perubahan. Ungkapan “hangat-hangat tahi ayam” acapkali kita dengar menanggapi kehadiran pemimpin baru yang mencoba melakukan suatu perubahan. “Paling nanti juga sama saja !” begitu vonis yang kemudian kita berikan. Akibatnya mereka yang mencoba melakukan perubahan tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Di sinilah kehadiran pemimpin sejati diperlukan. Seseorang yang mampu menjadi motor sekaligus motivator, mengubah mereka yang semula skeptis agar menjadi optimis, yang semula antipati menjadi simpati. Sehingga akumulasi energi yang semula bersifat negatif bisa berubah menjadi positif. Mungkinkah ? Seorang yang optimis  akan balik bertanya “Mengapa tidak mungkin ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Hanya Penasehat&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan kondisi saat ini, lebih banyak pemimpin (formal) yang hanya memfungsikan dirinya sebagai penasehat. Padahal nasehat-nasehat yang berharga sudah demikian mudah kita dapatkan dari buku-buku yang jumlahnya semakin banyak atau dari situs-situs internet yang bisa diakses siapa saja. Model-model pemimpin seperti itu, ketika menemui rakyatnya seperti seorang artis yang mengadakan jumpa penggemar. Tidak ada yang membekas kecuali khayalan dan angan-angan penggemarnya yang berkembang bagaimana agar bisa terkenal juga.&lt;br /&gt;Memberi nasehat memang baik. Tapi kalau seorang pemimpin hanya bisa memberi nasehat, apa bedanya nanti dengan Guru, Kyai atau Ulama ? Karena itu sebaik-baik nasehat dari seorang pemimpin adalah memberi teladan dan motivasi kepada anak buahnya dalam bekerja. Dalam sistem birokrasi yang berjenjang, maka seorang pemimpin juga harus membangun kepemimpinan secara berjenjang pula.&lt;br /&gt;Seorang Bupati misalnya, dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin, harus bisa menjadi teladan dan memotivasi sekda, para asisten sekda, kepala badan/dinas, kepala bidang/bagian dan para camat. Bukan hanya memberi teladan dan memotivasi dalam bekerja, tapi juga agar mereka bisa pula memberi teladan dan memotivasi anak buahnya. Para Camat jadi bisa memberi teladan dan motivasi para aparat dan kepala desa/lurah di kecamatannya, para kepala dinas kepada para kasi-kasi dan karyawannya, demikian seterusnya. Sehingga pada akhirnya nanti masyarakat juga akan ikut merasakan sentuhan teladan dan motivasi dari aparat yang bersingungan langsung dengannya. Memang memerlukan waktu, namun jika benar-benar dilaksanakan akan menghasilkan sinergi yang mampu untuk menggerakkan sebuah perubahan.&lt;br /&gt;Karena itu, jangan keburu putus asa dengan keadaan. Marilah kita jadikan momentum suksesi kepemimpinan untuk mencoba kembali menggerakkan perubahan. Tentu saja asal tidak salah dalam memilih pemimpin. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP-GPII), saat ini tengah mengikuti Program S2 Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-253537273956528200?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/253537273956528200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=253537273956528200&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/253537273956528200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/253537273956528200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/04/memilih-pemimpin-sejati.html' title='Memilih Pemimpin Sejati'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-6906196817284172622</id><published>2009-02-18T20:29:00.000-08:00</published><updated>2009-03-09T08:31:16.327-07:00</updated><title type='text'>Pembangunan Daerah</title><content type='html'>&lt;p class="msobodytext4"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-weight: normal;font-size:10;" &gt;Jagong Bareng Kang Juki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="msobodytext4" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buletin Almansur, 13 Pebruari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="msobodytext4" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="msobodytext4" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Di masa orde baru, pembangunan daerah acapkali menghadirkan beda pemahaman. Pembangunan untuk (kepentingan) daerah atau pembangunan di daerah (entah untuk kepentingan siapa) ? Kini, saat otonomi daerah sudah demikian luas, pembangunan daerah masih juga menyisakan beda pemahaman. Pembangunan daerah itu membangun daerah secara fisik agar semua fasilitas tersedia di daerah atau membangun masyarakat daerah agar bisa berinisiatif memajukan daerahnya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Jika yang dilaksanakan adalah pemahaman pertama, maka kondisi daerah mungkin semakin maju dan lengkap fasilitasnya. Namun kemajuan itu tak mampu menahan laju migrasi penduduknya untuk tetap ke luar daerah dengan alasan sederhana, mencari kerja. Coba sekarang kita tengok ke desa-desa. Ada berapa orang pemuda yang bisa kita temui ? Tidak laki-laki, tidak perempuan, usai menyelesaikan pendidikan tingkat SMU/SMK umumnya mereka akan segera bermigrasi ke kota, mencari kerja. Tidak adakah lapangan kerja di desa ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sawah yang terbentang masih luas, demikian pula tanah pekarangan yang tersedia tidaklah sempit. Semuanya sebenarnya menunggu sentuhan kreativitas pemuda yang pendidikannya sudah jauh lebih tinggi dibanding orang tuanya. Apa boleh buat pendidikan malah melahirkan mentalitas pekerja. Hasilnya orang terdidik lebih memilih menjadi pekerja daripada petani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Seharusnya dengan pendidikan yang lebih tinggi, pertanian bisa dilaksanakan dengan modern sehingga bisa menjadi aktivitas yang membanggakan sekaligus menghasilkan. Bagi daerah-daerah yang berbasis pertanian sebagaimana umumnya di Indonesia, arah pembangunan daerah yang seperti inilah yang perlu dilakukan. Bagaimana membuat pertanian kian maju dan modern sehingga bisa memperluas lapangan kerja. Bukan mustahil akan terjadi arus balik migrasi, dari kota pindah ke desa. Entah kapan bisa terwujud ...&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-6906196817284172622?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/6906196817284172622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=6906196817284172622&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/6906196817284172622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/6906196817284172622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/02/pembangunan-daerah.html' title='Pembangunan Daerah'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4931620302991142175</id><published>2009-02-10T21:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T21:29:27.916-08:00</updated><title type='text'>The Man Behind The Fund</title><content type='html'>&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jagong Bareng Kang Juki&lt;br /&gt;Buletin Almansur, 6 Pebruari 2009&lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;p class="msobodytext4" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="msobodytext4" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan, yang konon sering jadi tempat &lt;i&gt;nongkrong &lt;/i&gt;para kepala daerah (Gubernur, Bupati/Walikota). Apa yang mereka lakukan ? Lobi. Besarnya Dana Alokasi Umum (DAU) yang akan diperoleh setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota konon bisa dinegosiasi. Mungkin, begitu pula dengan Dana Alokasi Khusus (DAK). Syukur-syukur ada juga investor yang ikut &lt;i&gt;nongkrong &lt;/i&gt;sehingga bisa ikut dilobi juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Namanya juga lobi, tidak sekali dua ketemu melahirkan kata sepakat. Sehingga tak cukup sehari pula para kepala daerah itu berada di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;. Bahkan mungkin juga tak cukup sebulan sekali mereka pergi ke &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;, alias meninggalkan daerah yang dipimpinnya. Bisa jadi lobi membuahkan hasil DAU dan DAK meningkat, plus ada investor yang bisa digaet. Entah berapa persen peningkatannya dan berapa besar nilai investasinya, seban-ding dengan besarnya biaya lobi atau tidak, sepertinya dianggap tidak penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dana dan investasi memang penting untuk membangun daerah, sehingga hampir semua kepala daerah berjuang keras untuk mendapatkannya. Namun meski penting bukanlah yang paling penting. Yang lebih penting adalah pengelola dana dan investasi tersebut, yakni manusianya. Kalau hanya terfokus pada besarnya dana, bisa jadi berapapun besarnya akan sia-sia. Karena rendahnya kualitas manusia yang mengelolanya, baik dari sisi mental, pengetahuan maupun ketrampilannya. Yang terjadi kemudian adalah korupsi atau minimal inefisiensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="msobodytext4" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Karena itu perhatian terhadap kualitas manusianya jauh lebih penting. Dulu &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; akhirnya meraih kemerdekaan antara lain juga karena faktor &lt;i&gt;the man behind the&lt;/i&gt; &lt;i&gt;gun &lt;/i&gt;(manusia pemakai senjatanya)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Maka keberhasilan dalam mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan antara lain juga akan dipengaruhi faktor &lt;i&gt;the man behind the fund &lt;/i&gt;(manusia pengelola dananya). Mudah-mudahan para pemimpin bangsa ini menyadari untuk kemudian melakukan tindakan nyata. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4931620302991142175?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4931620302991142175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4931620302991142175&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4931620302991142175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4931620302991142175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/02/man-behind-fund.html' title='The Man Behind The Fund'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-3619657307781271023</id><published>2009-02-05T02:15:00.000-08:00</published><updated>2009-04-10T19:46:56.285-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Keseharian'/><title type='text'>R - O - K - O K</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;MEROKOK adalah simbul kekejaman ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Setelah dibakar, dihisap lalu ditekan atau diinjak sampai mati dan dibuang ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Berhenti merokok selagi bisa ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;ROKOK adalah belenggu ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Penghambat kreatifitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Membuat pemerintah merasa tak memiliki alternatif sumber pemasukan selain dari cukai tembakau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Membuat petani merasa tak memiliki alternatif tanaman lain kecuali tembakau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Membuat pencari kerja merasa tak memiliki alternatif lain kecuali menjadi buruh pabrik rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Membuat para aktivis merasa tidak memiliki alternatif lain mencari sponsor kecuali perusahaan rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Mari sama-sama kita lepaskan belenggu itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Gunakan otak semaksimal mungkin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Akan terlepaslah belenggu dan terbukalah kreativitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Banyak alternatif yang bisa dilakukan tidak hanya ROKOK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,51)"&gt;Tidak perlu percaya, tapi silahkan mencoba ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-3619657307781271023?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/3619657307781271023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=3619657307781271023&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3619657307781271023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3619657307781271023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/02/r-o-k-o-k.html' title='R - O - K - O K'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4051345603089803538</id><published>2009-01-24T07:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T07:46:06.176-08:00</updated><title type='text'>Menepati Janji</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika, Sabtu, 24 Januari 2009 pukul 07:42:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Achmad Marzoeki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan mengatakan): Insya Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'' (QS Al Kahfi [18]: 23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah ayat Alquran di atas membuat kita sering mendengar dan mengatakan, 'insya Allah' untuk mengiringi setiap ucapan janji. Namun, kesan yang kemudian tampak setelah mengatakan insya Allah, seseorang tidak lagi memiliki tanggung jawab penuh untuk menepati janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuat kita tak jarang mendengar orang yang mengingkari janjinya ketika kemudian disalahkan lantas berkelit, ''Lho, kan saya sudah mengatakan insya Allah!'' Bahkan ironisnya, kemudian muncul istilah 'manajemen insya Allah', yang berkonotasi manajemen berbasis ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mempelajari asbabun nuzul (sebab turun) ayat tersebut, merupakan teguran Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, Nabi menjanjikan kepada beberapa orang Quraisy untuk menjawab pertanyaan tentang roh, kisah Ashabul Kahfi, dan kisah Dzulqarnain tanpa mengucapkan insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, besok harinya tidak ada wahyu yang turun untuk menceritakan hal-hal tersebut sehingga Nabi tidak dapat memenuhi janjinya. Padahal, sebagai orang yang bergelar Al-Amin, Nabi tidak pernah berbohong atau mengingkari janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada penjelasan tersebut, ada dua unsur yang harus dipenuhi dalam sebuah janji. Yaitu, keyakinan akan kemampuan kita untuk melaksanakan dan kepasrahan diri untuk menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Sehingga, perkataan 'insya Allah' yang mengiringi janji kita, seharusnya merupakan indikator keseriusan, bukan sebaliknya hanya menjadi pemanis sekadar basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, secara implisit sebenarnya kita sudah mengatakan bahwa selain Allah SWT tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk menepati apa yang telah kita janjikan. Konsekuensinya, seoptimal mungkin kita harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk memenuhi janji tersebut. Jika memang ragu dengan apa yang akan dijanjikan, apalagi yakin tidak akan bisa memenuhi, tindakan yang tepat adalah tidak berjanji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja melanggar janji yang sudah diikuti dengan ucapan insya Allah, bukan hanya kebohongan atas nama Allah SWT, namun juga bisa dimaknai kedurhakaan kepada-Nya. Ini karena, tindakan itu sama saja dengan menafikan kekuasaan Allah SWT yang mampu mewujudkan apa yang dalam logika manusia dianggap mustahil terjadi. Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4051345603089803538?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4051345603089803538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4051345603089803538&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4051345603089803538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4051345603089803538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/01/menepati-janji.html' title='Menepati Janji'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-2271708229908106477</id><published>2009-01-12T04:21:00.001-08:00</published><updated>2009-01-12T04:55:20.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Desakralisasi dan Demoralisasi Jilbab</title><content type='html'>Permulaan tahun 1984, seorang siswi SMA Negeri Kebumen (sekarang SMA Negeri 1 Kebumen) mengendarai sepeda memasuki halaman sekolah. Ada yang berbeda dari pakaiannya dibanding siswi-siswi yang lain. Bukan seragamnya berbeda, melainkan karena dia memakai penutup kepala, jilbab. Meski saat itu, di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Bogor, peristiwa serupa sudah mulai ramai dibicarakan, peristiwa siswi memakai jilbab di SMAN Kebumen tak urung juga menimbulkan heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi sekarang mungkin tidak banyak yang memahami, bagaimana proses panjang yang harus dilalui sehingga akhirnya jilbab boleh dikenakan di sekolah, sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran Islam yang dilindungi oleh Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Upaya mempertahankan pemakaian jilbab di sekolah, pada awalnya harus dilalui dengan pemecatan/pemindahan siswi-siswi yang bersangkutan bahkan sampai harus diselesaikan di pengadilan negeri. Karena perjuangan yang maha berat itu, membuat jilbab yang dikenakan seorang muslimah di Indonesia pada masa itu jadi terasa sakral dan mencerminkan moralitas yang tinggi dari pemakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring dengan semakin memasyarakatnya jilbab, yang membuatnya wajar saja dikenakan oleh siswi-siswi di SMP dan SMP Negeri, terjadi pula degradasi nilai. Sebagian pemakainya, mungkin karena tidak tahu latar belakang mengapa ia mengenakan jilbab, banyak yang kurang memahami untuk apa sesungguhnya ia harus mengenakan jilbab. Karena itu, pemandangan yang ironis seringkali terjadi, tidak terkecuali di Kebumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alun-alun Kebumen, sekarang memang jauh lebih baik dan lebih ramai. Sayang sisi negatifnya juga ikut berkembang. Muda-mudi berpasangan, tidak lagi kenal waktu, bisa siang, sore atau malam. Yang lebih ironis lagi karena yang perempuan berjilbab. Lebih ironis lagi, di siang hari yang terik ketika azan tanda waktu Dzuhur berkumandang, tidak membuat pasangan itu beranjak. Entahlah apa yang ada dalam benak sepasang muda-mudi itu. Apakah obrolan mereka begitu pentingnya sehingga harus mengabaikan panggilan adzan. Tapi, apa keduanya juga tidak sadar, karena yang perempuan berjilbab, semestinya bisa lebih menjaga perilakunya. Tidak sekali dua saya melihat peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, bukan berarti saya akan berpendapat lebih baik tidak berjilbab daripada sudah berjilbab perilakunya seperti itu. Mau berjilbab, merupakan suatu peningkatan, memperbaiki perilaku adalah peningkatan berikutnya. Jadi bukan malah mendorong penurunan tindakan. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini, tapi sekaligus bisa menjadi makhluk yang paling hina ketika tidak mampu menjaga perilakunya. Keprihatinan saya semoga menjadi keprihatinan umat Islam semua, khususnya umat Islam di Kebumen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-2271708229908106477?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/2271708229908106477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=2271708229908106477&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2271708229908106477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2271708229908106477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/01/desakralisasi-dan-demoralisasi-jilbab.html' title='Desakralisasi dan Demoralisasi Jilbab'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-2960737128459491572</id><published>2009-01-09T02:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T03:31:05.263-08:00</updated><title type='text'>Coming From Behind</title><content type='html'>"Posisi menentukan prestasi !" begitu umumnya orang sering mengatakan. Meskipun kedengarannya bijak, jika dikaji lebih mendalam kalimat ini cenderung menjadi dalih bagi orang-orang yang kurang berprestasi. Atau setidaknya, kalimat ini berkesan hendak mengurangi penghargaan terhadap orang yang berprestasi. Menganggap yang berhasil mereka raih sebagai suatu hal yang lumrah. "Kan posisi menentukan prestasi !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah ? Jika kita pelajari orang-orang yang berprestasi. Nyatalah, bahwa meski posisi merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi prestasi seseorang, tetap faktor manusialah yang lebih utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana di dunia sepak bola. Logikanya, striker (penyerang) yang akan menjadi pencetak gol terbanyak. Itu kalau mengikuti hukum "posisi menentukan prestasi". Ternyata, hal itu tidak sepenuhnya benar. Kalau anda fans berat Mancester United tentu kenal dengan Wayne Rooney, Carlos Tevez dan Christiano Ronaldo (CR-7). Meski posisi CR-7 adalah pemain tengah, nyatanya di musim kompetisi 2007/2008 CR-7 yang keluar sebagai top skor Liga Inggris dengan 19 gol. Sementara Wayne Rooney dan Carlos Tevez yang posisinya justru penyerang menghasilkan gol yang lebih sedikit, Rooney dengan 6 gol dan Tevez dengan 11 gol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi penyerang memang memiliki keuntungan dan kerugian jika dikaitkan dengan kemampuan mencetak gol. Karena dengan posisi penyerang akan disuplai oleh pemain lainnya dengan umpan-umpan yang siap dilanjutkan menjadi gol. Tapi posisi penyerang juga bisa merugikan karena bisa menjadi fokus penjagaan lawan yang membuat ruang geraknya kurang leluasa. Ketika yang terjadi seperti ini, maka pemain tengah dan bahkan pemain belakang pun bisa mencetak gol, karena terlepas dari penjagaan dan perhatian pemain lawan. Bagaimana Maradona mencetak gol ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 adalah contohnya. Peristiwa yang dengan nyaris sempurna juga ditiru oleh Leonel Messi di Barcelona. Menggiring bola, melewati 6 pemain lawan dan mencetak gol. Dalam taktik sepakbola istilahnya adalah "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coming from behind&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan percaya 100 % dengan prinsip "posisi menentukan prestasi". Apapun posisi kita, prestasi tetap harus diraih. Pesan ini juga pantas menjadi pegangan bagi para caleg yang akan bertarung pada Pemilu 2009 nanti. Keputusan MK membatalkan pasal 214 UU Pemilu harus memberi darah segar bagi perjuangan dalam pemilu. Berapapun nomor urutnya, yang penting harus berhasil mendulang banyak suara. Meskipun memulai dari tidak dikenal dan tidak diperhitungkan bukan suatu hal yang mustahil kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leading &lt;/span&gt;dalam meraih suara. Tentu saja kalau intensif menyapa konstituen. Biarkan caleg-caleg yang lebih senior, lebih dahulu dikenal merasa sudah menang sebelum perang. Bagaimanapun kecenderungan perilaku pemilih tidak bisa ditebak dengan tepat. Peluang selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya dalam pemilu legislatif. Dalam pemilu presiden atau pilkadal pun demikian. Anda tertarik juga untuk maju sebagai kandidat ? Bisa saja meniru taktik dalam sepakbola "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coming from behind".  &lt;/span&gt;Tidak perlu takut dengan kandidat yang lebih dulu terkenal, memiliki sumber dana tak terbatas. Tidak ada jaminan bisa menang. Seperti dalam sepakbola yang memungkinkan bukan penyerang menjadi top skor, dalam pemilu pun calon tak dikenal bisa saja menang. Selamat membuktikan ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-2960737128459491572?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/2960737128459491572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=2960737128459491572&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2960737128459491572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/2960737128459491572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2009/01/coming-from-behind.html' title='Coming From Behind'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7696593427984728527</id><published>2008-12-23T04:03:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T04:06:46.482-08:00</updated><title type='text'>Maryamah Karpov "mengecewakan" orang Semarang</title><content type='html'>Dijanjikan terbit September, akhirnya Maryamah Karpov - buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi - terbit bulan Nopember 2008. Sampai Desember2008 sudah dicetak empat kali. Dalam Laskar Pelangi AndreaHerata "mengecewakan" penggemar bulu tangkis, karena menyebutpertandingan Iie Sumirat vs Seven Pri sebagai final All England - IieSumirat tidak pernah menjadi finalis All England - karena yang betulpertemuan mereka tahun 1979 di Jakarta dalam final kejuaraan bereguPiala Thomas. Dalam Maryamah Karpov, Andrea "mengecewakan" orang Semarang. Grup Qasidah Nasida Ria yang pada tahun 1980-an demikianpopuler di Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya, tidakpernah singgah dalam memori Andrea Hirata. Sehingga salah satuhitnya "Perdamaian" oleh Ikal disebut dengan lagu yang tidak tahusiapa yang mempopulerkannya. Padahal lagu ini populer lagi setelahdiaransemen ulang oleh GIGI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7696593427984728527?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7696593427984728527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7696593427984728527&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7696593427984728527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7696593427984728527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/12/maryamah-karpov-mengecewakan-orang.html' title='Maryamah Karpov &quot;mengecewakan&quot; orang Semarang'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4525133529626691401</id><published>2008-12-23T04:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T04:02:03.774-08:00</updated><title type='text'>Secangkir Kopi Usai Shalat Subuh di Sebuah Masjid</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;Lama tidak menginap di Jakarta, pagi ini aku dapat kejutan usai shalat Subuh di Masjid Nurul Badar, Jl. Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan. Usai shalat ketika dengan langkah agak tergesa aku hendak keluar masjid, seorang pengurus masjid memanggilku dan menawarin kopi. Ha ? minum kopi di masjid usai shalat Subuh ? Kejutan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini disediakan minum di masjid hanyalah ketika shalat maghrib di bulan ramadhan, sekadar untuk berbuka. Kini, ada masjid yang menyediakan secangkir kopi jahe dan sepotong roti bagi jama'ah shalat Subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Jakarta memang super sibuk. Walau jika diteliti lebih lanjut, kesibukan itu kadang-kadang terjadi karena jalanan yang macet. Sehingga orang harus buru-buru berangkat, karena lamanya waktu tempuh perjalanan. Akibatnya banyak yang tidak sempat sarapan di rumah. Bagi yang punya kendaraan pribadi mending bisa makan di mobil. Bagi yang mengandalkan kendaraan umum, terpaksa harus makan di stasiun atau warung-warung dekat terminal. Jadilah meskipun bangun pagi-pagi, belum tentu orang mau shalat Subuh ke masjid.Karena itu terobosan yang dilakukan pengurus masjid Nurul Badar ini layak jadi alternatif solusi, agar orang tetap memprioritaskan shalat Subuh berjama'ah di masjid. Tapi tentu saja bukan untuk secangkir kopi jahe dan sepotong roti ...&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4525133529626691401?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4525133529626691401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4525133529626691401&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4525133529626691401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4525133529626691401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/12/secangkir-kopi-usai-shalat-subuh-di_23.html' title='Secangkir Kopi Usai Shalat Subuh di Sebuah Masjid'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-3020989621592537127</id><published>2008-12-08T21:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T21:17:00.551-08:00</updated><title type='text'>SAATNYA YANG MUDA BERKOMPETISI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: arial;"&gt;Istiqomah Nomor 10 Tahun XI Desember 2008 (Edisi Kebumen)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, 4 Nopember 2008 yang lalu, diyakini akan kian menggairahkan minat kaum muda Indonesia menyongsong Pemilu 2009. Gerakan “Saatnya Kaum Muda Memimpin”, yang pernah dideklarasikan semakin bertambah amunisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, mundurnya Rizal Malaranggeng sebagai salah satu bakal capres dari kalangan muda sedikit menciderai momentum tersebut. Namun setidaknya hal itu bisa menjadi catatan bagi para kandidat-kandidat muda, baik untuk kursi legislatif maupun eksekutif, kekuasaan tidak cukup diraih dengan iklan. Semuanya harus diperjuangkan melalui kompetisi yang ketat, menguras tenaga, pikiran dan tentu saja biaya. Sebelum mengalahkan McCain, Obama mesti berjuang keras lebih dahulu untuk mengalahkan kandidat Partai Demokrat yang lain Hillary Rodam Clinton. Sungguh sebuah kompetisi yang ketat dan tidak mudah diikuti oleh mereka yang hanya bermodal usia muda semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi caleg-caleg muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat menarik untuk menunggu bagaimana para caleg-caleg muda dengan berragam latar belakang partai dan berbeda nomor urut mencoba berjuang meraih kursi legislatif. Apakah mereka menyiapkan diri secara serius untuk bisa menduduki kursi legislatif ? Atau sudah cukup puas namanya pernah tercantum dalam Daftar Calon Tetap (DCT) meski pada nomor sepatu ? Perjalanan proses pemilu yang nanti akan membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kampanye  yang lebih panjang dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, menantang kaum muda untuk menunjukkan kreatifitasnya dalam berpolitik. Dengan kompetitor yang banyak, baik dari caleg sesama partai (karena ada partai yang memberlakukan suara terbanyak untuk meraih kursi legislatif) maupun dari partai lain (meski tak sebanyak Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai), mengharuskan setiap caleg untuk mengerahkan segenap kemampuannya dalam menjaring minat pemilih.  Apalagi dari berbagai survey menunjukkan tingginya angka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;swing voters&lt;/span&gt; yang masih mungkin untuk diperebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kreatifitas, masa kampanye yang panjang juga menuntut stamina, agar proses sosialisasi seorang kandidat mencapai puncaknya menjelang hari H pemilu. Tanpa mengatur stamina, bukan tidak mungkin proses sosialisasi terhenti di tengah jalan, sehingga sebelum pelaksanaan pemilu masyarakat justru malah melupakan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana di Kebumen ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan bagi generasi muda di Kebumen tidak hanya untuk tampil dalam Pemilu 2009, tapi juga dalam Pilkada 2010. Jauh sebelum Rustriningsih meninggalkan kursi Bupati karena terpilih sebagai Wakil Gubernur Jateng, sudah banyak tokoh yang berancang-ancang untuk berkompetisi dalam Pilkada Kebumen 2010.  Alasannya jelas, dalam pilkada tersebut tidak ada calon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent&lt;/span&gt;, sehingga peluang setiap kandidat hampir dikatakan merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terpilihnya Rustriningsih sebagai Wagub Jateng, yang membuat Wabup KH Nashiruddin Al Mansur menggantikan kedudukannya bisa mengubah peta persaingan. Apabila KH Nashirudin Al Mansur kelak memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pilkada nanti, maka statusnya menjadi calon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada jaminan, seorang calon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent&lt;/span&gt; bisa dengan mudah memenangkan pertarungan, hanya saja untuk kondisi Kebumen memang masih agak susah melawan calon incumbent, terutama dalam proses sosialisasi kandidat. Kecuali kandidat didukung oleh partai yang memiliki mesin politik yang solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi tersebut, mungkinkah nanti akan muncul seorang kandidat dari jalur independen ? Sangat menarik untuk ditunggu. Yang jelas, jika untuk tingkat Pilpres 2010 saja mulai banyak kalangan muda yang siap berkompetisi, mengapa untuk Pilbup Kebumen tidak ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-3020989621592537127?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/3020989621592537127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=3020989621592537127&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3020989621592537127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3020989621592537127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/12/saatnya-yang-muda-berkompetisi.html' title='SAATNYA YANG MUDA BERKOMPETISI'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-76556809925871884</id><published>2008-08-29T06:43:00.001-07:00</published><updated>2008-08-29T07:06:13.418-07:00</updated><title type='text'>Sebaris Shaf Shalat Subuh</title><content type='html'>Jakarta, kota yang hidup 24 jam di jalan, tapi masjidnya lebih sering tertidur. Bangunan yang megah dengan fasilitas lengkap (maksudnya mungkin untuk lebih memberi kenyamanan dalam beribadah), namun akibatnya malah umat Islam kurang leluasa menggunakannya. Setelah lewat Isya', tidak semua masjid bisa kita masuki. Paling kita hanya bisa masuk serambi atau bahkan cuma emperannya. Khawatir kalau dibuka 24 jam, ada barang-barang inventaris masjid yang hilang. Wajar, kalau kemudian orang-orang Jakarta yang sedang gundah dirundung masalah memilih lari ke diskotik, klub malam dan tempat hiburan sejenisnya. Habis, mau menenangkan diri di masjid tidak bisa, terkunci ! Tidak hanya pintu masuk masjid, bisa-bisa pintu pagar juga dikunci !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh, jalanan sudah ramai. Bahkan antrian mulai terjadi. Tapi di sebuah masjid di Jakarta, besar dan megah, jama'ah shalat Subuh cuma sebaris, itupun tidak penuh, bahkan jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari (tangan dan kaki). Mungkin beberapa hari lagi, ketika Ramadhan tiba, suasana akan berubah drastis. Mendadak masjid-masjid menjadi penuh dengan jama'ah, sayangnya jumlah pengemis mendadak juga bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan yang kontras dengan cepat akan muncul di depan mata. Barisan panjang antrian orang menunggu pembagian zakat, sedekah dan sejenisnya di rumah-rumah besar, yang tidak jelas dari mana asal kekayaan penghuninya. Demikian panjangnya antrian, bisa membuat orang tua yang ikut antri menjadi pingsan sebelum mendapatkan bagian. Kontras, kalau dibandingkan dengan ceritera Khalifah Umar r.a. yang tengah malam rela memanggul sekarung makanan untuk diberikan kepada keluarga ibu miskin yang dipergokinya tengah memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Pembagi sedekah di Jakarta dan mungkin juga di Indonesia, lebih terkesan ingin unjuk kekayaan daripada hendak berbagi kepada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bagaimana mesti menceriterakan umat Islam Indonesia ketika harus bertemu dengan umat Islam dari penjuru dunia yang lain ? &lt;em&gt;Wallahu a'lam.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-76556809925871884?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/76556809925871884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=76556809925871884&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/76556809925871884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/76556809925871884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/08/sebaris-shaf-shalat-subuh.html' title='Sebaris Shaf Shalat Subuh'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-439085133213916905</id><published>2008-07-04T02:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T23:17:11.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realitas'/><title type='text'>Setiap Tekad akan Menemukan Jalan untuk Mewujudkannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SImaGlBQlsI/AAAAAAAAABs/WkY02F6NYqM/s1600-h/Cover+Belakang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SImaGlBQlsI/AAAAAAAAABs/WkY02F6NYqM/s320/Cover+Belakang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226878280347457218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Catatan atas penerbitan buku Warna Warni PII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak ada gambaran sebelumnya, bagaimana menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan tentang PII. Sepertinya sudah beberapa periode kepengurusan PB PII mencoba untuk itu, hasilnya nihil. Karena itu, ketika ide membuat buku "Warna Warni PII" dilempar ke milis JSP Mantan PII, sepertinya sambutan anggota milis juga dingin-dingin saja. Setelah setahun ide digulirkan hanya mendapat sambutan dari 10 orang dari anggota milis yang sudah hampir 200-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengumpulkan tulisan saja sudah susah, bagaimana nanti menerbitkannya ? Pertanyaan tersebut otomatis juga menggelayuti pikiranku. Ide saja ternyata tidak cukup, harus didukung tekad agar ide itu bisa berusia panjang. Hanya dengan 10 tulisan, bisa dijadikan alasan untuk menggagalkan penerbitan buku. Tapi aku tidak mau terus menerus menambah kegagalan. Sekali ini harus berhasil. Itu tekad yang terus kupelihara untuk memperpanjang nyawa ide menerbitkan Warna Warni PII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah setahun ada tambahan juga 2 tulisan dari mantan Sekjen (Fajar Nursahid) dan mantan Ketua Umum (Delianur) serta 5 tulisan dari PII Perwakilan Mesir. Tidak ada alasan lagi untuk menggagalkan penerbitan buku. Langkah lebih kongkret untuk menerbitkan buku harus mulai diwujudkan. Sepertinya momentum ini juga sangat tepat untuk merintis usaha penerbitan, daripada repot-repot mencari penerbit yang mau menerbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang pengurusan ISBN di Perpustakaan Nasional akhirnya kucari via internet. Ternyata tidak sulit. Kebetulan aku mendapatkan contoh buku yang memiliki ISBN dengan penerbit komunitas semacam JSP. Sehingga makin menguat tekadku untuk menerbitkan Warna Warni PII menggunakan JSP saja. Persoalan berikutnya tinggal mencari biayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski akhirnya masih ngutang pada percetakan, akhirnya Warna Warni PII bisa terbit tepat waktu untuk bisa dikirim ke Muknas XXVI PII di Pontianak. Alhamdulillah, akhirnya tekad itu tak hanya mimpi tapi berhasil menemukan jalannya sendiri untuk terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-439085133213916905?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/439085133213916905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=439085133213916905&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/439085133213916905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/439085133213916905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/07/setiap-tekad-akan-menemukan-jalan-untuk.html' title='Setiap Tekad akan Menemukan Jalan untuk Mewujudkannya'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SImaGlBQlsI/AAAAAAAAABs/WkY02F6NYqM/s72-c/Cover+Belakang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4728959220448067404</id><published>2008-02-11T01:04:00.000-08:00</published><updated>2008-04-30T01:10:37.538-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Keseharian'/><title type='text'>Pagi yang Menakjubkan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kebiasaan begadang membuatku biasa bangun siang. Shalat subuh pun ibarat sebuah igauan di antara dua tidur. Betapa tidak, aku baru benar-benar tertidur sekitar pukul 03.00 pagi. Tak sampai 2 jam adzan subuh segera berkumandang. Hanya karena sudah terlanjur kebiasaan semenjak kecil, yang membuatku langsung meresponnya dengan langsung mengambil air wudhu. Tapi sesungguhnya kesadaranku belum benar-benar pulih. Indikasinya semakin jelas bila kemudian aku tidak terus berangkat ke masjid, hanya mengerjakan shalat sendirian di rumah. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dan tidak juga mengecek, istriku sedang waktunya shalat atau tidak. Sudah pasti, tak lebih dari lima menit aku sudah mendengkur kembali tanpa melipat sajadah tempatku shalat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Kebiasaan bangun siang membuatku berpikiran semua orang juga suka bangun siang dan menganggap mustahil untuk mulai bekerja sejak pukul 08.00 pagi. Aku seperti lupa, bahwa sejak SD sampai kuliah, aku masuk pukul 07.00. Itu berarti guru dan dosenku sudah beranjak ke tempat kerja sebelum pukul 07.00.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;“Tapi itu kan di daerah yang penduduknya segera beranjak tidur begitu matahari telah tenggelam. Jadi wajar kegiatan pun dimulai lebih awal, bersamaan terbit kembalinya matahari. Beda dengan di Jakarta, kerja bisa sampai larut malam, bagaimana mungkin memulai kerja sejak pagi hari ?” kucoba tetap mempertahankan anggapanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Pagi ini, Senin, 11 Pebruari 2008, aku harus menjalani tes untuk mengikuti kuliah S2 di STIA-LAN (Sekolah Tinggi Ilmu Adminsitrasi – Lembaga Administrasi Negara). Tes ? Ya, tes alias seleksi bagi calon mahasiswa S2. Sebenarnya badanku masih belum fit. Hari Kamis, 7 Pebruari 2008, baru pulang dari Banda Aceh. Malamnya, dari Jakarta ke Cibinong aku naik motor. Naas, terlalu ngebut di jalan yang gelap, membuatku terlambat menyadari ada lubang menganga di tengah jalan. Aku pun terjatuh. Beruntung tidak ada cidera serius. Hanya celana, kaos kaki, sepatu dan tas lap topku yang sedikit robek. Namun paginya, sehabis bangun tidur badanku terasa pegal-pegal. Akibatnya aku tidak jadi terus ke Kebumen, rutinitasku di pekan kedua setiap bulan. Aku tiduran terus di rumah. Dan Senin ini harus berangkat pagi-pagi. Harus, tidak bisa ditawar lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Aku tes susulan, yang semestinya dilaksanakan pada tanggal 6 Pebruari 2008, saat aku masih di Banda Aceh. Tes gelombang II lagi, jadi kalau tidak kuikuti, mesti nunggu 1 semester lagi. Hari ini, kesempatan terakhir untuk tes susulan, karena esoknya, Selasa, 12 Pebruari 2008 sudah harus diumumkan. Tidak ada yang bisa kupersiapkan, yang aku tahu tesnya adalah bahasa Inggris dan potensi akademik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Jadilah, pukul 06.00 pagi aku sudah harus keluar rumah. Dan … ternyata aku sedikit trauma juga untuk langsung ke Jakarta mengendarai motor lagi. Terpaksa, harus berdesak-desakan kembali di KRL Bogor-Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Menakjubkan ! Sepagi ini sudah banyak orang beraktifitas dan memulai kompetisi dalam “Liga Kehidupan”. Keluar rumah, antrian pengojek sudah siap menawarkan jasanya. Enggan naik ojek, harus menunggu angkot lewat dan berebut dengan calon penumpang lain yang juga tergesa-gesa. Rombongan anak sekolah mendominasi penumpang angkot. Barangkali ini memang angkatan pertama pengguna transportasi umum. Nanti setelah pukul 07.00 para pegawai dan karyawanlah yang akan mendominasi. Aku pun terkagum-kagum pada semangat mereka memulai kehidupan sejak pagi sekali. Kalau saja aku juga seperti mereka … memulai aktifitas penuh semangat sejak pagi hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Biasanya, pukul 07.00 kalau pun sudah mulai beraktifitas, aku tengah menyeruput kopi panas bikinan sendiri bersama pisang kapok goreng atau mendoan hasil karya istriku. Ngobrol &lt;i style=""&gt;ngalor-ngidul&lt;/i&gt;, sambil menunggu kedua anakku bangun. Dari urusan rumah, tetangga sampai negara bisa jadi bahan obrolan. Apalagi semenjak istriku mematikan televisi di rumah dan menggunakannya hanya untuk memutar VCD/DVD anak-anak, praktis aku harus banyak mensuplai informasi agar istriku tidak hidup hanya di seputar kompleks saja. Obrolan terhenti ketika kedua anakku bangun. Segera kumandikan anakku, sebelum aku sendiri kemudian mandi. Jika sempat shalat dhuha, terus berangkat ke kantor. Paling cepat pukul 09.00 baru keluar rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Ketika harus keluar pagi, jadinya sering kerepotan. Apalagi harus naik KRL berdesak-desakan. Sebenarnya tindakanku – berangkat ke kantor sudah siang – tidak terlalu keliru dalam konteks suasana Jakarta dan sekitarnya yang didominasi kemacetan lalu lintas. Meski absen di kantorku, biasanya sebelum pukul 09.00 sudah berada di meja Kepala Kantorku yang akan segera mencoret pegawai yang belum paraf (&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;datang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;) tidak membuatku jadi berangkat lebih pagi. Sempat juga aku dikomplain Kepala Kantorku, tapi ya kujawab ringan ,”Yang penting kan berapa jam sehari saya bekerja, bukan jam berapa saya memulai kerja.” Kalau teman-temanku yang komplain sudah kusediakan jawaban pula, “Saya kan membantu Pemda DKI mengurangi kemacetan !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;He … kok nglantur ya … kembali cerita tentang masyarakat yang sudah memulai aktifitasnya sejak pagi atau malah dini hari. Mengapa kehidupan mereka tak juga kunjung berubah ? Mereka mungkin belum mengikuti atau minimal membaca Kubik Leadership kali ya … mereka baru bekerja keras, belum bekerja cerdas …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Sampai di kantor pukul 08.45 WIB, buru-buru pinjam motor untuk terus pergi ke LAN. Tepat pukul 09.00 WIB aku sampai di LAN dan langsung ke BAAK. Aku langsung disodori 2 set soal TPA dan Bahasa Inggris. Kupikir tesnya Cuma formalitas, rupanya serius nih, gumanku. HP kumatikan dan serius mengerjakan soal. Pukul 11.45 baru selesai kukerjakan dilanjutkan dengan wawancara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Menunggu wawancara, HP kunyalakan. Nomor dari Kepala Kantor dan Kasubbag TU muncul, selama kumatikan rupanya aku beberapa kali dikontak beliau-beliau. Tak lama aku dipanggil wawancara, rupanya langsung dengan Ketua &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;STIA-LAN Prof. Dr. J. Basuki. Pertanyaan pertama adalah, “Kamu orang Jawa kok bisa bekerja di Aceh …?” Itulah pertanyaan yang sering aku terima …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="ES-TRAD" style="font-family:Arial;"&gt;Bla bla bla … wawancara selesai. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Segera kukontak kantor. Rupanya aku harus balik lagi ke Aceh besok ! Aku harus buru-buru ke kantor dan pesan tiket … Niatku setiap pekan kedua pulang ke Kebumen terancam batal. Pada akhirnya tetap saja aku lebih banyak “pulang” ke Aceh daripada pulang ke Kebumen. Baru pulang sekali ke Kebumen, ini sudah harus berturut-turut “pulang” ke Aceh dan rencana ke Kebumen otomatis batal ….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4728959220448067404?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4728959220448067404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4728959220448067404&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4728959220448067404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4728959220448067404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/02/pagi-yang-menakjubkan.html' title='Pagi yang Menakjubkan'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1626969776800312173</id><published>2008-01-31T03:32:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T00:50:39.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Keseharian'/><title type='text'>Logika Ngetem Sopir Angkot</title><content type='html'>Salah satu penyebab kemacetan di jalan-jalan, terlebih di Jakarta adalah angkot yang suka ngetem di sembarang tempat dalam waktu yang lama, sementara di terminal-terminal malah mereka cepat berlalu. Di Jatinegara, Tanah Abang, Pasar Senen sampai Pasar Minggu dlsb. Sopir-sopir angkot itu kalau penumpang belum penuh belum juga mau berangkat. Akibatnya angkot berderet-deret di jalan menunggu penumpang, kadang malah sampai dua baris dan tak beraturan lagi, membuat jalan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir-sopit itu menggunakan logika yang benar tapi menerapkannya dengan salah. Logikanya benar, kalau angkot tidak penuh penumpangnya tentu saja sopirnya bisa rugi. Pendapatan bisa sama atau bahkan lebih kecil dari setoran. Logika yang benar tapi salah penerapan, karena untuk membuat angkotnya penuh dengan penumpang tidak harus berasal dari satu tempat saja. Di sepanjang jalan yang menjadi rutenya, sudah pasti akan ada penumpang yang naik dan turun. Sehingga sebenarnya ketika berharap penumpang dari suatu tempat lalu menunggu (ngetem) ia telah kehilangan peluang untuk mendapatkan penumpang lain yang mungkin sudah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat yang lebih parah, sopir angkot tersebut telah menurunkan statusnya dalam berhubungan dengan penumpang, dari semula saling membutuhkan menjadi membutuhkan. Sopir angkotlah yang membutuhkan penumpang (yang belum naik). Sampai di sini sebenarnyalah belum menghadirkan permasalahan bagi orang lain. Permasalahan terjadi ketika hal ini dipraktekan di saat sudah ada sebagian penumpang yang ada di angkotnya. Seharusnya penumpang tersebut mungkin sudah menempuh sebagian perjalanannya atau kalau tujuannya dekat mungkin sudah sampai, tapi kenyataannya malah masih tetap di tempat. Bagi para pengguna jasa angkot pasti pernah mengalami peristiwa seperti ini, jengkel kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Logika Sopir Angkot" saya kemudian jadi menempelkan istilah tersebut pada beberapa fenomena serupa. Seseorang yang seharusnya diikuti banyak orang, malah jadi mengikuti banyak orang. Salah satunya adalah kebiasaan seusai shalat berjama'ah. Di Jakarta dan mungkin di kebanyakan masjid di Indonesia (nggak tahu di luar negeri), banyak Imam yang memperpanjang "masa kekuasaannya" dari menjadi imam shalat wajib, menjadi imam wirid dan do'a. Dalam sebuah perbincangan di gardu siskamling saat mendapat giliran jaga (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Alhamdulillah di tempat saya kebiasaan main kartu pada saat siskamling sudah berganti menjadi diskusi&lt;/span&gt;), saya lemparkan masalah ini. Saya sampaikan bahwa sesudah shalat wajib merupakan salah satu waktu yang baik digunakan untuk berdo'a, sementara apa yang dikehendaki masing-masing orang (makmum) jelas berbeda, sehingga tidak patut kalau Imam mengambil waktu tersebut untuk berdo'a bersama sesuai kemauan imam (lagi pula, saya kok belum pernah mendapatkan rujukan hadits yang membenarkan hal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, mereka yang membela menggunakan kerangka berpikir "Logika Sopir Angkot". Kan tidak semua orang paham adab berdo'a, makanya do'anya pun perlu dipimpin agar bisa berdo'a dengan benar. Saya tidak ingin mendebat, cuma berkata dalam hati, "Kalau tidak paham kenapa tidak belajar ? Atau kalau begitu alasannya sampai kapan mau ditoleransi, sehingga mereka semua pada paham ?". Imam yang seharusnya diikuti makmum (mendorong agar makmu bisa melakukan wirid dan berdo'a sendiri), malah jadi mengikuti makmum (walaupun prakteknya memimpin wirid dan do'a tapi hakekatnya kan mengikuti kemauan makmum yang merasa harus dipimpin dalam wirid dan berdo'a).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lainlah yang kemudian jadi terganggu karena "paduan suara" wirid atau koor "amin", misalnya makmum yang masbuk atau yang sedang wirid atau berdo'a sendiri. Apakah para Imam tidak berpikir sampai demikian ? &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Wallahu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1626969776800312173?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1626969776800312173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1626969776800312173&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1626969776800312173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1626969776800312173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/01/logika-ngetem-sopir-angkot.html' title='Logika Ngetem Sopir Angkot'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-801308221596736982</id><published>2007-10-25T00:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-04T00:54:13.168-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Hikmah Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;td valign="top" align="left" width="70%" colspan="2"&gt;&lt;span class="small"&gt;Republika, &lt;/span&gt;Selasa, 23 Oktober 2007 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top" colspan="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" colspan="2"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;''Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya hendaklah ia senantiasa menjaga silaturahim.'' (HR Muslim, dari Anas bin Malik RA).&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Tak ada yang mampu menghindar dari masalah selama menjalani kehidupan di dunia. Bahkan, tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian kompleks. Rasul dan orang-orang beriman di masa lalu pun pernah hampir putus asa ketika menerima cobaan yang demikian berat dari Allah SWT. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 214 disebutkan, ''Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ''Bilakah datangnya pertolongan Allah?''&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa ada yang mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dan ada yang tidak? Kuncinya sebenarnya adalah silaturahim. Tentu, tak hanya sekadar mendatangi saudara, kerabat, atau kenalan dengan pertemuan yang penuh basa-basi. Namun, pertemuan itu untuk mengukuhkan persaudaraan dan untuk selalu berbagi pengalaman; bercerita, dan mendengarkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan berbagi, kita menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Semangat hidup pun tumbuh kembali. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak keliru bila dalam hadis di atas Rasulullah SAW sangat menganjurkan silaturahim, yang hikmahnya antara lain akan membuat kita jadi panjang umur. Kalau saja tidak rajin silaturahim, dengan sedikit masalah saja akan membuat kita lekas putus asa. Hidup tanpa harapan atau malah mengakhiri hidup secara tragis. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun dengan memperbanyak silaturahim, masalah apa pun yang menimpa, bisa kita hadapi dengan ketegaran. Kita bisa saling mengingatkan untuk tidak berputus asa, sebagaimana bunyi akhir ayat 214 surat Al-Baqarah, ''.... Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'' &lt;em&gt;Wallahu a'lam bish-shawab&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Achmad Marzoeki&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-801308221596736982?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/801308221596736982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=801308221596736982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/801308221596736982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/801308221596736982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/01/hikmah-silaturrahim.html' title='Hikmah Silaturrahim'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-115711500314768009</id><published>2006-09-01T05:45:00.000-07:00</published><updated>2008-03-04T00:56:55.247-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otobiografi'/><title type='text'>Perjuangan Menjadi Diri Sendiri (1)</title><content type='html'>Orang bilang anak bungsu selalu dimanja. Kenyataannya tidak selalu begitu. Minimal, demikianlah yang kurasakan. Menjadi bungsu, penghujung anak dari 6 orang sebelumnya, membuat aku harus rela sekadar mewarisi fasilitas yang sebelumnya sudah diberikan dan digunakan saudara-saudaraku. Yang terutama, tentulah buku-buku pelajaran sekolah. Karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka dalam urusan sekolah juga mesti mengikuti jejak kakak-kakakku sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis SD sampai SMP, sekolah yang kumasuki sama dengan kakakku. Mula-mula masuk SD Muhammadiyah Kebumen. Terlambat masuk, karena semestinya aku belum disekolahkan. Januari 1974, usiaku baru 5 tahun 9 bulan. Tapi berhubung SD Muhammadiyah kekurangan murid, sementara bapakku saat itu Ketua PC Muhammadiyah Kebumen yang menaungi sekolah tersebut, agar sekolah tidak bangkrut, ya aku menjadi murid tambahan dengan SPP termahal (Rp 500,- per bulan), tapi status sebenarnya "bawang kothong" (tidak benar-benar sekolah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun di SD Muhammadiyah, setelah naik kelas 2 aku terpaksa pindah karena gedung SD Muhammadiyah mau pindah agak jauh dari rumah. Aku bersama kakakku pun pindah ke SD Negeri Kutosari 2. Begitulah seterusnya, lulus SD aku juga mengikuti jejak kakakku melanjutkan ke SMP Negeri 3 Kebumen lalu SMA Negeri Kebumen (sekarang SMU Negeri 1 Kebumen). Praktis semenjak kepindahanku ke SD Negeri Kutosari 2 sampai lulus SMA Negeri 1, aku tidak pernah bepergian jauh. Jarak terjauh dari rumah ke sekolahku adalah sewaktu SMP, itupun hanya sekitar 500 meter. Selama itu pula aku harus rela menggunakan buku-buku warisan kakakku. Masalah muncul ketika di SMA aku mengambil jurusan IPA, sementara kakakku IPS. Perbedaan itu tidak membuat Ayahku lantas memberi dana pembelian buku-buku keperluanku, karena alasan yang sederhana, setelah dipakai aku nanti juga tidak dipakai siapa-siapa. Jadilah aku di SMA lebih banyak bermodalkan daya ingat, karena sudah mulai enggan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu semester menjelang kelulusan SMA, adik sepupuku yang kebetulan juga sekelas denganku, tinggal di rumahku yang lebih dekat dengan sekolah (hanya menyeberang alun-alun Kebumen). Ketika itulah ayahku terkejut melihat buku-buku pelajaran adik sepupuku yang hampir memenuhi kolong tempat tidur. Seperti ada rasa bersalah kurang memfasilitasi sekolahku, sehingga begitu kemudian lulus SMA, tanpa kuminta ayahku memberiku dana untuk mengikuti bimbingan tes, tentu saja dengan mengikuti kakakku yang sudah kuliah di UNS Solo. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu berminat mengikuti bimbingan tes. Yah, sekadar menambah pergaulan saja. Sampai SMA nyaliku masih sangat kecil. Maklum penampilan fisikku tidak meyakinkan, berasal dari kota kecil dan kurang ada dorongan untuk mandiri, lingkungan keluargaku lebih sering menyepelekanku daripada mencoba membangun kepercayaan diriku. Masa, ketika aku berhasil lulus SMP dengan predikat Juara I, ayahku mengecek ke guru-guruku kalau-kalau ada kesalahan dalam memberikan nilai padaku. Akibatnya aku pun tidak termotivasi lagi mengejar prestasi akademis yang lebih tinggi. Toh, juga tidak dipercaya kalau aku bisa berprestasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-115711500314768009?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/115711500314768009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=115711500314768009&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/115711500314768009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/115711500314768009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2006/09/perjuangan-menjadi-diri-sendiri.html' title='Perjuangan Menjadi Diri Sendiri (1)'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-5750656504324776339</id><published>2006-08-31T19:33:00.000-07:00</published><updated>2008-03-04T00:58:03.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realitas'/><title type='text'>SELEKSI CPNS DI MATA PNS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: arial" href="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R7O3GQ3stqI/AAAAAAAAABY/RxP5IUtARtM/s1600-h/Picture+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166674515759773346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R7O3GQ3stqI/AAAAAAAAABY/RxP5IUtARtM/s320/Picture+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%" face="arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%" face="arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%" face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;Achmad Marzoeki&lt;/span&gt; &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;PNS, Staf Kantor Penghubung Pemprov NAD di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebagai seorang PNS yang tidak bertugas di bidang kepegawaian, sebenarnyalah saya tidak berkepentingan untuk memperhatikan setiap kali berlangsung proses seleksi CPNS. Hanya saja setiap proses seleksi CPNS berlangsung, tidak terkecuali untuk formasi tahun 2005 yang lalu, selalu saja ada kenalan atau kerabat yang menghubungi dan “mohon dibantu” agar bisa diterima. Hal ini yang kemudian melahirkan tanda tanya dalam benak saya, benarkah pada era reformasi sekarang ini seleksi CPNS masih bisa “disiasati” ?&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tanda tanya ini mendorong ingatan saya surut ke belakang, ketika mengikuti Diklat Pra Jabatan Golongan III pada tahun 2002. Lazimnya dalam setiap kegiatan diklat, sesama peserta tentu akan saling berkenalan dan bertukar pengalaman. Ketika bertukar pengalaman itulah tidak bisa dihindari kalau kemudian masuk juga “wilayah-wilayah rahasia”, yakni bagaimana proses yang dilalui masing-masing untuk menjadi CPNS. Dari cerita sesama peserta tersebut, saya jadi bisa mengklasifikasikan CPNS berdasarkan proses penerimaannya, meski semuanya mengikuti seleksi CPNS yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, mereka yang diterima CPNS murni karena lolos seleksi. Mereka menjadi CPNS melalui prosedur biasa, mengetahui ada pengumuman formasi CPNS kemudian mendaftar, melengkapi persyaratan terus mengikuti tes dan lulus. Tidak ada upaya lain yang dilakukan selain prosedur resmi tersebut, karena kelompok ini biasanya berprinsip “&lt;i&gt;Jika saya diterima menjadi CPNS ya syukur, kalau tidak diterima ya mencari pekerjaan lain&lt;/i&gt;”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;selain melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kelompok pertama, mereka berupaya mendekati pejabat yang dianggap memiliki peran dalam pengambilan keputusan penerimaan CPNS. Pendekatan dilakukan karena memiliki hubungan kekerabatan atau pertemanan dengan pejabat tersebut. Kenyataannya memang peserta diklat Pra Jabatan yang seangkatan dengan saya ada yang adik Menteri, anak Dirjen dan entah ada hubungan famili apa lagi dengan petinggi di instansi yang bersangkutan. Kelompok ini biasanya berprinsip, “&lt;i&gt;Masak punya famili/kenalan pejabat tidak bisa membantu saya menjadi CPNS&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, karena tidak memiliki kenalan atau famili yang menjadi pejabat berwenang, selain menempuh prosedur resmi juga melakukan pendekatan melalui “pihak ketiga” (untuk tidak menyebut calo). Pendekatan ini konsekuensinya harus menyediakan dana. Teman-teman seangkatan Diklat Pra Jabatan dengan saya menyebut angkanya berkisar Rp 25 jutaan. Konon di tahun 2001 memang sebesar itu “harga pasarannya” untuk “bisa mendapatkan NIP” (Nomor Induk Pegawai Negeri). Mereka yang termasuk kelompok ini umumnya berprinsip “&lt;i&gt;Bagaimanapun caranya saya harus menjadi CPNS !&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena tidak melakukan penelitian, persentase dari ketiga kelompok tersebut tidak bisa dipastikan. Keberadaan ketiga kelompok tersebut juga masih mungkin untuk diperdebatkan, sekaligus tidak menutup kemungkinan juga ada kelompok keempat, kelima dan seterusnya yang saya sendiri belum bisa mendefinisikan. Yang pasti, sudah jelas akan banyak kendala untuk membuat klasifikasi yang benar-benar valid terhadap CPNS berdasarkan proses yang dilaluinya, di luar klasifikasi yang bersifat normatif, lulus seleksi CPNS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;h2&gt;Keluarga dan Teman &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keberadaan kelompok pertama sepertinya tidak perlu dibahas, karena memang begitulah yang seharusnya. Sehingga yang perlu diulas adalah fenomena munculnya kelompok kedua dan ketiga. Munculnya kelompok kedua tidak bisa lepas dari kultur masyarakat &lt;/span&gt;&lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; yang gemar menerapkan “azas kekeluargaan”. Seseorang yang dianggap sudah berhasil harus bisa membawa keberhasilan bagi keluarganya juga. Dan ketika seseorang sudah mendapat predikat sebagai orang yang berhasil (termasuk menjadi seorang pejabat, memiliki kedudukan tinggi di salah satu instansi pemerintah) akan semakin bertambah besar pula jumlah “anggota keluarganya”. Keluarganya tidak lagi terbatas pada keluarga inti saja, tapi juga melebar ke sanak saudara dari keluarga pihak bapak, keluarga pihak ibu sampai orang-orang yang berasal dari kampung yang sama kemudian juga ikut disebut sebagai keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dengan kriteria seperti itu, semakin banyak pula orang-orang yang harus ikut merasakan keberhasilan tersebut, atas nama keluarga. Dalam konteks seleksi CPNS, maka mereka yang merasa anggota keluarga seorang pejabat dan berkeinginan menjadi CPNS bisa saja merasa sudah memiliki jatah kursi sebelum mendaftar. Sehingga baginya, mengikuti testing dalam seleksi CPNS akan dianggap sekadar formalitas belaka. Bila model orang seperti ini ternyata kemudian tidak lolos, maka pejabat yang dianggap keluarganya tapi ternyata tidak ikut membantu, sudah pasti akan menjadi bahan umpatan. Dianggapnya pejabat tersebut hanya mementingkan diri sendiri, lupa asal-usul, lupa ketika masih sudah banyak ditolong keluarga dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keadaan inilah yang akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang pejabat, kuatkah dengan omongan tersebut untuk tetap bertahan tidak mau mencampuri prosedur resmi seleksi CPNS meski ada keluarganya yang mengikuti atau akhirnya larut dengan sesuatu yang sudah dianggap lazim. Ketika akhirnya tidak kuat bertahan dan berubah haluan, alasan yang dijadikan pembenar adalah prinsip, “&lt;i&gt;Masak cuma memikirkan orang lain saja, keluarga sendiri tidak diperhatikan&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;Adakalanya mungkin juga terjadi campur tangan pihak ketiga yang ingin mengambil keuntungan dengan unjuk jasa kepada seorang pejabat dalam memperjuangkan keluarganya. Sehingga tanpa diminta bahkan mungkin tanpa sepengetahuan pejabat yang bersangkutan, pihak ketiga tersebut menghubungi panitia seleksi dengan membawa nama pejabat tersebut yang kebetulan keluarganya ada yang mengikuti seleksi CPNS. Karena segan dengan pejabat tersebut, bisa saja kemudian panitia seleksi CPNS percaya saja kepada omongan pihak ketiga yang sedang “memperjuangkan” keluarga pejabat tersebut untuk menjadi CPNS. Padahal kalau pejabat yang bersangkutan tahu, belum tentu setuju dengan pengistimewaan anggota keluarganya yang sedang mengikuti seleksi CPNS.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keberadaan kelompok kedua juga dimungkinkan karena fenomena hubungan pertemanan yang hampir mirip dengan hubungan keluarga. Semakin tinggi jabatan seseorang akan berdampak pada semakin membengkak pula jumlah orang yang mengaku sebagai teman. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; banyak jalan sehingga seseorang menganggap dirinya teman seorang pejabat. Bisa karena kebetulan satu almamater, pernah aktif di organisasi kemasyarakatan yang sama, dikenalkan temannya atau mungkin kebetulan pernah bertemu dalam suatu acara dan kebetulan bisa foto bersama. Status tersebut akan digunakan yang bersangkutan untuk meminta agar pejabat yang menjadi “temannya” bisa membantunya lolos seleksi CPNS. Pendeknya, terjadilah beberapa kemungkinan sebagaimana halnya dengan mereka yang berstatus sebagai anggota keluarga pejabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Pihak Ketiga : Calo dan Spekulan&lt;/h2&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tiadanya keluarga dan teman yang diharapkan bisa membantu, tidak otomatis menyurutkan langkah mereka yang ingin mencari jalan pintas lolos seleksi CPNS. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan pihak ketiga dengan menentukan tarif tertentu untuk menjamin diterimanya seseorang menjadi CPNS. Padahal besarnya tarif tersebut sungguh sangat tidak logis. Bayangkan, informasi dari teman-teman seangkatan Diklat Pra Jabatan saya besaran tarif untuk diterima menjadi CPNS sekitar Rp 25 juta. Padahal pada masa itu gaji pokok untuk golongan III/a adalah Rp760.800,-. Berapa lama masa kerja untuk bisa mengembalikan “modal” Rp 25 juta tersebut ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;Yang mengherankan, tidak sekali dua berita kasus penipuan menimpa peserta seleksi CPNS, modusnya pun sama sudah mengeluarkan uang jutaan rupiah kemudian tidak diterima, namun masih juga ada yang percaya dan kemudian mencoba menempuh jalan pintas tersebut. Padahal ketika gagal, bukan hanya tidak berhasil mendapatkan status CPNS tapi uang yang sudah diserahkan juga tidak mungkin kembali. Mereka yang semula menawarkan jasa untuk membantu menjadi CPNS akan menghilang begitu saja tanpa jejak. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Fenomena ini sekaligus mengindikasikan keberadaan pihak ketiga ternyata masih bisa dikategorikan lagi yaitu calo dan spekulan. Calo memang benar-benar menghubungi atau memang sudah ada hubungan dengan pejabat yang berwenang dalam seleksi CPNS, sementara spekulan hanyalah memanfaatkan ekspektasi pendaftar CPNS tanpa melakukan apa-apa. Spekulan pemula akan meminta “tarif” dibayar setelah ada pengumuman “kliennya” diterima (padahal meskipun “kliennya” diterima sebenarnya juga karena hasil testing yang bersangkutan bukan karena usaha spekulan). Sementara pekulan yang sudah lama &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;malang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; melintang akan berlaku sama seperti calo, berani meminta di muka. Konsekuensinya, bila ternyata kemudian “kliennya” tidak diterima, karena sesungguhnya spekulan memang tidak melakukan apa-apa, langkah yang akan diambil adalah lari dan bersembunyi dari para “kliennya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Reformasi Seleksi CPNS&lt;/h2&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dengan demikian munculnya kelompok kedua dan ketiga dipengaruhi oleh 4 variabel yang akan saling berkelit dan berkelindan. Keempat variabel tersebut adalah : (i) pejabat yang punya pengaruh; (ii) panitia seleksi CPNS; (iii) pelamar CPNS dan (iv) pihak ketiga yang sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan seleki CPNS. Dalam konteks reformasi birokrasi, seleksi CPNS merupakan salah satu wilayah yang tidak boleh tidak harus ikut disentuh, maka reformasi seleksi CPNS menjadi sesuatu yang tidak boleh ditawar-tawar. Untuk itu paling tidak ada 2 langkah besar yang diperlukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Penanganan terhadap keempat variabel tersebut secara simultan agar bisa mendukung terwujudnya sistem seleksi CPNS yang fair. Dalam hal ini diperlukan kondisi ideal dari keempat variabel itu sebagai berikut : (i)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Pejabat yang paling berpengaruh di negeri ini sekalipun, tidak boleh sama sekali merasa memiliki kewajiban untuk membantu dengan cara apa pun untuk mempengaruhi panitia seleksi CPNS agar keluarga dan/atau temannya bisa lolos; (ii)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Panitia seleksi CPNS juga harus bekerja seprofesional mungkin, independen, tidak mempan dengan berbagai pihak yang ingin memaksakan keinginannya dan tidak mengharapkan imbalan apa pun di luar honor resmi sebagai panitia; (iii)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Pelamar CPNS harus memandang CPNS sebagai salah satu dan bukan satu-satunya alternatif pekerjaan, sehingga tidak perlu memiliki prinsip “&lt;i&gt;harus menjadi CPNS&lt;/i&gt;”. Variabel ketiga ini biasanya sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua. Banyak PNS yang cenderung merasa belum puas kalau anaknya belum menjadi PNS. Karena itu mereka kemudian seperti memaksakan diri agar anaknya juga menjadi PNS, kalau perlu dengan menempuh segala cara; dan (iv) Pihak yang tidak terkait dengan penyelenggaraan seleksi CPNS, tidak perlu melibatkan diri dengan cara apapun dalam proses seleksi CPNS. Apalagi sekarang dalam kepanitiaan seleksi CPNS sudah dilengkapi dengan pengawas independen. Sehingga sudah saatnya kita perlu belajar mempercayai dan menyerahkan segala sesuatunya kepada sistem dan mekanisme yang berlaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sangsi hukum, merupakan salah satu alternatif untuk mendorong terwujudnya seleksi CPNS yang fair. Meskipun harus diakui sulit untuk mendapatkan bukti hukum yang layak ketika salah satu dari keempat variabel yang berpengaruh dalam seleksi CPNS tersebut berperilaku menyimpang. Setidaknya dengan adanya proses hukum yang diterapkan akan membuat mereka yang masih berupaya mencari jalan pintas, berpikir ulang sebelum melanjutkan langkahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, Revisi terhadap materi seleksi CPNS. Materi yang bersifat keilmuan sebenarnya sudah kurang relevan karena ijazah semestinya sudah mewakili. Yang lebih dibutuhkan dari seleksi CPNS adalah sistem yang bisa mengekplorasi potensi peserta seoptimal mungkin. Sehingga panitia bisa optimal pula dalam menyeleksi, yakni mengkomparasikan potensi peserta seleksi dengan formasi yang dibutuhkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dengan kedua langkah tersebut, masih memungkinkan untuk menaruh harapan bahwa CPNS yang lolos seleksi akan sanggup membawa perubahan dan menjadi penggerak reformasi birokrasi. Sebaliknya, tanpa kedua langkah tersebut, CPNS hasil seleksi bukan tidak mungkin malah semakin memperburuk kinerja birokrasi. Saya masih ingat, belum sampai setahun setelah mengikuti Diklat Pra Jabatan yang sempat menggulirkan isu “Generasi Anti KKN” salah satu rekan seangkatan saya yang masih keluarga pejabat tinggi, justru tersangkut kasus permintaan uang kepada rekanan di instansi tempatnya bekerja. Kasus lain mungkin lebih banyak, hanya tidak terangkat ke permukaan. Bukankah bagi mereka yang sudah terlanjur mengeluarkan “modal” sebelum menjadi CPNS pasti akan dikejar target “pengembalian modal” yang tidak mungkin dipenuhi hanya melalui gaji semata ? &lt;i&gt;Wallau a’lam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Dari : Fajar Nursahid (editor) "&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Mengurai Benang Kusut Birokrasi; Upaya Memperbaiki Centang-perenang Rekrutmen PNS&lt;/span&gt;", Piramedia, Jakarta, 2006 hal 159-165&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-5750656504324776339?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/5750656504324776339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=5750656504324776339&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5750656504324776339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5750656504324776339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2006/08/seleksi-cpns-di-mata-pns.html' title='SELEKSI CPNS DI MATA PNS'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R7O3GQ3stqI/AAAAAAAAABY/RxP5IUtARtM/s72-c/Picture+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-115693564530936342</id><published>2006-04-30T17:55:00.000-07:00</published><updated>2008-03-04T01:13:39.602-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otobiografi'/><title type='text'>Kesan Pertama Terserah Anda ...</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5498/3689/1600/Foto-1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5498/3689/320/Foto-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang menganggap kesan pertama demikian penting. Sehingga pertemuan pertama akan dirancang sedemikian rupa agar berkesan semenarik mungkin. Tidak bagi saya. Dan memang demikian pula yang sering terjadi. Kesan yang saya tangkap, setiap pertemuan pertama orang cenderung menyepelekan saya. Mungkin itu pula sebabnya, saya tidak pernah bisa diterima melamar kerja. Karena untuk melamar kerja memang harus menampilkan kesan pertama yang menarik !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin seperti gunung ! Dari jauh kelihatan indah dipandang, semakin dekat semakin nampak kasarnya ! Saya ingin menjadi sahabat sejati bagi semua orang. Karena itu saya merasa tidak harus mengatur penampilan ketika menghadapi pertemuan pertama. Biarlah orang lain tidak memperhitungkan saya dalam sekali pertemuan, tapi akan merasa kehilangan ketika harus melakukan perpisahan setelah beberapa kali pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apapun kesan anda terhadap saya pada pertemuan pertama, tidak penting bagi saya !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-115693564530936342?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/115693564530936342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=115693564530936342&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/115693564530936342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/115693564530936342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2006/04/kesan-pertama-terserah-anda.html' title='Kesan Pertama Terserah Anda ...'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7236360253878923960</id><published>2005-02-14T20:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T00:49:01.800-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>MENGGAGAS TEOLOGI PRESTASI</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoTitle"&gt;Achmad Marzoeki&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PP GPII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Globalisasi dan liberalisasi sudah di depan mata. Era kompetisi antar bangsa di segala bidang kehidupan segera dimulai. Tak hanya arus barang dan jasa yang segera menembus batas-batas negara, arus tenaga kerja juga akan keluar masuk dengan bebasnya dari satu ke lain negara. Apa pengaruhnya bagi kehidupan manusia ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Yang terbayang kemudian adalah reinkarnasi hukum rimba. Jika di zaman purba berlaku doktrin &lt;i&gt;survival is the fittest&lt;/i&gt;, maka dalam era globalisasi dan liberalisasi doktrinnya menjadi &lt;i&gt;survival is the best&lt;/i&gt;. Sepintas antara &lt;i&gt;the fittest&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;the best&lt;/i&gt; hampir sama, namun sesungguhnya berbeda. &lt;i&gt;The&lt;/i&gt; &lt;i&gt;fittest&lt;/i&gt; lebih bertumpu pada kekuatan fisik semata, sementara kekuatan &lt;i&gt;the best&lt;/i&gt; lebih bervariasi. Jika dipersonifikasi, &lt;i&gt;the&lt;/i&gt; &lt;i&gt;fittest&lt;/i&gt; adalah orang yang berotot, sementara &lt;i&gt;the best&lt;/i&gt; adalah orang yang berotak dan trampil. Maknanya, hanya mereka yang mampu menggunakan otak dan memiliki ketrampilan yang akan sanggup berkompetisi di era globalisasi dan liberalisasi. Yang tidak, hanya akan menjadi penoton dan pelengkap penderita, cuma bisa mengkais sisa-sisa. Mengerikan !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Memang, mimpi buruk tersebut belum tentu akan menjadi kenyataan. Tapi memperhitungkan kemungkinan terburuk akan lebih membantu mejadikan mimpi indah sebagai kenyataan. Betul juga, bila tidak semua negara dan bangsa mendukung globalisasi dan liberalisasi. Namun bagaimanapun kedua proses tersebut juga merupakan suatu keniscayaan yang tidak mungkin dielakkan. Keduanya merupakan konsekuensi perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat dan cepat sehingga hanya tinggal menunggu waktu untuk mengalami perubahan wujud dari dunia maya di &lt;i&gt;cyber space&lt;/i&gt; ke alam nyata, kehidupan kita sehari-hari. Karena itu sikap paling tepat yang diperlukan untuk menyambutnya bukanlah perlawanan, melainkan mengantisipasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Potret SDM Indonesia&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Peristiwa yang mengenaskan kembali terjadi, ratusan ribu TKI terpaksa harus kembali dari Malaysia. Suka tidak suka, mereka harus pulang ke tanah air karena bekerja secara ilegal. Berakhirnya masa amnesti bagi pekerja illegal di Malaysia membuat mereka harus angkat kaki, walau sebenarnya tenaga mereka juga dibutuhkan. Namun karena kategori pekerjaan mereka yang tergolong kasar, nyaris tanpa perlu bekal ketrampilan, membuat status sosial mereka juga kurang mendapat penghargaan yang layak. Sehingga ibarat habis manis sepah dibuang, mereka pun dicampakkan begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Rasanya juga masih melekat dalam memori kita, mencuatnya kasus PT. Qurnia Subur Alam Raya (QSAR). Perusahaan agribisnis ini menawarkan bagi hasil keuntungan yang menarik bagi para calon investor sampai 45 % dari nilai investasi dalam jangka waktu 3 bulan. Bandingkan dengan bunga deposito sekarang yang paling sekitar 15 %. Dan meskipun kasus PT. QSAR sudah mencuat ke permukaan masih juga muncul iklan yang menjanjikan hal serupa, investasi di bidang agribisnis dengan bagi hasil yang menggiurkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dengan nafas yang sama, masih marak sampai sekarang penipuan dengan dalih korban akan mendapat hadiah karena memenangkan suatu undian, baik melalui surat maupun sms. Padahal tidak jelas korban mengikuti undian berhadiah tersebut atau tidak. Yang jelas ujung-ujungnya korban diharuskan menyetor uang sebagai syarat pengambilan hadiah ke nomor rekening tertentu. Buntutnya, uang hilang dan hadiah hanya sebuah bayang-bayang yang tidak bisa dipegang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kalau kita mau menengok lebih ke belakang lagi, akan banyak terkumpul peristiwa-peristiwa penipuan menghebohkan yang kesemuanya mengarah pada satu kesimpulan, bahwa masyarakat kita masih didominasi mental ingin segera mendapatkan hasil melimpah tanpa bersusah payah. Kalau Adam Smith menggariskan prinsip ekonomi “dengan pengeluaran minimal memperoleh hasil maksimal”, maka masyarakat cenderung dengan prinsip “kalau bisa tanpa pengeluaran tapi mendapatkan hasil maksimal”. Pengaruhnya kemudian mereka suka menerabas, cenderung menghindari sesuatu yang prosedural, sekalipun sudah standard resmi. Muaranya adalah sikap malas tapi rakus dan enggan berkompetisi secara sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dengan potret sebagian masyarakat kita yang masih seperti itu tentu mencuatkan keraguan akan kesiapan sumber daya manusia kita menghadapi globaliasi dan liberalisasi. Lalu apa yang harus dilakukan ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Kebutuhan Berprestasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;David McClallend mengindikasikan adanya semacam virus N’Ach (&lt;i&gt;Need for Achievement&lt;/i&gt;, Kebutuhan Untuk Berprestasi) dalam diri seseorang yang mempengaruhi motivasinya dalam melakukan suatu pekerjaan. Dari teori ini kemudian berkembanglah AMT (&lt;i&gt;Achievement Motivation Training&lt;/i&gt;, Pelatihan Motivasi Berprestasi) yang bertujuan meningkatkan motif berprestasi pesertanya. Tentu dengan harapan seusai pelatihan, prestasi para peserta jadi meningkat karena motivasi berprestasinya sudah bertambah. Di Indonesia pelatihan-pelatihan AMT dan berbagai modifikasinya sudah banyak berkembang, namun kita belum melihat hasil yang signifikan dari berbagai penyelenggaraan pelatihan tersebut. Bahwa evaluasi teknis-metodologis terhadap berbagai pelatihan tersebut perlu dilakukan itu soal lain, tapi upaya mendorong masyarakat kita agar menjadi masyarakat yang berprestasi dengan alternatif lain juga perlu dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, maka pendekatan ajaran Islam layak diujicobakan. Apalagi rintisan-rintasan ke arah penggalian nilai-nilai spiritualitas untuk memotivasi keberhasilan seseorang sudah banyak dilakukan. Dimulai dari David Golleman dengan &lt;i&gt;Emotional Inteligence&lt;/i&gt; (Kecerdasan Emosi) yang mencoba memadukan pikiran dan perasaan, lalu ada Ary Ginanjar dengan konsep ESQ (&lt;i&gt;Emotional Spiritual Quetient&lt;/i&gt;) sampai ke Aa Gym dengan Manajemen Qalbu-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam perspektif Islam, perilaku seseorang merupakan wujud dari keimanannya. Sabda Rasulullah SAW, “&lt;i&gt;Akmalul mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqa&lt;/i&gt;” (Yang paling sempurna iman seorang mukmin adalah yang paling bagus budi pekertinya). Karena itu salah satu tawaran yang memungkinkan bisa mendorong seorang muslim termotivasi untuk berprestasi adalah melalui pendekatan teologis, yakni dengan mengembangkan teologi prestasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam pengertian sederhana, Jalaluddin Rahmat mengartikan teologi sebagai keyakinan agama (&lt;i&gt;ushuluddin&lt;/i&gt;) yang dipakai untuk membenarkan suatu pola tindakan tertentu. Berpijak dari pengertian tersebut teologi prestasi dapat dimaknai sebagai keyakinan seorang muslim yang harus menjadi orang berprestasi sebagai tugas hidupnya, hanya dengan begitu ia bisa menjalankan misi sebagai &lt;i&gt;khalifatullah fil ardh&lt;/i&gt;. Dalam hal ini prestasi tentu saja tidak identik dengan pemenang suatu perlombaan, melainkan bisa dimaknai secara kualitatif dan kuantitatif. Prestasi dalam makna kualitatif, yaitu kemampuan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi umat yang jarang dimiliki orang lain. Sementara dalam makna kuantitatif adalah kemampuan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi umat dengan hasil yang lebih banyak dari yang dilakukan orang lain. Contoh prestasi kualitatif misalnya mampu menemukan bibit unggul tanaman pertanian, berhasil membuat mesin hemat energi dan lain-lain. Sedangkan contoh prestasi kuantitatif adalah bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang singkat, dalam satu tahun mampu menulis buku sebanyak 10 judul dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Teologi Prestasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Suatu paham teologi berintikan konsep tentang Tuhan, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lain. Kalau kita telaah ayat-ayat yang ada dalam Al Qur’an maupun hadits-hadits &lt;i&gt;mutawwatir&lt;/i&gt; akan banyak kita temukan dukungan bagi pengembangan teologi prestasi. Teologi Asy’ariyyah yang masih mendomasi umat Islam Indonesia, pada dasarnya juga telaah terhadap ayat-ayat tertentu dalam al Qur’an dan hadits-hadits tertentu pula, yang mendukung prinsip teologi tersebut. Sementara ayat-ayat atau hadits-hadits lain kurang ditelaah secara lebih mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Konsep tentang Tuhan dalam berbagai aliran teologi Islam barangkali tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam kaitannya dengan perilaku manusia. Yang berpengaruh adalah konsep tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lain. Berkaitan dengan hubungan Tuhan-manusia dalam Surat Ar Rahman ayat 33 Allah SWT berfirman “Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu mampu menembus langit dan bumi maka lakukanlah. Tetapi kamu tidak akan dapat melakukannya melainkan dengan kekuatan.” Ayat ini jelas memberikan tantangan bagi manusia untuk berprestasi secara kualitatif, melakukan sesutau yang tidak semua orang mampu. Kemudian dalam kaitan dengan hubungan antar manusia dalam surat Al Baqarah ayat 148 dan Al Maidah ayat 48 Allah SWT memerintahkan untuk &lt;i&gt;fastabiqul khairat&lt;/i&gt; (berlomba-lomba dalam kebaikan). Berkaitan dengan hubungan manusia dengan makhluk lain, dalam Al Baqarah ayat 30 dijelaskan tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjadi &lt;i&gt;khalifatullah fil ardh&lt;/i&gt; (wakil Allah di bumi). Karena itu di pundak manusia terletak tanggung jawab atas keadaan makhluk lain di bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Beberapa ayat tersebut sekadar contoh. Masih banyak ayat lain yang jika dikaji lebih mendalam akan sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya setiap muslim dituntut untuk bisa menjadi makhluk yang berprestasi dan bermanfaat bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi makhluk lainnya. Demikian juga kalau kita juga mau melakukan pengkajian lebih mendalam terhadap hadits-hadits. Persoalannya kemudian tinggal merumuskan secara lebih sistematis lalu mengembangkan lebih lanjut dan menanamkannya semenjak dini kepada generasi penerus muslim, agar kelak menjadi umat Islam yang berprestasi. Insya Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7236360253878923960?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7236360253878923960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7236360253878923960&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7236360253878923960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7236360253878923960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2014/02/menggagas-teologi-prestasi.html' title='MENGGAGAS TEOLOGI PRESTASI'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-456879596856727185</id><published>2004-08-29T20:50:00.000-07:00</published><updated>2008-03-05T21:03:15.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenegaraan'/><title type='text'>POTONG SATU GENERASI BIROKRAT</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Achmad Marzoeki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang PNS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;   Reformasi sudah berjalan 6 tahun, sebentar lagi pun akan terjadi pergantian presiden yang ketiga kalinya pasca Soeharto, tapi visi reformasi semakin kabur. Salah satu agenda reformasi yang didengungkan, pemberantasan KKN, semakin sumbang terdengar. Ibarat sebuah lagu yang dinyanyikan kelompok paduan suara, vokal para penyanyinya tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;  Betapa tidak. Perangkat hukum berupa UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah ada. Demikian pula lembaganya telah dibentuk. Sebelumnya, sudah ada Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), sayangnya malah berbuntut “keributan”. Karena 17 anggota KPKPN menggugat Presiden berkaitan dengan pemberhentian mereka, bukannya menggabungkannya ke KPK sesuai Pasal 69 UU tersebut (&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;27/08/2004).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;     Dalam Pemilu Legislatif lalu, 24 kontestannya menyuarakan pemberantasan KKN, demikian juga 5 pasang capres-cawapres dalam Pemilihan Presiden, semuanya mengagendakan pemberantasan KKN. Kenyataannya transparansi dana kampanye saja bermasalah. Dan persoalan tersebut dianggap sekadar kesalahan administratif, lalu hilang tanpa bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Belum lagi LSM dan ormas-ormas yang menyuarakan pemberantasan KKN juga semakin menjamur dan nyaring suaranya. Tapi kita juga tidak tahu pasti, dari mana mereka mendanai kegiatannya. Mengingat biaya hidup semakin mahal, akan menjadi pertanyaan dari mana penghasilan mereka jika sehari-hari hanya menjalani hidup sebagai aktivis ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Tidaklah berlebihan kiranya bila menyebut perubahan yang terjadi dari orde baru ke orde reformasi bukan perubahan peristiwa, melainkan perubahan pelaku karena perubahan penguasa. Lalu masih pantaskah kita berharap pemberantasan KKN akan terlaksana ? Atau setidaknya membuat peringkat Indonesia dalam deretan negara terkorup bisa menyamai peringkat Indonesia dalam perolehan medali pada Olimpiade Athena 2004.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide radikal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;   &lt;br /&gt;    Sikap skeptisme yang terus menyeruak melihat lambannya pemberantasan KKN membuat lahirnya ide-ide radikal tak bisa dihindari. Sebutlah misalnya ide hukuman mati bagi koruptor. Ide ini bisa dibilang radikal mengingat hukuman mati bagi pembunuh atau kejahatan berat lainnya masih menjadi polemik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Ide radikal lainnya berupa gerakan anti politikus busuk menjelang pemilu lalu. Harapannya jelas, pemilu legislatif akan menghasilkan anggota-anggota dewan yang bersih, tidak seperti pemilu 1999 yang banyak menghasilkan tersangka berbagai kasus korupsi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Tapi bagaimana hasilnya bisa kita lihat dari profil para caleg terpilih. Yang jelas kalau melihat banyaknya caleg terpilih bermasalah, seperti tersangkut kasus pemalsuan ijazah, bisa menjadi indikasi pemilu legislatif lalu belum memberikan hasil yang sesuai harapan dalam konteks kelanjutan agenda reformasi, khususnya pemberantasan KKN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;&lt;br /&gt;      Terakhir ide radikal muncul dari “Negeri Serambi Korupsi” berupa pencangkokan &lt;i&gt;microchip &lt;/i&gt;anti korupsi kepada para pejabat (&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;25/08/2004). Fachrul, mahasiswa Unsyiah Banda Aceh, yang mengusulkannya berargumen bahwa ide tersebut dalam persoalan yang berbeda sudah dilaksanakan di Jerman. Para hakim di Jerman, menurut Fachrul sudah dipasangi &lt;i&gt;microchip&lt;/i&gt; agar tak melanggar HAM. Fachrul berharap dengan pemasangan &lt;i&gt;microchip&lt;/i&gt; anti korupsi kepada para pejabat, maka mereka yang baru berniat korupsi saja sudah terdeteksi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tentu ada yang sinis dengan ide ini. Tapi tidak bisa diklaim bahwa yang sinis adalah para koruptor yang takut akan ketahuan ketika baru berniat korupsi. Justru penulis yakin masih ada koruptor yang setuju dengan ide radikal ini. Setidaknya koruptor tersebut masih melihat peluang untuk melakukan korupsi yang terakhir kalinya, yakni dalam pengadaan dan pemasangan &lt;i&gt;microchip&lt;/i&gt; anti korupsi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Potong satu generasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;&lt;br /&gt;    Agar tidak larut dalam skeptisme, penulis pun tergelitik untuk ikut menggulirkan ide radikal pemberantasan KKN. Jika beberapa waktu lalu kalangan penggerak reformasi menggulirkan ide potong satu generasi dalam kepemimpinan nasional, sebagai buntut kegagalan kepemimpinan nasional dalam menuntaskan agenda reformasi, maka menurut hemat penulis, ide ini layak dipertimbangkan terhadap birokrat dalam upaya pemberantasan KKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukankah kasus-kasus KKN, baik yang terungkap atau tidak, senantiasa melibatkan birokrat-birokrat senior ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Karena itu diperlukan generasi birokrat yang benar-benar belum pernah menikmati KKN, atau setidaknya belum terlanjur ahli mengelola KKN. Sehingga ide potong satu generasi birokrat layak dipertimbangkan. Langkahnya sederhana, &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, pensiunkan birokrat yang sudah bekerja selama 20 tahun atau lebih. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, seleksi lagi birokrat yang sudah bekerja selama 15 tahun, sehingga hanya yang bersih dan berprestasi saja yang dipertahankan. Dan &lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;rekrutmen baru harus dilakukan dengan sistem kontrak, agar berlanjutnya karir seorang birokrat karena prestasi semata bukan buah cari muka kepada atasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Namun ide ini dihadapkan pada 2 persoalan besar. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, pengambil keputusan bagi diterima tidaknya ide ini justru merupakan bagian dari generasi yang akan terpotong. Dan &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;, potensi dampak sosial yang tidak sederhana akibat membengkaknya jumlah pensiunan dan mantan pejabat, yakni berupa &lt;i&gt;post power syndrom&lt;/i&gt; massal dengan segala kemungkinannya. Selain itu, ide ini juga masih menyisakan ruang bagi terjadinya praktek KKN, yakni dalam pembuatan masa kerja yang mungkin bisa diperpendek dan pada saat seleksi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IT" &gt;&lt;br /&gt;    Bagaimanapun juga, bila kita masih sepakat bahwa praktek KKN harus segera dihentikan atau dikurangi, maka langkah berani memang harus dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kalaupun bukan langkah radikal, harus diambil langkah yang bisa menjadi shok terapi dan membuat jera para pelaku KKN. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-456879596856727185?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/456879596856727185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=456879596856727185&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/456879596856727185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/456879596856727185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2004/08/potong-satu-generasi-birokrat.html' title='POTONG SATU GENERASI BIROKRAT'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7911977316106340337</id><published>2003-11-25T00:49:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T01:14:52.746-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Catatan Seorang Ayah :</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R5mjyNcWEWI/AAAAAAAAAAg/AszaT_cf0BM/s1600-h/Didin-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159334931126948194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R5mjyNcWEWI/AAAAAAAAAAg/AszaT_cf0BM/s320/Didin-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Anak-(pertama)-ku Bukan Milikku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasionalitas seringkali menjebak kehidupan seseorang menjadi demikian mekanis dan otomatis. Tak ada lagi nuansa humanis, bahkan untuk sesuatu yang semestinya menciptakan suasana romantis. Menjalani hidup sesuai&lt;br /&gt;dengan urutannya seperti air yang memang mengalir dari atas ke bawah. Ya, semuanya dianggap biasa saja. Dari kecil tumbuh menjadi besar, sekolah, bekerja untuk kemudian menikah dan membentuk keluarga. Tidak ada yang istimewa, semua biasa-biasa saja. Apalagi usiaku sudah melewati kepala tiga dan satu-satunya anak yang belum menikah. Padahal Ayahku semakin berkurang jatah waktunya untuk melihat dunia dan seiisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, hanya sekali pertemuan tak sengaja di bulan Agustus 2000, bahkan tanpa perkenalan, aku putuskan meminta keluargaku melamar seorang perempuan. Hanya 2 hal yang menjadi pertimbangan, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;pertama&lt;/span&gt;, dia satu-satunya perempuan dewasa asal daerahku yang kutemui setelah lama aku tidak pulang kampung, memenuhi permintaan keluarga agar aku beristri orang sekampung saja. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Kedu&lt;/span&gt;a, perkiraanku usia Ayahku yang tidak akan bertahan lebih dari setahun lagi. Semua kian terasa biasa dan tidak ada istimewanya, ketika perempuan itu menerima lamaran keluargaku. Padahal, ketika dia bertanya kepadaku apa alasan pilihanku. Aku hanya menjawab singkat, "Spekulasi saja !" Dan dia tidak menuntut jawaban lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahanku, 19 Januari 2001, menjadi hajat pertama keluarga istriku (karena istriku anak sulung), sama sekali tidak ada istimewanya buatku. Demikian juga kepikunan Ayahku, yang sehari sebelum pernikahanku menanyakan kepadaku apa sudah tahu kalau Ayah mau punya hajat mantu (padahal aku sendiri, anaknya yang akan menikah), semua kuanggap wajar saja. Demikian juga gerutuan orang yang mungkin kerepotan menyiapkan hajatan keluargaku sejak seminggu sebelum pernikahan, sementara aku baru datang dua hari menjelang pernikahan, kuanggap biasa saja. Orang capai kan memang suka menggerutu. Aku tidak tahu harus mempersiapkan apa, aku bukan orang yang suka bertanya, sementara orang lain terlanjur biasa menganggapku sudah bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski statusku pengangguran, tapi aku datang dengan mobil plat merah milik Pemkab Kebumen. Itupun kuanggap biasa, meski keluarga calon istriku sempat bertanya-tanya. Mungkin menganggap aku hendak bikin kejutan, kali ... Penghulu yang mengecek identitasku terlalu tergesa menyelesaikan pertanyaan dan pernyataannya. Aku belum mengiyakan kalau akan mengusahakan pernikahan ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir, beliau sudah berlalu. Bahkan khotib nikahku seperti gugup ketika harus menasehati aku. Semuanya terlanjur kuanggap biasa. Ternyata pernikahan memakai bahasa Arab. Aku bicara sebisaku, meski sempat terkaget ketika Pak De calon istriku memanggil,"Ya Marzuki." Setelah ditepuk Pak Likku yang menjadi pendamping, baru kujawab, "&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Labbaik&lt;/span&gt;". Selanjutnya lancar.Pernikahan sah. Tidak ada perasaan apa-apa. Karena seminggu kemudian aku sudah ke Jakarta lagi. Mengikuti jejak para pendahulu seperti H. Agus Salim (lihat buku "M&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;anusia dalam Kemelut Sejarah&lt;/span&gt;", LP3ES), yang masih menitipkan istri ke orang tua, karena belum mampu memboyong ke Jakarta, aku pun menitipkan istriku dulu di rumah orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu setahun yang kujanjikan kepada istriku untuk membawanya ke Jakarta. Dan.. 3 bulan setelah pernikahan, baru aku bekerja, tapi seminggu kemudian ayahku meninggal dunia. Ya, semuanya kuanggap biasa. Sejak pensiun sebagai Kepala Kantor Depag Kebumen tahun 1979, ayahku sudah merasa akan segera meninggal. Jadi tidak ada lagi kesedihan yang terasa. Sudah dikondisikan lama. Toh kalau ditangisi, kemudian jenazah ayah hidup lagi juga akan ditinggal lari.&lt;br /&gt;Siapa yang berani kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang berlangsung kuanggap biasa. Meski tahun pertama pernikahanku hanya berisi pertengkaran sampai keluargaku sempat khawatir akan masa depan rumah tanggaku. Bahkan istriku juga menggugat keseriusanku. Semua kuanggap biasa saja. Karena semua yang kuperkirakan benar belaka. Ketika aku jengkel dan capai melayani perdebatan berkaitan dengan gugatan keseriusanku, lalu pertanyaan kubalikkan, "Kalau aku nggak serius terus mau apa ?" Istriku tidak bisa menjawab. Nah, kan ! Begitulah perempuan (simpulkan saja sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu, aku berhasil ngontrak rumah. Istriku langsung hamil. Itupun kuanggap biasa. Kan sudah masanya. Anakku laki-laki, lahir 23 Januari 2003. Itupun kuanggap biasa. Perkiraanku memang begitu. Jauh sebelum kelahiran juga sudah kusiapkan 2 ekor kambing, untuk aqiqah, agar pada saat akan disembelih kambing sudah gemuk dan bisa lebih hemat. Karena perhitungan dokter, lahirnya setelah 'Idul Adha, ketika harega kambing mungkin sedang mahal. Padahal, andaikata almarhum ayahku tahu anakku laki-laki, pasti bukan main gembiranya. Karena itulah penerus keluarga ayahku. Dua saudara laki-lakiku tidak dan belum juga mendapat anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku sehat, meski tidak diberi ASI akibat salah penanganan di rumah bersalin (PKU Muhammadiyah Kutowinangun, Kebumen). Sepertinya rumah bersalin itu cendrung mengkondisikan agar pasiennya memberi susu formula, bukan ASI. Kalau aku jadi pengurus Muhammadiyah, sudah kurombak sistem pelayanan rumah bersalin itu. Mungkin tidak semua pengurus Muhammadiyah di Kutowinangun tahu kondisi itu, entah pula kalau malah disengaja karena ada pesan sponsor dari pabrik susu formula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua proses yang kemudian kulalui biasa dan datar-datar saja. Tapi, pada akhirnya Allah Maha Kuasa di atas segalanya. Mungkin aku sudah dianggap cukup diberi pengalaman yang serba biasa, sehingga akhirnya datanglah pengalaman yang benar-benar luar biasa. Ketika anak pertamaku berusia 10 bulan, kebetulan pas bulan Ramadhan aku sakit. Baru 2 haritidak masuk bosku di kantor sudah menelpon memintaku datang. Sementara malamnya anakku rewel dan paginya sempat mencret. Karena sudah dipanggil bos, meski sudah hari Sabtu aku masuk juga. Sepeninggalku ke kantor, rupanya sakit anakku berlanjut dan terus dibawa ke dokter yang merekomendasikan untuk dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore 8 Nopember 2003, semestinya aku dan beberapa teman mengundang berbuka puasa bersama teman-teman lain seangkatan di PB PII. Apa boleh buat, aku segera pulang dari kantor langsung ke rumah sakit. Melihat anakku di UGD RSUD Cibinong. Begitu melihat kondisi anakku, aku langsung pesimis. Sepertinya kok berat sekali sakit anakku. Tak lama kemudian anakku dipindah ke ruang perawatan. Akupun menyelesaikan administrasi perawatan. Saat itu sudah waktunya berbuka puasa. Tidak lama sesudah berbuka puasa, kondisi anakku kritis. Tidak ada dokter maupun suster jaga. Hanya satu jam kemudian, Allah meminta kembali anakku. Semburan darah kental dari hidung anakku diikuti nafas yang terhenti dan suhu dingin yang merambat dari ujung kaki memberitahukan kepergian anakku. Istriku tidak&lt;br /&gt;percaya. Aku tidak boleh memberitahu siapa-siapa. Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa kepada sanak keluarga. Tiba-tiba saja anakku telah tiada, padahal sebelumnya tidak pernah ada kabar sakit sekalipun ... Menangis .. sebagai lelaki, bagiku terlalu cengeng kalau harus menangis hanya karena ada orang dekat yang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku hanya diam. Belum berani berucap "Innalillahi ..." Karena istriku belum percaya. Aku kembali diam dan kemudian berpikir. Mungkin inilah momentum yang sesungguhnya dari pernikahanku, sehigga karena aku terlambat merasakannya, belum sepantasnya pula aku mendapatkan anugerah anak pertamaku. Beruntung istriku sedang mengandung anak keduaku dengan usia kandungan 6 bulan. Memang, tidak ada seorangpun yang bisa saling menggantikan. Aku sadar ... tapi sungguh kehilangan anak memang kesedihan yang tak terkirakan. Aku tidak bisa menganggapnya lagi sebagai hal yang biasa. Aku jadi ingat kata-kata salah seorang kerabat&lt;br /&gt;istriku ketika anak pertamaku berusia sekitar 4 bulan. Katanya, ada yang ingin ikut merawat anak pertamaku.&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; Wallahu a'lam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus menghadapi istriku yang dirundung rasa sedih sekaligus bersalah, mengapa tidak bisa segera mendeteksi sakit anaknya. Tragisnya lontaran kesalahan datang dari keluarga yang &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ta'ziah&lt;/span&gt;. Akhirnya tanggung jawabku sebagai suami harus diwujudkan. Menguatkan perasaan istriku. Bagaimanapun kehendak Allah SWT yang membuat anakku meninggal. Terlalu sombong kalau menganggap kelalaian istriku, terlambat mengetahui penyakit anakku, sebagai penyebab meninggalnya anakku. Bagaimanapun, kehendak Allah SWT di atas segalanya. Kalaupun anakku tidak sakit, tentu Sllah SWT juga sudah punya cara lain untuk menciptakan sebab bagi kematian anak pertamaku yang rupanya memang tidak ditakdirkan untuk berumur panjang. Syair normatif Kahlil Gibran pun menjadi kenyataan Anak(pertama)ku Bukanlah Milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Achmad Marzoeki&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7911977316106340337?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7911977316106340337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7911977316106340337&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7911977316106340337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7911977316106340337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/01/anak-pertama-ku-bukan-milikku.html' title='Catatan Seorang Ayah :'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/R5mjyNcWEWI/AAAAAAAAAAg/AszaT_cf0BM/s72-c/Didin-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-5785542958879603946</id><published>2003-03-19T20:37:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T20:38:58.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humor'/><title type='text'>HUMOR PERNIKAHAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mahar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Mengapa kamu nggak jadi menikah ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-SV"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Mahar yang diminta calon istriku terlalu mahal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Memangnya dia minta mahar apa ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sederhana sih, dia cuma minta seperangkat alat shalat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Lalu apanya yang mahal, kalau cuma seperangkat alat shalat ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Yang membuat mahal, dia minta seperangkat alat shalat lengkap dengan masjidnya !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gara-gara Mengigau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Yang benar saja, masa istrimu minta cerai hanya karena kamu mengigau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sungguh, ini serius. Aku nggak bohong kalau istriku mau minta cerai hanya karena aku mengigau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Memangnya kamu mengigau apa, sampai istrimu minta cerai ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sus, sungguh mati aku mencintaimu !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Apa salahnya, nama istrimu kan Susana ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Itu saat mengigau pertama kali. Istriku juga tersenyum mendengarnya. Tapi ketika mengigau untuk kedua kalinya aku menyebut nama lebih lengkap, “Susi, sungguh mati aku mencintaimu !” &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kamu tahu sendiri kan, Susi anak gadis tetanggaku yang sangat cantik itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;!!??!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sampai Mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebelum pernikahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku mau menikah denganmu asal kau berjanji kita akan sehidup semati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Maksudmu sampai mati aku akan tetap menjadi suamimu dan kau akan tetap menjadi istriku ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kalau itu maumu, baik aku berjanji akan tetap menjadi suamimu sampai mati dan kau akan tetap menjadi istriku sampai mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sepuluh tahun setelah pernikahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dasar pembohong ! Teganya kau ingkari janjimu !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Bohong apa dan janji mana yang kuingkari ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Janjimu dulu kita akan sehidup semati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Lalu apa yang kuingkari ? Sampai saat ini aku masih menjadi suamimu dan kau istriku ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tapi mengapa kamu menikah lagi ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku kan tidak pernah berjanji kalau tidak akan menikah lagi ? Yang aku janjikan sampai mati akan tetap menjadi suamimu dan kau akan tetap menjadi istriku ? Bagaimana kau mengatakan aku mengingkari janji ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;??!!??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Manfaat Pernikahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Manfaat apa yang kau rasakan setelah menikah ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Merasakan kebenaran pepatah, “Rumput tetangga biasanya kelihatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih segar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gara-gara Lagu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Lagu apa yang kau nyanyikan sampai membuat istrimu minta cerai ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Lagunya Koes Plus, “Diana, Diana kekasihku …”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63pt; text-indent: -63pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Andi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ah, hanya karena lagu kayak gitu aja minta cerai ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Masalahnya, anak gadis tetanggaku yang cantik itu namanya juga Diana.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-5785542958879603946?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/5785542958879603946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=5785542958879603946&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5785542958879603946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/5785542958879603946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2003/03/humor-pernikahan.html' title='HUMOR PERNIKAHAN'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-4186576705489756373</id><published>2003-03-19T20:34:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T20:35:40.881-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humor'/><title type='text'>HUMOR PEMIMPIN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Potensi Pendapatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Setelah melalui pembahasan yang alot, akhirnya DPRD di sebuah provinsi berhasil menetapkan penyelenggaraan pemilihan Gubernur secara langsung oleh rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ketetapan ini adalah kemenangan bagi proses demokrasi !’ komentar seorang anggota dewan yang masih muda dan terkenal idealis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kemenangan bagi demokrasi, tapi kekalahan bagi kita,” anggota yang lain menanggapi sinis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, dengan pemilihan Gubernur secara langsung oleh rakyat, otomatis kita akan kehilangan salah satu potensi pendapatan !” anggota yang lain menimpali dengan sedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ingin Jadi Pemimpin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Guru&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dasar anak bandel, sukanya bolos dan tidak pernah mengerjakan PR. Mau jadi apa kamu nanti ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Mau jadi pemimpin, Pak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Guru&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pemimpin apa ? Pemimpin preman ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anto&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pokoknya pemimpin. Umumnya yang jadi pemimpin di negara kita kan orang bandel, bukan orang pintar. Yang pintar paling cuma jadi guru !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Guru&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;??!!?? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Korupsi dan Pemimpin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Korupsi yang sudah demikian merajalela di Indonesia telah menimbulkan berbagai dampak negatif, tidak terkecuali di kalangan pelajar dan mahasiswa. Karena kelompok ini memang belum mempunyai kewenangan apa-apa yang mereka korupsi juga sederhana, masih sebatas di atas kertas. Salah satu contohnya adalah mereka kemudian lebih terbiasa menulis PEMIMPIN cukup dengan PEMIMPI saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style=""&gt;&lt;/p&gt;Achmad Marzoeki&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-4186576705489756373?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/4186576705489756373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=4186576705489756373&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4186576705489756373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/4186576705489756373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2003/03/humor-pemimpin.html' title='HUMOR PEMIMPIN'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1700428844088875301</id><published>2003-03-19T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-03-22T07:55:27.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humor'/><title type='text'>HUMOR KORUPSI</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="MsoSubtitle"&gt;Pintar Matematika&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 255);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;Dalam sebuah pertemuan ilmuwan tingkat dunia, terjadi dialog antara seorang ilmuwan Barat dengan ilmuwan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tentang korupsi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 255);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;“Mengapa kasus korupsi di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; cukup tinggi ?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 255);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;“Itu karena orang &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; umumnya pintar matematika. Mereka pintar mengalikan, menambah untuk kemudian mengurangi.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 255);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;“Tapi banyak juga koruptor yang ditangkap dan diadili ya ?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 255);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;“Mereka yang diadili umumnya punya kelemahan, kurang pintar membagi. Mereka yang tidak tertangkap bukan berarti tidak korupsi, tapi mereka mungkin lebih pintar membagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);" class="MsoSubtitle"&gt;Partai Terkorup&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 255, 204);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;Ketika seorang tokoh menyatakan partainya paling korup di antara partai lain, spontan ditanggapi rekan-rekan pengurus partainya. Sebuah stasiun TV ternama mengadakan wawancara khusus membahas masalah tersebut dengan seorang pakar korupsi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Reporter TV&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Umumnya pengurus partai menganggap pernyataan tersebut terlalu mengada-ada ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Pakar Korupsi&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ya, karena sebelumnya memang tidak ada yang berani membuat pernyataan seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Reporter TV&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tapi para pengurus lainnya menyatakan siap diperiksa berkaitan dengan pernyataan tokoh tersebut ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Pakar Korupsi&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Itu artinya mereka sudah menyiapkan dana untuk mengatur pemeriksaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Reporter TV&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga yang mendesak tokoh tersebut mundur dari kepengurusan partai ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Pakar Korupsi&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Mereka menganggap tokoh tersebut tidak bisa memanfaatkan posisi sebagai pengurus partai. Mereka merasa bisa untuk itu, jadi mereka ingin menggantikan tokoh tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Reporter TV&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lagi tanggapan menarik, bahwa pernyataan tokoh tersebut malah membuat partai jadi bersatu dan si tokoh malah jadi sendirian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Pakar Korupsi&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Di mana-mana koruptor akan bersatu dengan koruptor lain untuk melawan gerakan anti korupsi !&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoSubtitle"&gt;Mencegah Orang Korupsi&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 255, 153);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;Mengikuti topik aktual yang tengah berkembang tentang KKN, Ustadz Abdul Hakim menyinggung masalah korupsi ketika memberikan siraman rohani di sebuah instansi pemerintah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Menurut ajaran agama korupsi itu seperti halnya mencuri merupakan perbuatan dosa, karena itu harus dihindari. Mencegah orang korupsi akan mendapat pahala. Semakin banyak orang yang kita cegah untuk korupsi akan semakin banyak pahala yang diperoleh,” jelas ustadz. Semua yang mendengarkan mengangguk-angguk termasuk Pak Abdul Fulus, bos intansi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Sebulan kemudian Pak Abdul Fulus datang menemui Ustadz Abdul Hakim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Ustadz saya telah menjalankan apa yang ustadz ajarkan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Maksud Bapak ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Para pegawai di kantor saya sudah terlanjur biasa korupsi. Meski sudah diberi ceramah oleh ustadz tidak juga berubah, maka saya kemudian mengambil tindakan tegas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;“Tindakan apa yang Bapak lakukan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 153);"&gt;“Agar para pegawai tidak korupsi maka pos-pos dana yang biasa mereka korupsi langsung saya korupsi sendiri sehingga tidak ada lagi pegawai yang bisa korupsi.”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Do’a Seorang Koruptor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Setelah diadili karena kasus korupsi, mendadak Abdul Fulus rajin belajar agama secara privat kepada Ustadz Abdul Hakim. Agas bisa tabah menjalani cobaan yang tengah dialaminya, Abdul Fulus minta ustadz mengajarinya berbagai macam do’a. Dari sekian banyak do’a yang diajarkan ustadz, ada satu do’a favorit dan paling sering dibaca Abdul Fulus, yaitu “&lt;i&gt;Robbii adkhillnii mudkhola sidqii wa akhrijnii mukhroja sidqii waj’allii min ladunka sulthonan nashiiro.&lt;/i&gt;” (Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan aku dari tempat keluar yang benar. Dan adakanlah dari sisi-Mu kekuasaan yang menolongku).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Yang dipahami Abdul Fulus dari penjelasan ustadz tentang do’a ini dalam konteks dirinya adalah agar ia kelak bisa mengakhiri karir dengan baik di instansinya sebagaimana ia dulu memulai karir dengan baik. “Datang nampak muka, pergi nampak punggung,” kira-kira seperti kata-kata bijak itulah Abdul Fulus menghendaki perjalanan karirnya. Karena itu setiap saat rajin sekali ia berdo’a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ketika saatnya pengadilan menjatuhkan vonis, ternyata Abdul Fulus divonis 3 tahun dan segera masuk tahanan. Abdul Fulus mengadu kepada Ustadz Abdul Hakim, “Tuhan tidak mau mendengar do’aku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;“Do’a apa yang kamu baca ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;“&lt;i&gt;Robbii adkhillnii mudkhola sidqii &lt;/i&gt;(Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar).” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;“Kamu keliru, justru Tuhan telah mengabulkan do’amu. Dasar koruptor, do’a yang kuajarkan pun engkau korupsi.”&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keluarga Koruptor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Untuk keperluan pembangunan gedung baru di sekolah, setiap siswa diminta sumbangan Rp 100 ribu. Kepada Bu Joko, ibunya, Anto memberitahu kalau harus membayar uang gedung sebesar Rp 200 ribu. Bu Joko menyampaikan kepada Pak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Joko, bahwa Anto harus membayar uang gedung sekolah sebesar Rp 400 ribu. Karena sedang tidak punya uang &lt;i&gt;cash&lt;/i&gt;, Pak Joko&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemudian membeli peralatan untuk keperluan kantor seharga Rp 800 ribu, namun ia meminta toko menuliskan harganya Rp 1,6 juta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Diskusi Pemberantasan Korupsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Berikut rangkuman pendapat berbagai pihak tentang langkah-langkah yang dinilai bisa efektif untuk memberantas korupsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pegawai&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Naikkan gaji sepuluh kali lipat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pejabat&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Perbanyak tunjangan jabatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Anggota Parlemen&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Perketat perencanaan anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Aktivis LSM&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tingkatkan peran serta masyarakat dalam mengontrol pelaksanaan pembangunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ahli Hukum&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Hukum koruptor seberat-beratnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ahli Agama&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tingkatkan pembinaan mental para pegawai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 1.75in; text-align: justify; text-indent: -1.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Petugas Pajak&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pungut pajak khusus untuk para koruptor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 1.75in; text-indent: -1.75in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Koruptor&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Hilangkan istilah korupsi, ganti dengan pendapatan lain-lain di luar gaji atau istilah lain, yang penting bukan korupsi !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 1.75in; text-indent: -1.75in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 1.75in; text-indent: -1.75in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hanya Mengarsip&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Baru setahun ditempatkan di bagian keuangan, Abdul Fulus sudah diperiksa dengan tuduhan korupsi. Pengeluaran kantor membengkak dan setelah diusut diduga Abdul Fulus melakukan &lt;i&gt;mark&lt;/i&gt; &lt;i&gt;up&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="SV"&gt;“Saya tidak melakukan &lt;i&gt;mark up&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya hanya menjalankan kebiasaan saja. Sudah puluhan tahun saya bekerja di bagian pengarsipan, setiap surat keluar selalu saya simpan arsipnya. Saya melakukan hal yang sama ketika dipindah ke bagian keuangan, setiap pengeluaran juga saya simpan arsipnya. Ini buktinya,” dengan tenang Abdul Fulus berdalih sambil menunjukkan catatan rekening tempat penyimpanan “arsip”-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achmad Marzoeki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1700428844088875301?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1700428844088875301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1700428844088875301&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1700428844088875301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1700428844088875301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2003/03/humor-korupsi.html' title='HUMOR KORUPSI'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7716289735067767519</id><published>2000-12-10T06:54:00.000-08:00</published><updated>2010-04-29T06:57:26.723-07:00</updated><title type='text'>Melepas "Belenggu"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQFWpFRqI/AAAAAAAAAFk/fFjFcpbKsv8/s1600/Belenggu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 296px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQFWpFRqI/AAAAAAAAAFk/fFjFcpbKsv8/s400/Belenggu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465558044442445474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitu manusia dilahirkan ke dunia, sejumlah “belenggu” telah menunggu, satu demi satu tanpa disadari mengikatnya sehingga kelak akan membatasi bukan saja aktivitasnya tapi juga pemikiran dan bahkan angan-angannya. Saat berumur 3 tahun, “belenggu” itu terwujud dengan larangan seperti, “Jangan lari-lari nanti jatuh !” Sangat tidak rasional bila melihat kenyataan tidak lari pun orang bisa jatuh. Sebaliknya, banyak orang dikenal karena jago lari seperti Mohammad Sarengat, Purnomo, Mardi Lestari sampai Carl Lewis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rasional dengan teguran, “Boleh lari-lari, tapi kalau jatuh jangan menangis ya !” Bukan melarang, tapi mengenalkan resiko. Anak yang bermain sambil berlari kemungkinan jatuhnya lebih besar dibandingkan yang hanya berjalan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah larangan dan bukan pembelajaran yang mengiringi pertumbuhan anak, cepat atau lambat akan membelenggu pikirannya. Membatasi dan mempersempit apa yang dianggapnya bisa dan boleh dilakukannya. Anak yang berpotensi menjadi pelari hebat, menjadi layu potensinya sebelum berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belenggu” semakin bertambah setelah sekolah. Iklan “matematika + bahasa Inggris = sukses”, membuat orang tua bisa khawatir nilai matematika anaknya jelek, meskipun pelajaran lain nilainya bagus. Orang tua yang kaya, bisa jadi terus berupaya dengan segala cara agar nilai matematika anaknya bagus. Padahal, selain kurang berbakat, anaknya kurang suka pelajaran matematika dibanding pelajaran lain sesuai bakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian “belenggu” berlanjut dalam memilih profesi. Masih banyak orang tua berpikiran bahwa anak adalah “fotokopi”-nya, sehingga profesinya juga harus sama. Memang ada anak yang mewarisi sebagian bakat sehingga bisa meneruskan profesi orang tuanya. Tapi jangan lupa, bisa jadi hal itu karena tidak tuntasnya eksplorasi terhadap bakat dan potensi pribadinya, membuat bakat dan potensi utama yang sebenarnya tak kunjung keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, “belenggu” kadang bernilai positif, membantu orang agar lebih fokus dengan tindakan dan tujuannya. Di sisi lain “belenggu” itu menjadi masalah, apabila pilihannya ternyata keliru dan harus berganti alternatif. Tidak bisa melepaskan “belenggu”, akan menghadapkan seseorang pada kebuntuan. Bayangkan bila seorang ter-“belenggu” keinginan orang tua yang mengharuskannya jadi dokter dan ternyata gagal. Padahal menjadi dokter bukan jaminan bagi sebuah kesuksesan. Sebaliknya tidak menjadi dokter bukan berarti hidup seseorang otomatis gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar lepas dari sejumlah “belenggu” yang terpasang sejak kecil, kita harus membiasakan berpikir dan bertindak kreatif. Banyak ungkapan dalam bahasa Indonesia yang mendorong untuk itu, misalnya “banyak jalan ke roma”, “tidak ada rotan akar pun jadi”, “seperti katak dalam tempurung,” dan lain-lain. Langkah kongkretnya, kita harus sering bertukar pikiran (sharing) dengan orang lain, kalau perlu melintasi suku dan bangsa sebagaimana anjuran Al Qur’an, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (Q.S. Al Hujurat 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulan lintas suku dan bangsa akan memberi pencerahan dalam banyak hal yang belum kita ketahui. Cara orang lain mengerjakan sesuatu bisa jadi berbeda dan lebih berhasil dari kebiasaan yang kita lakukan. Tidak ada salahnya kalau kemudian kita meniru. Pencerahan demi pencerahan akan membuat “belenggu” yang mengikat kita, terlepas satu demi satu. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Khalifah, Edisi 17, Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7716289735067767519?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7716289735067767519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7716289735067767519&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7716289735067767519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7716289735067767519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2000/12/melepas-belenggu.html' title='Melepas &quot;Belenggu&quot;'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/S9mQFWpFRqI/AAAAAAAAAFk/fFjFcpbKsv8/s72-c/Belenggu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-3085794779531017161</id><published>1996-12-22T07:18:00.000-08:00</published><updated>2008-03-22T07:47:42.608-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Lingkungan'/><title type='text'>Menunggu Suksesi Freon</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: times new roman; color: rgb(255, 255, 0);font-family:Cambria,serif;font-size:100%;"  &gt;ACHMAD MARZOEKI, ST&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Calibri,sans-serif;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Suara Muhammadiyah, &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;No. 24 Th. Ke-81,  15 – 31 Desember 1996)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah selama setengah abad lebih &lt;i&gt;Chloro Fluoro Carbon&lt;/i&gt; (CFC) --- yang lebih dikenal dengan nama freon ---merajai sistem pendingin baik dalam skalai ndustri maupun rumah tangga, akhirnya tiba masanya harus segera menyerahkan “tampuk kekuasaannya” kepada bahan lain. Era keemasan freon yang dulu sempat mendapat julukan “senyawa ajaib” akan segera berakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika mulai pertama kali digunakan oleh General Motor pada 1930, Freon dilnilai sebagai bahan yang memiliki manfaat banyak, tanpa efek samping yang merugikan. Hal ini karena Freon tidak mudah terbakar  atau meledak, tidak beracun, dan stabil (tidak mudah bereaksi dengan senyawa atau unsur lain), sehingga penggunaannya didunia industri semakin meningkat dan meluas, tidak hanya ada industri sistem pendingin udara (AC, kulkas, dan &lt;i&gt;freezer&lt;/i&gt;), tetapi juga berkembang sebagai pendorong aerosol dalam industri kemasan kaleng dan cat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tanda-tanda akhir kejayaan freon bermula dari ditemukannya penipisan ozon dalam atmosfer bumi yang mulai terpantau satelit pada  1975. Semula penipisan ini hanya bersifat temporal (musiman) belaka, tetapi ternyata kemudian proses penipisam tersebut terus berlanjut dan semakin parah. Pada 1980 para ilmuwan lingkungan Inggris menemukan adanya lubang ozon di Kutub Selatan. Terakhir penipisan lapisan ozon sudah semakin nampak jelas di Kutub Utara pada 1992.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya ozon termasuk polutan udara yang bisa mengganggu kesehatan. Udara yang mengandung ozon dengan konsentrasi sampai 0,3 ppm bila kontak dengan manusia bisa mengakibatkan terjadinya iritasi pada hidung dan tenggorokan. Manusia yang mengalami kontak selama 2 jam dengan udara yang mengandung freon dengan konsentrasi 1-3 ppm bisa menyebabkan pusing berat dan bagi orang yang sensitif bisa menyebabkan kehilangan koordinasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain itu ozon juga menyebabkan kerusakan kimia pada bahan tertentu seperti organik polimer, misalnya karet, tekstil alami, dan tekstil sintetis. Sensivitas bahan-bahan tersebut terhadap serangan ozon tergantung dari jumlah ikatan rangkapnya. Sebab yang diserang ozon adalah ikatan rangkapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan ketidakstabilannya, ozon berjasa besar kepada segenap makhluk hidup penghuni bumi. Lapisan ozon yang ada diatmosfir bumi menjadi “perisai” bagi penghuni bumi dari “serangan” energi radiasi ultra violet yang berasal dari sinar matahari. energi radiasi ini demikian besar sehingga bisa menyebabkan terjadinya perubahan gen yang sangat merugikan pada makhluk hidup. Selain itu dapat menimbulkan penyakit kanker, katarak, dan menurunkan &lt;i&gt;imunitas&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; tubuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Energi sinar ultra violet yang melintasi atmosfir bumi akan terserang lapisan ozon – yang tidak stabil – sehingga mengalami penguraian dengan melepas satu atom oksigennya menjadi O&lt;sub&gt;2. &lt;/sub&gt;Selanjutnya O&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; ini akan bereaksi lagi dengan atom oksigen yang berasal dari udara membentuk ozon kembali. Demikian seterusnya sehingga radiasi energi sinar ultra violet yang sampai ke permukaan bumi jauh berkurang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Penipisan Lapisan Ozon&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penipisan dan bahkan munculnya lubang pada lapisan ozon telah memancing para pakar lingkungan untuk menemukan penyebab peristiwa tersebut. Diketahui kemudian bahwa penipisan lapisan ozon ini terjadi karena adanya reaksi ozon dengan senyawa khlorin yang ditemukan di atmosfir atas. Pengaruh sinar matahari menyebabkan senyawa khlorin mengalami penguraian menjadi khlor yang sangat reaktif dan segera bereaksi dengan ozon yang memang tidak stabil. Hasilnya akan membentuk khlor monoksida, yang juga kurang stabil dan akan melepaskan khlornya untuk bereaksi kembali dengan ozon. Sementara oksigen yang lepas dari khlor monoksida tidak kembali membentuk ozon lagi. Proses yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan lapisan ozon di atnosfir terus menipis, karena terjadinya reaksi penguraian ozon tidak diikuti dengan reaksi pembentukannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kehadiran senyawa khlorin dalam atmosfir diketahui berasal dari pelepasan freon ke udara. Sebab dalam lapisan stratosfir – bagian dari lapisan atmosfir – freon, mesikpun sebenarnya merupakan senyawa yang stabil, mengalami proses oksidasi fotokimia. Proses kimia ini terjadi dengan bantuan sinar matahari dan akan mengiksidasi komponen-komponen yang tidak dapat dioksidasi dengan cepat oleh oksigen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan proses tersebut freon terurai menjadi senyawa khlorin yang selanjutnya menghasilkan khlor dan bereaksi dengan ozon. Pelepasan freon secara terus-menerus ke udara akan menyebabkan semakin banyak pula senyawa khlorin yang dihasilkan. Hal ini sekaligus berarti menyebabkan semakin berkurangnya/menipisnya lapisan ozon di atmosfir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terjadinya penipisan lapisan ozon lebih cepat terjadi di daerah sub tropis dan kutub. Di daerah tropis, karena memiliki kandungan bahan-bahan organik yang relatif lebih banyak sehingga penipisan lapisan ozon bisa sedikit diimbangi dengan terjadinya pembentukan ozon melalui oksidasi  fotokimia terhadap bahan-bahan organik tersebut. Bahan kimia yang mengalami proses oksidasi fotokimia lalu membentuk ozon adalah hidrokarbon dan nitrogen dioksida (NO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;). Namun ozon yang diperoleh dari hasil oksidasi fotokimia tersebut hanya bisa memperlambat, tetapi balum mampu mengantisipasi pengurangan ozon akibat “dimakan” freon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika penggunaan freon terus meningkat, maka proses penipisan lapisan ozon juga akan terus berlangsung. Dengan sendirinya jumlah radiasi sinar ultra violet ke permukaan bumi meningkat dan membahayakan kehidupan makhluk hidup. Bhaya radiasi sinar ultra violet ini tidak jauh berbeda dengan bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi bahan nuklir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Radiasi sinar ultra violet – seperti radiasi bahan radioaktif – bisa menyebabkan terjadinya reaksi inti (nuklir) jika mengenai suatu bahan. Bila terkena makhluk hidup bisa menyebabkan perubahan pada gen dan merusak sel dan jaringan. Perubahan pada gen akan menyebabkan adanya kelainan pada turunan makhluk hidup yang bersangkutan atau malah menyebabkan kematian, demikian juga rusaknya sel dan jaringan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam suatu ekosistem populasi suatu makhluk hidup sangat berpengaruh terhadap populasi makhluk hidup yang lain, karena adanya rantai makanan. Sebab makhluk hidup yang satu merupakan makanan bagi makhluk hidup yang lain dan terus berhubungan seperti halnya sebuah siklus, sehingga penurunan poplasi makhluk hidup tertentu akan sangat berpengaruh terhadap populasi makhluk hidup lain dalam sebuah ekosistem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingginya radiasi sinar ultra violet di laut, sebagai misal, bisa membunuh phytoplankton, yang merupakan basis kehidupan di laut. Berkurang populasi phytoplankton akan mengganggu komnitas binatang laut lainnya, sehingga hasil ikan laut akan jauh berkurang. Pada gilirannya hal ini juga berpengaruh terhadap stabilias kehidupan masyarakat secara umum, karena nelayan dengan sendirinya akan beralih profesi. Sedangkan radiasi sinar ultra violet di darat, bisa menurunkan kualitas tanaman dengan terjadinya perubahan genetis yang menyebabkan daya tahannya terhadap penyakit, kemampuan produksi, kuantitas, dan kualitas produksi tanaman bisa jauh menurun. Sulit dibayangkan bagaimana nasib ummat manusia bila hasil produksi tanaman pangan terus menyusut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Berakhirnya Era Freon &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Komitmen terhadap lingkungan – agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan yang parah kepada generasi mendatang – sudah semakin kuat dan meluas diseluruh dunia. Hal ini antara lain dengan pemberlakuan ISO 14000 sebagai standar internasional bagi setiap produk yang akan dipasarkan keseluruh dunia. Dengan ISO 14000 ini, maka produk yang dihasilkan melalui proses yang merusak lingkungan akan segera tersingkir dari pasar dunia. Jika sebelumnya penilaian dampak lingkungan oleh industri menggunakan prinsip &lt;i&gt;end pipe&lt;/i&gt;, yang hanya menekankan pada penilaian dampak produk akhir dari suatu rangkaian proses produksi dari mulai pengolahan bahan baku sampai pengemasan produk tidak memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara langsung dampak freon terhadap lingkungan memang tidak ada, namun pengaruhnya terhadap penipisan lapisan ozon bisa berakibat fatal bagi kelangsungan makhluk hidup dimuka bumi ini. Sehingga jika sistem pendinginannya msih menggunkan freon sebagai &lt;i&gt;refrigerant&lt;/i&gt; belum bisa dikategorikan produksi bersih dan memenuhi standard ISO 14000, meskipun proses lainnya sudah bersih. Demikian juga dengan produk-produk peralatan pendingain yang masih menggunakan freon sebagai &lt;i&gt;refrigerant&lt;/i&gt;. Karena itu era freon sebagai &lt;i&gt;refrigerant&lt;/i&gt; nampaknya memang akan berakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);font-family:arial;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Informasi tentang freon ini perlu disebarluaskan kepada segenap lapisan masyarakat, tidak hanya terbatas untuk kalangan industri. Sebagai konsumen juga perlu memiliki kesadaran untuk tidak menggunakan produk-produk yang memanfaatkan freon. Sebab meskipun hanya untuk kegiatan skala kecil seperti &lt;i&gt;sprayer&lt;/i&gt;, jika yang menggunakannya banyak akan berdampak yang luas juga. Pemerintah Indonesia sendiri telah bertekad untuk melarang impor senyawa freon pada akhir tahun 1996 ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi kalangan industri, “perceraian” dengan freon sudah menjadi suatu keharusan agar tetap eksis di pasar dunia. Untuk ini, maka dukungan dari kalangan akademis sangat diperlukan dalam mengupayakan riset-riset agar bisa mendapatkan bahan pengganti freon, yang tentunya harus memiliki sifat yang “lebih ajaib” dibanding freon. Disamping memiliki banyak manfaat, tidak mudah terbakar atau meledak, tidak beracun, dan stabil serta tidak mempunyai efek samping yang merugikan. Jika ilmuwan Indonesia sudah mampu merancang pesawat terbang, bukan suatu hal yang mustahil bila kemudian ada yang berhasil menemukan &lt;i&gt;refrigerant&lt;/i&gt; baru untuk menyubstitusi freon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.3in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis Staf Pengajar Fakultas Teknik Universitas Islam "45" (UNISMA) Bekasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-3085794779531017161?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/3085794779531017161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=3085794779531017161&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3085794779531017161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/3085794779531017161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/1996/12/menunggu-suksesi-freon.html' title='Menunggu Suksesi Freon'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-1554893729292837927</id><published>1996-11-05T07:41:00.000-08:00</published><updated>2008-03-22T07:44:49.010-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Lingkungan'/><title type='text'>MEWASPADAI LOGAM BERAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: times new roman; color: rgb(51, 51, 255);font-family:Calibri, sans-serif;" &gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;ACHMAD MARZOEKI, ST&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Calibri, sans-serif;" &gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color:#4f81bd;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Suara Muhammadiyah, &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;No. 21 Th. Ke-81,  1 – 15 November 1996)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman; color: rgb(51, 153, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari istilah logam selalu dikonotasikan dengan bahan padat, keras, berat, dan sulit dibentuk. Karena begitulah sifat logam yang sudah akrab ditelinga kita seperti besi, tembaga, alumunium, dan lain-lainnya. Namun logam dalam artian ilmu kimia, tidaklah sama persis dengan anggapan masyarakat tersebut. Sebab pada suhu kamar (25&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C) ada juga logam yang berbentuk cair seperti air raksa atau &lt;i&gt;hydragyrum&lt;/i&gt; (Hg), serium (Ce), dan gallium (Ga).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilmu kimia memberikan pengertian logam sebagai unsur yang memiliki sifat penghantar (konduktor) panas dan listrik yang baik; rapat massanya tinggi; dapat membentuk &lt;i&gt;alloy&lt;/i&gt; (campuran) dengan logam lain; membentuk ion positif bila senyawanya dilarutkan dalam air; membentuk hidroksida bila oksidasinya bereaksi dengan air; dan yang berwujud padat kemudian bisa ditempa kemudian dibentuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Logam selanjutnya bisa dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuannya bereaksi (reaktifitasnya) dengan unsur lain. Diantaranya ada kelompok logam yang ion-ionnya bisa bereaksi biokimia (bereaksi dengan bahan-bahan kimia yang ada pada makhluk hidup). Kelompok ini bisa dibagi menjadi tiga kelas. &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; kelas A, yaitu logam-logam yang mudah bereaksi dengan oksigen (&lt;i&gt;oxygen seeking metal)&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; kelas B, yaitu logam-logam yang mudah bereaksi dengan nitrogen atau belerang (&lt;i&gt;nitrogen-sulfur seeking metal)&lt;/i&gt;. Dan &lt;i&gt;ketiga,&lt;/i&gt; kelas antara, yaitu logam-logam transisi yang memiliki sifat khusus sebagai pengganti logam-logam atau ion-ion logam kelas A dan B. Oleh Niebor dan Richardso, kelompok logam itulah yang disebut dengan logam berat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika ditinjau dari sifat fisika dan kimia, maka kelompok logam berat tersebut memiliki sifat-sifat khusus berupa, &lt;i&gt;special gravity&lt;/i&gt; lebih dari empat; nomor atom antara 22-34, 40-50 atau unsur lantanida dan aktinida, dan memiliki respon kimia yang khas pada makhluk hidup. Logam yang termasuk dalam logam berat diantaranya adalah air raksa (Hg), kadmium (Cd), timah hitam (Pb), khrom (Cr), tembaga (Cu), seng (Zn), dan nikel (Ni).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.33in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; page-break-inside: avoid; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Cambria, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Bahaya Logam Berat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hampir bisa dikatakan, semua logam berat merupakan racun bagi tubuh. Hanya saja ada sebagian logam berat yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, namun dalam jumlah yang sedikit sekali. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akan bisa berakibat fatal bagi tubuh. Sebaliknya, bila terdapat dalam jumlah banyak akan berubah menjadi racun bagi tubuh. Logam berat yang memiliki sifat ini disebut logam berat &lt;i&gt;essensial, &lt;/i&gt;misalnya Cu, Zn, dan Ni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daya racun bagi masing-masing logam berat tergantung dari jenis kelasnya. Logam kelas B merupakan logam yang memiliki daya racun paling besar. Hal ini karena ion-ion dari logam kelas B memiliki sifat-sifat paling efektif dengan gugus sulfihidril (-SH) dan gugus nitrogen (-N) yang merupakan gugus aktif dalam enzim; dapat menggantikan posisi ion-ion logam kelas antara dari enzim logam; bersama ion-ion logam kelas antara dapat membentuk ion logam yang larut dalam lemak sehingga bisa menumpuk dalam sel atau organ tubuh; dan kemampuan reaksi reduksi-oksidasinya yang bisa mengubah ke satuan fungsional dari protein. Contoh logam kelas ini adalah Hg, Pb, Cn, dan Cu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Logam kelas antara memiliki daya racun disebabkan kemampuannya menggantikan ion-ion logam yang sudah ada secara alamiah pada molekulnya. Contohnya adalah Ni yang dapat menggeser Zn yang merupakan faktor aktif dalam enzim karbonat anhidrase. Logam kelas A merupakan logam berat yang memiliki daya racun paling rendah. Hal ini karena daya racunnya disebabkan kemampuannya menggantikan posisi ion-ion lain, tetapi masih ada satu golongan yang berfungsi pada enzim-enzim tertentu pula. Contohnya Mg yang bisa menggantikan Be, sehingga jadi beracun karena menghalangi kerja enzim yang ditempel atau yang berkaitan dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karacunan logam berat dalam tubuh terjadi dalam tiga bentuk. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, terhalanginya kerja gugus  fungsional biomolekul yang esensial untuk proses-proses biologi, misalnya protein, lemak, dan enzim. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; tergantikannya ion-ion logam esensial  yang terdapat dalam molekul terkait. &lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt; terjadinya modifikasi atau perubahan bentuk dari gugus-gugus aktif yang dimiliki oleh biomolekul.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mekanisme keracunan yang terjadi dalam tubuh terjadi dalam dua fase, yaitu fase kinetik dan dinamik. Fase kinetik terjadi dalam proses-proses biologi biasa seperti penyerapan, penyebaran dalam tubuh, metabolisme, dan proses pembuangan (ekskresi). Sedangkan fase dinamik terjadi pada reaksi-reaksi biokimia dalam tubuh yang melibatkan enzim-enzim. Jika masih dalam fase kinetik, maka logam berat yang masuk kedalam tubuh bisa mengalami proses sinergetik (peningkatan daya racun) maupun antagonis (pengurangan atau bahkan penghilagan daya racun).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua proses itu terjadi karena adanya bahan-bahan lain yang terdapat dalam tubuh (baik ada secara alamiah sebagai sebuah sistem maupun bahan yang masuk kedalam tubuh). Sebagai contoh daya racun Cd dalam tubuh bisa berkurang karena Cd bisa bereaksi dengan methallotionin yang sudah dimiliki oleh tubuh membentuk senyawa kompleks khelat. Contoh lain, daya racun Hg akan hilang bila unsur ini berkaitan dengan sulfur atau cesium yang ikut masuk kedalam tubuh. Sehingga orang yang keracunan Hg biasanya diberi senyawa 2,3 merkato propenol yang mengandung sulfur. Senyawa hasil reaksi logam berat dengan bahan lain ini akan dikeluarkan dari tubuh melalui faeces, urine atau dimuntahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi bila sudah sampai fase dinamik, maka logam berat tersebut tidak bisa dinetralisasi lagi oleh tubuh. Selanjutnya logam berat bereaksi dengan senyawa-senyawa hasil proses biosintesa yang produknya bersifat merusak proses-proses biomolekul dalam tubuh. Pada tahap awal keracunan itu berupa terganggunya kerja enzim yang bereksi dengan logam berat. Tingkat berikutnya merusak seluruh sistem kerja enzim  dalam tubuh. Selain enzim, gugus lemak juga bisa bereksi dengan logam berat yang hasilnya bisa mengganggu metabolisme lemak yang pada tahapan selanjutnya akan menyebabkan terganggunya kerja hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bentuk-bentuk keracunan logam berat yang lain adalah terganggunya pernafasan (akibat keracunan Cu), insomnia (susah tidur), dan rusaknya organ-organ tubuh (keracunan Pb), penurunan fungsi paru-paru, pembengkakan kelenjar ludah, radang ginjal dan hati (keracunan Hg), kanker paru-paru (keracunan Cr), dan untuk yang sudah sangat kronis bisa menyebabkan kematian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.33in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; page-break-inside: avoid; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 0);" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Cambria, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Sumber Logam Berat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti halnya logam yang lain, logam berat secara alamiah bisa ditemukan secara luas dipermukaan bumi  dari tanah, batuan, perairan, dan bahkan di lapisan atmosfir. Yang paling rawan menimbulkan bahaya keracunan adalah logam berat yang berwujud debu atau uap karena mudah terserap kedalam tubuh baik secara langsung (melalui air minum) maupun melalui ikan atau binatang air lainnya yang dikonsumsi manusia. Karena itu perlu diwaspadai  aktifitas yang bisa menghasilkan debu, uap maupun partikel logam berat yang larut dalam air.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Debu dan uap maupun partikel logam berat yang terlarut dalam air bisa dihasilkan oleh proses alam maupun kegiatan manusia. Proses alam yang menghasilkan partikel logam berat yang terlarut dalam air meliputi peristiwa pengikisan (erosi) batuan mineral yang mengandung logam berat baik oleh air maupun angin dan terbawa turunnya debu-debu dan partikel-partikel logam berat yang ada di atmosfer oleh hujan. Sedangkan kegiatan manusia yang menghasilkan logam berat dalam bentuk debu, partikel atau bahan yang terlarut dalam air umumnya adalah industri dan transportasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banyak industri yang menghasilkan logam berat sehingga limbahnya tidak boleh dilakukan sembarangan. Tembaga misalnya, digunakan antara lain dalam industri cat, insektisida, fungisida, katalis, dan batu baterai. Kadmium banyak digunakan dalam industri pesawat terbang, zat warna, baterai, fotografi, dan sebagai stabilizer pipa PVC. Khromium banyak digunakan dalam industri pelapis peralatan, campuran pembuatan baja anti karat, kawat-kawat tahan listrik, dan alat-alat pemotong. Sedangkan timbal digunakan dalam industri baterai, kabel telepon, kabel listrik, cat, dan konstruksi pabrik-pabrik kimia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 0);" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain industri juga masih ada aktifitas lain yang menghasilkan debu atau partikel logam berat. Sebagai contoh asap-asap kendaraan bermotor mengandung Pb yang berasal dari senyawa tetrametil-Pb dan tetraetil-Pb yang biasanya ditambahkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor sebagai anti ketuk (anti-&lt;i&gt;knock&lt;/i&gt;) mesin kendaraan bermotor. Air minum juga bisa mengandung Pb jika disimpan atau dialirkan melalui pipa-pipa yan terbuat dari campuran logam Pb. Demikian juga makanan dan minuman kalengan bisa mengandung Pb bila menggunakan campuran logam Pb sebagai kalengnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Century Schoolbook, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Penulis adalah staf pengajar pada Fakultas Teknik Universitas Islam “45” (Unisma), Bekasi.&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-1554893729292837927?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/1554893729292837927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=1554893729292837927&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1554893729292837927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/1554893729292837927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/1996/11/mewaspadai-logam-berat.html' title='MEWASPADAI LOGAM BERAT'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-9214304839339050905</id><published>1995-12-22T07:36:00.000-08:00</published><updated>2008-03-22T07:38:11.294-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Lingkungan'/><title type='text'>DAUR ULANG PLASTIK</title><content type='html'>&lt;p style="margin-top: 0.14in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; page-break-inside: avoid; page-break-after: avoid;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;ACHMAD MARZOEKI, ST&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;i&gt;Suara Muhammadiyah, &lt;/i&gt;No. 24 Th. Ke-80,  16 – 31 Desember 1995)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 115%;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Plastik, sebenarnya merupakan istilah teknis untuk menunjukkan sifat beberapa jenis bahan sintesis yang berarti liat. Dalam perkembangan selanjutnya plastik digunakan untuk menyebut semua bahan sintesis termasuk bahan yang bersifat kaku. Karena sampai saat ini belum ada nama lain yang pas, maka sampai sekarang, meskipun kurang tepat, plastik tetap digunakan sebagai nama bahan-bahan sintesis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk membedakan jenis plastik sesuai dengan sifatnya, maka kemudian ada istilah plastik &lt;i&gt;thermoplast&lt;/i&gt; (bersifat liat dan bisa dibentuk lagi dengan pemanasan) dan plastik &lt;i&gt;thermoset &lt;/i&gt;(bersifat kaku dan tidak bisa dibentuk lagi meski dengan pemanasan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Plastik mulai dikenal semenjak sekitar 3.000 tahun yang lalu dalam kehidupan bangsa Mesir kuno. Saat itu plastik yang dikenal masih bersifat alami, bersumber dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Penggunaannya juga terbatas sebagai bahan pelapis dan bahan dekorasi. Plastik sintetis mulai dirintis pada tahun 1846 oleh Schonbein (Jerman) yang memodifikasi sellulosa kayu dan tumbuhan dengan asam nitrat untuk membuat plastik semi sintesis. Plastik yang 100% sintesis dihasilkan dari penelitian Leo Baekeland (Belgia) selama tahun 1907-1909, yaitu dengan ditemukannya &lt;i&gt;Bakelite&lt;/i&gt;. Selanjutnya plastik mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1940-an mula-mula di Jerman, kemudian diikuti Jepang dan negara industri lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penggunaan plastik demikian cepat berkembang dan merambah ke berbagai bidang kegiatan dari yang sederhana misalnya untuk tali (rafia), plastik pembungkus sampai ke peralatan modern seperti komponen listrik, mesin, dan berbagai macam peralatan lainnya. Hal ini karena plastik memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan lainnya, yaitu ringan, tidak menyerap air, tahan karat, dan tidak membusuk. Sehingga hampir tidak ada bahan yang tidak bisa digantikan oleh plastik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Sampah Plastik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sifat-sifat yang menjadikan plastik memiliki keunggulan dibandingkan bahan lain, sekaligus juga menjadikan plastik sebagai sumber masalah yang rumit. Akibat sifatnya yang tidak bisa membusuk, tidak terurai secara alami, dan tidak menyerap air, menyebabkan sampah plastik dalam aktifitas sehari-hari semakin meluas, seperti untuk perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, dan kantor, mainan anak-anak serta berbagai bentuk kemasan. Disamping menimbulkan pencemaran secara fisik, beberapa bahan plastik tertentu juga menyebabkan pencemaran kimiawi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Secara fisik, sampah plastik bisa menyumbat saluran air, mengotori lingkungan, mengakibatkan pendangkalan sungai dan mengganggu struktur tanah. Sampah plastik yang terkumpul dalam tanah akan membentuk lapisan kedap air, sehingga mengganggu masuknya air ke dalam tanah. Gangguan masuknya air ke dalam tanah bisa mengakibatkan banjir di musim hujan. Sementara jika lapisan sampah palstik berada dibawah tanah yang ditumbuhi tanaman akan menyebabkan tanaman tersebut kesulitan untuk mendapatkan air sehingga pertumbuhannya terganggu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pencemaran plastik secar kimiawi akan terjadi bila ada pembakaran sampah plastik. Bahan plastik yang mengandung klorin, misalnya polivinilklorida (PVC) jika dibakar akan mengeluarkan asap pedas yang mengandung bahan-bahan organoklorin yang membahayakan kesehatan, seperti  gas hydrogen klorida (HCl) dan dioksin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gas HCl bila terhisap paru-paru bersama butir-butir air yang ada di udara akan menghsilkan asam klorida cair yang sangat korosif. HCl juga bisa bereaksi dengan bahan-bahn campuran dalam PVC yang ikut terurai ketika dibakar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi yang kebetulan menggunakan kosmetik, asap pembakaran kosmetik bisa membahayakan karena bisa bereaksi dengan bahan yang terkandung dalam kosmetika yang digunakan. Seperti pada kebakaran yang pernah terjadi di Beverly Hill tahun 1977. Asap putih yang keluar dari bahn PVC yang terbakar bereaksi dengan pewarna kuku, sehingga orang-orang yang kebetulan menggunakan pewarna kuku menderita luka-luka di kukunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahan berbahaya lain yang dihasilkan dari pembakaran plastik PVC adalah dioksin yang bisa merusak kesehatan dan diduga bisa  menyebabkan penyakit kanker. Dioksin yang masuk ke dalam tubuh, sekalipun dengan dosis rendah, bisa menimbulkan gangguan system reproduksi, system kekebalan dan gangguan hormonal. Dioksin dalam tubuh ternak disimpan dalam lemak, sehingga jika manusia menkonsumsi daging ternak, terutama lemaknya akan terkontaminasi dioksin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam penelitian menggunakan binatang percobaan, terbukti dioksin bisa menyebabkan penyakit kanker. Belum bisa dipastikan apakah dioksin juga menyebabkan penyakit kanker pada manusia. Karena penelitian terhadap para veteran perang Vietnam tidak ditemukan kasus kanker. Padahal dalam perang tersebut digunakan herbisida &lt;i&gt;Orange Agent&lt;/i&gt; yang mengandung dioksin untuk merontokkan daun-daun pohon huatn tropis agar tidak dijadikan tempat persembunyian gerilyawan Vietcong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Daur Ulang Plastik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemikiran untuk mendaur ulang sampah plastik bermula dari menipisnya persediaan minyak bumi sebagai penghasil naphta. Selama ini naphta merupakan bahan baku utama dalam industry plastik. Setelah terjadi krisis minyak dunia pada tahun 1973/1974, para ahli mulai berpikir untuk mencari bahan baku alternative pengganti naphta. Beberapa bahan yang dicoba antara lain batu bara, kalsium karbid, dan bahan kimia sintesis lainnya. Karena ternyata biaya produksinya menjadi lebih mahal, maka kemudian milai dicoba mendaur ulangkan sampah plastik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam proses daur ulang sampah plastik tersebut ada yang langsung digunakan sebagai bahan baku atau bahn pengisi (&lt;i&gt;filler&lt;/i&gt;) tanpa pengolahan terlebih dahulu. Ada yang diolah terlebih dahulu dengan proses tertentu sebelum digunakan dalam pembuatan plastik. Dengan proses daur ulang ini biaya produksi plastik jadi lebih murah dibandingkan dengan jika hanya menggunakan bahan baku dari naphta. Keuntungan lainnya, industry plastik tidak terlalu tergantung pada industry petrokimia hulu sebagai penghasil naphta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Latar belakang lain yang mendesak semakin pentingnya proses daur ulang plastik adalah semakin meningkatnya penggunaan plastik. Menurut majalah &lt;i&gt;Hidrocarbon Processing&lt;/i&gt; (Desember 1989), sampai tahun 2000 dibakar. Padahal seperti sudah disinggung di muka, pembakaran bahan plastik, apalagi dalam jumlah yang besar, dapat menghasilkan bahan-bahan berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Negara-negara maju umumnya mengolah kembali sampah plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat. Banyak produk-produk yang bisa dibuat denagn bahan campuran dari sampah plastik dan bahan baku plastik atau hanya dengan bahan dari sampah plastik. Sebagai contoh, tikar plastik bisa dibuat dengan menggunakan bahan baku 70 % dari sampah plastik dan 30 % dari bahan plastik. Di Swedia, sampah plastik dimanfaatkan untuk membuat bata plastik yang lebih kuat dari bata biasa. Sementara di Inggris dan Italia, bahan dari sampah plastik dipergunakan untuk membuat tiang-tiang telepon yang sebelumnya dibuat dari kayu atau besi. Berdasarkan penelitian, tiang-tiang dari bahan sampah plastik tersebut bisa menyangga beban sampai 300 kilogram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Melihat potensi pemanfaatan hasil daur ulang sampah plastik, maka sebenarnya sampah plastik tidak hanya merupakan sumber masalah, tetapi juga memberikan peluang bisnis. Sebagai contoh, di bidang pertanian banyak perlengkapan yang bisa dibuat dengan hasil daur ulang sampah plastik, misalnya mangkuk penampung lateks untuk perkebunan karet, serat plastik untuk pertanian hidroponik, kantong plastik untuk penyemaian bibit, tali plastik, dan sebagainya. Bisnis daur ulang sampah plastik juga akan ikut membuka lapangan kerja baru, karena untuk pengumpulan plastik, pengolahan sampai pemasarannya memerlukan jaringan usaha tersendiri dari pemungut (pemulung), pengumpul, industry pengolah sampah plastik, dan distributor produknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi yang tidak tertarik dengan bisnis sampah plastik, dengan mengetahui potensi bisnis daur ulang sampah plastik ini diharapkan tidak lagi membuang sampah plastik secara sembarangan, melainkan mau mengumpulkan dan memberikannya kepada para pemunut sampah plastik. Sehingga disamping menghindari pencemaran lingkungan oleh sampah plastik sekaligus juga memberikan rizki bagi orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para pemungut sampah plastik semestinya juga patut dihargai, sebab usaha mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan, meskipun mereka melakukannya semata-mata untuk mencari nafkah tanpa kesadaran untuk mengatasi maslah lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0.14in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah staf Pusat Studi Lingkungan Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-9214304839339050905?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/9214304839339050905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=9214304839339050905&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/9214304839339050905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/9214304839339050905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/03/daur-ulang-plastik.html' title='DAUR ULANG PLASTIK'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33581925.post-7719051846915888074</id><published>1995-09-25T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-03-04T01:15:46.553-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peduli Lingkungan'/><title type='text'>ALTERNATIF PAJAK LINGKUNGAN-SOSIAL BUAT INDUSTRI</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Republika - Rabu, 20 September 1995&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;Achmad Marzoeki, ST&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Alumnus Teknik Kimia Undip, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Staf Pusat Studi Lingkungan Unisma Bekasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tekad pemerintah dalam PJP II ini untuk menjadikan industri sebagai 'ujung tombak' perekonomian Indonesia. Hal ini wajar mengingat perkembangan industri selama PJP I memiliki angka pertumbuhan rata-rata 12% tiap tahun. Selain itu, peran industri dalam perkonomian Indonesia selama PJP I juga berkembang cukup pesat. Jika pada 1969 (awal PJP I) peran industri baru mencapai 9,2%, maka pada 1991 (akhir PJP I) peran industri mencapai 21,3% (GBHN 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PJP II yang ingin menciptakan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia maju dan mandiri, sasaran yang hendak dicapai bukan hanya pertumbuhan ekonomi saja, melainkan juga adanya peningkatan kegiatan ekonomi rakyat, kesempatan usaha, lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Agar sasaran ini bisa tercapai, perlu ada kerjasama erat antarpelaku ekonomi. Seiring dengan tekad menjadikan industri sebagai ujung tombok perekonomian Indonesia, para pengusaha di bidang industri seharusnya juga bisa menjadi pelopor dalam memiliki kepedulian besar terhadap sasaran PJP II itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Paradoks industrialisasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Industrialisasi di Indonesia di samping mampu memacu pertumbuhan ekonomi juga melahirkan beberapa masalah paradoksal. Di bidang ekonomi, menurut Didik J. Rachbini, permasalahan yang biasanya muncul di daerah pertumbuhan industri adalah &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;poverty insident&lt;/span&gt;, ketidakterkaitan, kantong kemiskinan dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;dual-track economy&lt;/span&gt;. Poverty insident adalah kasus kemiskinan yang justru muncul bersamaan dengan tumbuhnya industri yang disebabkan faktor-faktor mikro ekonomi atau persoalan makro politik. Ketidakterkaitan bisa terjadi antara perkembangan industri modern dengan basis ekonomi dan sosial masyarakat yang sebenarnya di daerah pertumbuhan industri tersebut. Hal ini akan membawa akibat perkembangan yang tidak merata antara industri dan sektor ekonomi lainnya, sehingga menimbulkan persoalan kesenjangan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kantong kemiskinan muncul akibat adanya kesenjangan antara basis ekonomi dan sosial masyarakat yang masih tradisional dengan industri yang berteknologi modern. Karena sumber tenaga kerja dari masyarakat yang masih tradisional sulit memasuki pasaran kerja di sektor industri, terjadilah pengangguran yang menjadi cikal bakal munculnya kantong-kantong kemiskinan. Dual-track economy terjadi akibat perkembangan industri didominasi oleh faktor-faktor eksternal. Akibatnya, pelaku-pelaku ekonomi dari luar lebih dominan dari pelaku-pelaku ekonomi dari daerah itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang terbelah dan bahkan berlawanan arah (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;dual-track economy&lt;/span&gt;). Dinamika industri yang didorong para pelaku dari luar mengalami kemajuan pesat, sementara basis ekonomi asli daerah tersebut tumbuh tersendat-sendat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan paradoksal juga terjadi dalam hal penggunaan sumber daya alam (SDA). Industri di satu pihak telah menarik banyak keuntungan dari pemanfaatan SDA dan sebaliknya banyak memberikan andil dalam terjadinya pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan. Sementara di pihak lain, masyarakat yang tidak mendapatkan manfaat langsung dari industri, bahkan mungkin tidak tahu apa-apa tentang industri, harus ikut menanggung akibat pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan tersebut. Bahkan justru mereka yang lebih berat menanggungnya. Situasi paradoksal ini akan lebih jelas terlihat di kawasan muara sungai yang menjadi sasaran pembuangan limbah, seperti bisa kita saksikan di Muara Gembong, Bekasi, atau pantai utara Jawa lainnya. Penduduk di kawasan tersebut, yang masih terbiasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan MCK, paling banyak menanggung akibat tercemarnya sungai-sungai yang dijadikan tempat membuang limbah industri. Padahal, mereka sendiri tidak ikut merasakan manfaat apa-apa dari banyaknya industri di daerah hulu. Sementara pemilik pabrik yang membuang limbahnya dan mendapat keuntungan dari pengoperasian pabrik tidak merasakan akibat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan paradoksal lain yang juga perlu diantisipsi adalah &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;cultural lag&lt;/span&gt; (adanya kesenjangan antara budaya material dan budaya perilaku). Hal ini terjadi karena proses pendidikan yang kurang merata di semua lapisan masyarakat. Sementara produk-produk teknologi maju dengan cepat menyebar ke tengah masyarakat. Keadaan ini tidak terkecuali juga terjadi di daerah-daerah pertumbuhan industri seperti di Bekasi. Sementara sebagian masyarakat sudah hidup dengan gaya modern, masih ada sebagian masyarakat lain yang hidup dengan gaya tradisional, seperti buang air di sungai atau pekarangan, meskipun sudah ada fasilitas MCK umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pertimbangan-pertimbangan makro ekonomi, industrialisasi dilaksanakan meski melahirkan berbagai persoalan paradoksal itu. Padahal, pertumbuhan makro ekonomi sering tidak signifikan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Apalagi bila peran modal asing untuk memacu pertumbuhan itu sangat besar, sehingga menyebabkan selisih yang besar antara Produk Domestik Bruto (PDB) dengan Produk Nasional Bruto (PNB). Ini berarti nilai &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;net factor income from abroad&lt;/span&gt; (balas jasa yang diterima oleh faktor produksi milik orang asing) juga cukup besar pula. Kenyataan inilah yang menjadi pemicu munculnya isu tentang pemerataan karena pembangunan sepertinya menganakemaskan pemilik modal dan hanya mengimbau masyarakat untuk rela berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Komitmen pada pemerataan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, sebagai konsekuensinya komitmen pada pemerataan mesti ditumbuhkan pada segenap lapisan masyarakat, khususnya yang memiliki basis ekonomi kuat. Para pengusaha yang bergerak di bidang industri di samping telah banyak memanfaatkan SDA Indonesia juga sudah cukup banyak mendapat bantuan dari pemerintah, baik yang berwujud subsidi, proteksi, dan serangkaian paket deregulasi serta debirokratisasi sehingga bisa berkembanga pesat. Perkembangan pesat ini telah melahirkan konglomerasi dan menumbuhkan kesan adanya monopoli dan oligopoli oleh pengusaha tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat latar belakang perkembangan, sudah selayaknya para pengusaha di bidang industri untuk 'balas jasa' atas segala fasilitas yang pernah mereka terima. Dalam arti ikut membantu lapisan masyarakat lain yang masih hidup di bawah standar hidup yang layak. Kenyataannya, masih belum banyak pengusaha yang tergerak dan punya komitmen pada pemerataan. Imbauan Presiden Soeharto kepada para konglomerat untuk menghibahkan sebagian sahamnya bagi koperasi, misalnya, kurang mendapat sambutan. Patut ada kekhawatiran terhadap mereka akan menjadi 'malin kundang' terhadap bangsa dan negara Indonesia. Mereka telah menikmati kekayaan alam Indonesia, dibesarkan dan diberi banyak fasilitas oleh pemerintah, namun ketika diajak ikut memperhatikan kepentingan masyarakat, terkesan banyak bertingkah seperti pada kasus semen dan kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, ada juga konglomerat yang punya kepedulian terhadap permasalahan masyarakat kelas bawah. Misalnya pernah ada 'Kesepakatan Hilton' pada 1984 dari para pengusaha besar untuk membantu para pengusaha kecil. Atau di penghujung Agustus lalu lahir 'Deklarasi Bali' yang diikuti dengan usul Eka Tjipta Widjaja agar para pengusaha besar berpenghasilan Rp 100 juta ke atas menyisihkan 2% penghasilannya untuk membantu para pengusaha kecil. Persoalannya, sejauh mana tindak lanjut pernyataan tersebut? Apakah bisa direalisasikan atau sekadar promosi untuk menaikkan kredibilitas pengusaha yang bersangkutan di mata masyarakat maupun pemerintah. Kenyataan di lapanganlah yang nanti membuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting jadi catatan kita semua, semestinya setiap warga negara memiliki hak yang sama atas pemanfaatan SDA sesuai dengan yang digariskan dalam pasal 33 UUD 1945. Jika terjadi pencemaran di suatu tempat, penduduk kawasan tersebut kehilangan hak atas SDA. Pihak yang melakukan pencemaran itu sekaligus telah 'merampas' hak atas SDA orang lain. Maka, semestinya ada kompensasi dari pihak 'perampas' kepada yang 'terampas'.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Pajak lingkungan dan sosial &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam setiap investasi di bidang industri agaknya perlu dimasukkan komponen pajak lingkungan dan pajak sosial. Pajak lingkungan perlu dikenakan terhadap industri karena kegiatan industri telah menyebabkan pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan. Penarikan pajak ini bisa menjadi sumber biaya untuk mengatasi permasalahan pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan. Pajak sosial juga perlu dikenakan terhadap industri sebab secara langsung atau tidak kegiatan industri juga ikut melahirkan permasalahan sosial. Keberadaan industri di samping butuh daya dukung lingkungan juga perlu daya dukung sosial. Tanpa lingkungan sosial yang baik, mustahil industri bisa berkembang. Pajak sosial diharapkan bisa menjadi sumber biaya untuk kegiatan peningkatan daya dukung sosial bagi industri. Sehingga bisa meminimalisasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;cultural lag&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu ide ini akan mengundang pro dan kontra. Penambahan komponen pajak ini bisa dianggap akan mengurangi minat investor menanamkan modalnya di Indonesia. Tambahan pajak itu akan membuat profit margin lebih kecil, atau jika harus dipertahankan membawa konsekuensi pada kenaikan harga produk yang akan mengurangi kemampuan bersaingnya di pasaran. Kekhawatiran ini wajar tapi tidak perlu sampai berlebihan, melebihi kekhawatiran terjadinya kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial di tengah proses industrialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fakta bahwa belum semua industri memiliki dan mengoperasikan UPL (Unit Pengolah Limbah). Kalaupun limbah diolah hingga sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan, apakah volumenya juga diperhatikan? Yang dimaksud dengan pengolahan limbah dalam praktiknya mungkin hanya pengeceran limbah, sehingga limbah sudah sesuai dengan baku mutu limbah. Namun, dengan volume yang besar pada dasarnya limbah tersebut belum memenuhi syarat baku mutu limbah. Jika hal ini terus berlangsung, siapa yang akan bertanggungjawab atas pencemaran yang efeknya bisa terkena pada masyarakat? Pajak lingkungan diharapkan bisa menjadi perwujudan tanggung jawab atas kelestarian lingkungan yang realistis dari para pengusaha di bidang industri, yang besarnya bisa dikaitkan dengan jenis, volume, dan kadar limbah yang dibuang pengusaha pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi juga sangat rawan terhadap permasalahan sosial mulai dari alih profesi para petani yang tanahnya dijadikan tempat industri, UMR yang belum mencukupi kebutuhan fisik minimum, kecemburuan sosial dari penduduk terhadap pendatang, dsb. Semua ini bisa membawa implikasi meningkatnya tindak kriminalitas dan gangguan stabilitas keamanan. Untuk menghindari hal ini diperlukan kegiatan penyuluhan, pelatihan ketrampilan, agar masyarakat bisa memiliki peluang kerja di tengah proses industrialisasi sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton pasif, atau selalu menjadi obyek yang disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya manfaat dari kedua jenis pajak ini, jika dijalankan dengan benar, akan berpulang kembali kepada para pengusaha industri juga. Sebab dengan daya dukung lingkungan dan sosial yang kuat, industri akan lebih mampu berkembang. Kalau ada investor jadi kurang berminat untuk menanam modalnya hanya karena tambahan kedua pajak itu, patut dipertanyakan komitmennya terhadap kemajuan bangsa kita. Bukankah hakikat pembangunan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya? Sehingga meskipun kita menargetkan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi, masalah pemerataan tidak boleh diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerataan memang tidak identik dengan rata-rata, semua mendapat bagian sama. Tapi, yang lebih penting semakin meluasnya lapisan masyarakat yang bisa ikut menikmati hasil pembangunan dan semakin sedikitnya kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Karena itu proses industrialisasi juga harus berimbang dalam memperhatikan kepentingan pihak-pihak investor dan masyarakat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33581925-7719051846915888074?l=achmadmarzoeki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/feeds/7719051846915888074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33581925&amp;postID=7719051846915888074&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7719051846915888074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33581925/posts/default/7719051846915888074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://achmadmarzoeki.blogspot.com/2008/01/alternatif-pajak-lingkungan-sosial-buat.html' title='ALTERNATIF PAJAK LINGKUNGAN-SOSIAL BUAT INDUSTRI'/><author><name>Achmad Marzoeki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18250732914898552281</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_c73cfIaLpJo/SqIQwE1LaqI/AAAAAAAAADY/Kshjmu_-fWA/S220/IKLAN+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
